Strong : 3. Problem

Main Cast : Park Jiyeon, Choi Minho

Genre : romance adult
.

.

.

Note : Maafkan author yang begitu lama post ff karena kemarin author lagi sibuk liburan hehe :3 jangan lupa rcl yaaa dan kalau ada yang mau kasih saran untuk cerita ini juga boleh :v author udah down materi ewww… thanks

.

.

” Park Jiyeon! Berlarilah lebih cepat!” Teriak Guru olahraga sambil menatap kesal kearah yeoja berkacamata yang terlihat begitu kelelahan. Hari itu mereka mengambil nilai untuk pelajaran olahraga dengan menghitung waktu lari mengelilingi lapangan dan sudah dapat ditebak siapa yang datang paling akhir. Jiyeon lemah disemua jenis olahraga. Saat sampai didepan songsaengnim, ia membersihkan keringatnya dan beberapa temannya terlihat menatapnya dengan wajah sinis dan tersenyum mengejek.
“Dasar lemah!” Mereka mengejeknya seperti itu. Sepasang mata menatap Jiyeon yang terlihat menunduk malu dengan nilai yang ia raih, nilai paling rendah diantara teman-temannya 65 dan begitu dibawah rata-rata nilai ulangan.
Dalam mata pelajaran olahraga, dua kelas akan digabung karena mengejar jadwal sekolah yang begitu padat. Jiyeon bukan hanya ditatap rendah oleh teman-teman dikelasnya, dari kelas lain pun ia diberikan senyuman penghinaan membuatnya merasa begitu rendah dan tersenyum pahit. Seandainya ia terlahir normal dan seandainya ia-
” aku akan menukarkan nilai lariku dengannya.” Semua mata tertuju pada asal suara dan beberapa memekik terkejut. 
Minho berdiri sambil menatap dingin kearah songsaengnim olahraga mereka yang awalnya juga ikut menatap rendah Jiyeon, songsaengnimnya menatap tidak terima kearah Minho.
” kau yakin? Dari seluruh kelas kau hanya kau yang mendapatkan nilai sempurna dan hanya kau yg memecahkan rekor pelari di sekolah ini. Kau ingin mengorbankan nilaimu untuk gadis ini?” Minho mendengus.
” kau tidak dengar apa yang ku katakan pak tua? Aku bilang tukarkan nilai lariku dengannya.” Ketus Minho lalu berjalan keluar dari lapangan olahraga.
semua mata mengikuti langkahnya sampai menghilang dari pandangan. Jiyeon yang juga terkejut menatap dengan wajah menganga kearah guru olahraganya yang juga menganga menatapnya.
Kemudian ia menoleh dengan masih menganga dengan murid kelasnya yang sama menganga dengannya, dan mungkin hari itu mereka habiskan dengan menganga karena kelakuan ajaib Minho.
Dan berita itu tersebar begitu cepat seperti wabah.

***

Naeun duduk disamping Minho tepat Nana songsaengnim keluar dari kelas setelah mengajar pelajaran kimia dikelas selama hampir 3 jam. Minho terlihat begitu fokus dengan komik yang ia baca dan tidak memperdulikan Naeun yang kini menatapnya dengan lekat.
” Minho.”
“Eum…” 
” kemarin saat aku tidak masuk sekolah dan aku mendengar bahwa kau melakukan hal luar biasa kemarin. Kau mengorbankan nilaimu.”
” lalu?”
” kau gila? Untuk apa kau memperdulikan yeoja nerd sepertinya, kau tidak pernah perduli dengan siapapun sebelumnya apalagi yeoja sekelas Park Jiyeon. Ia bukan dari kalangan kita.” Naeun bersidekap sambil menatap Minho yang malah mengabaikannya.
” anggap saja aku gila.”
” kau tidak seperti ini sebelumnya.”
” aku rasa ini bukan urusanmu, Naeun. Jadi sebaiknya kau tidak mencampuri urusanku, karena kau tahu aku tidak suka ada yang mencampuri urusanku termasuk dirimu.” Minho beranjak dari bangkunya dan berjalan keluar kelas , Naeun menatap punggung Minho yang menghilang dibalik pintu. Sejak tadi ia mencoba menahan air matanya, biarpun Minho namja yang terbilang keras… namja itu tidak pernah melempar kekesalan ataupun kemarahan padanya. Dan sekarang ia melihat kemarahan dimata Minho… untuknya.
Apa bagusnya yeoja itu dari pada dirinya, Naeun memiliki segalanya dan mengapa Minho seolah lebih membela Park Jiyeon dibandingkan dirinya. Ia tahu bahwa sesuatu telah terjadi diantara Jiyeon dan Minho, ia akan segera mencari tahu hubungan macam apa yang sedang dijalani oleh minho dan Jiyeon. Tidak ada yang pantas untuk Minho selain dirinya, ia adalah yeoja paling pantas mendampingi Minho.
Naeun mencengkram ponselnya dengan penuh kemarahan dan keluar dari dalam kelas dengan wajah yang memerah. Ia akan membuat yeoja itu menyesal sudah berurusan dengannya.
.

.

.
Minho berbaring malas diatas kasur UKS, tidak memperdulikan lonceng tanda pelajaran dimulai sudah berbunyi. Saat itu suasana UKS benar-benar sepi, ia bahkan bisa mendengar suara detak jarum jam didinding dan Minho begitu mencintai suasana setenang ini. 
Ia membuka komiknya dan kembali tenggelam dalam bacaannya, ponselnya bergetar sejak tadi dan ia mengabaikannya saat melihat siapa yang menghubunginya. Belakangan ini ia benar-benar merasa sangat malas berada disekitar Naeun, yeoja itu membuatnya tidak nyaman entah mengapa. Naeun terlalu feminim dan yeoja itu terlalu dalam segala sesuatu.
Entah sejak kapan ia sering membandingkan Naeun dan Jiyeon, Jiyeon sangat pintar memasak dan Naeun bahkan tidak pernah memegang bawang ataupun menyentuh peralatan dapur, Jiyeon pintar membersihkan rumah dan Naeun bahkan tidak sudi memegang sapu, Jiyeon sangat cantik dan Naeun memang cantik namun kecantikannya adalah ciptaan dokter. 
Dari segi keibuan , Jiyeon jelas pemenangnya. Namun dari segi pandangan masyarakat kelas atas, Naeun adalah segalanya. Minho sangat tahu bahwa banyak namja kalangan atas yang menginginkan Naeun sebagai pendamping mereka. Naeun berasal dari keluarga kaya raya, garis keturunannya sangat sempurna dan sikapnya begitu sempurna dan tanpa cela sedikitpun.
Jiyeon, ia hanya gadis biasa dari keluarga tidak mampu, yang berhasil memikatnya. Minho tidak mengakui hal ini sebelumnya, namun jiyeon selalu membuatnya merasa nyaman dan hanya Jiyeon yang membuatnya merasakan perasaan begitu ingin memiliki saat ia melihat Jiyeon yang ceroboh untuk pertama kalinya. Jiyeon adalah ciuman pertamanya, Jiyeon adalah yeoja pertama yang berhubungan dengannya, Jiyeon yeoja pertama yang pernah berbaring disampingnya diatas kasurnya. 
Tidak ada satupun yeoja yang berhasil mengalihkan tubuhnya dari Jiyeon, Jiyeon memang gadis nerd namun kecantikannya adalah hal yang paling memikat dan hanya Minho yang menyadari kecantikan Jiyeon. Ia berpikir bahwa semakin berjalannya waktu ia akan bosan dan akan meninggalkan Jiyeon dan menjalankan kewajibannya untuk menikahi Naeun….
Namun, semakin hari perasaannya mulai berubah. Perasaan yang selalu ia coba untuk ia tolak, kemunculan Myungsoo membuat rasa itu seakan terdorong semakin kedepan. Dan ia tahu bahwa Jiyeon adalah aspek terpenting sekarang dikehidupannya, ia takut Jiyeon akan berubah dan malah memanfaatkannya saat tahu bahwa Minho telah terlanjur jatuh kedalam pesona yeoja itu.

***

Brak!
Jiyeon mengerang sakit saat yeoja-yeoja itu mendorong tubuhnya ke dinding toilet dengan sangat keras. Ia menatap mereka dengan ketakutan, mengapa mereka menyakitinya? Yeoja-yeoja itu menatapnya dengan begitu tidak bersahabat, dan jiyeon mengenali salah satunya sebagai teman sekelasnya yang bersahabat dekat dengan Naeun. 
Tadi setelah bel istirahat berbunyi, mereka menariknya dengan kasar menuju toilet dan beberapa kali dengan sengaja menjambak ranbutnya. Teman-teman yang ada dikelasnya hanya diam seolah tidak melihat apapun yang terjadi. Ya , mereka tidak pernah perduli pada pembullyan disekitar mereka. Dan walaupun ada yang perduli, mereka tidak akan berani untuk ikut campur.
” Jadi ini gadis tidak tahu diri yang merebut kekasih Naeun?” Seorang yeoja berkacak pinggang dihadapannya dengan wajah sinis.
” Ckck. Nerd ini? Kalian serius?”
” Ya. Naeun mengatakan bahwa gadis ini merebut Choi Minho darinya, apa yang bagus darimu? Ah… atau jangan-jangan kau menjual tubuhmu kepadanya?” Yeoja itu bernama Yuri, salah satu sahabat terdekat Naeun. Jiyeon akhirnya mengerti alasan dari pembullyan ini, mereka membullynya karena Minho berpihak kepadanya belakangan ini. 
” aku bukan pelacur.” Jiyeon menjawab dengan suara bergetar, walaupun ia sering merendahkan dirinya. Namun ia memang bukan pelacur dan ia tidak pernah menjadi seperti itu, hanya Minho yang dapat memilikinya.
” Kau berani menjawabku!” Yuri mencengkram wajahnya dan menyudutkannya ke tembok dengan kasar hingga Jiyeon mendengar suara benturan kepalanya yang cukup keras. Ia meringis namun tidak menangis.
Yuri menjambak rambutnya keras, Jiyeon mencoba melawan namun ia begitu lemah dan saat jambakan itu mulai terasa menyakitkan ia mengerang kesakitan. Matanya membulat saat melihat yuri mengambil sebuah gunting dari temannya.
Yuri menarik baju seragamnya dengan keras hingga beberapa kancing terlepas, dengan segera Jiyeon menutup tubuhnya dan Yuri mulai mengencangkan jambakan dan akan memotong rambutnya.
Jiyeon menatap hal itu dengan tersiksa, rambutnya adalah hal yang paling dicintai oleh Minho. Mereka tidak boleh menghilangkannya.
” j..jangan potong rambutku! Aku mohon!”
” haha! Rambut jelek seperti ini memang harus dimusnahkan!”
” Aku mohon! T..tidak jangan…” jiyeon berteriak memohon sambil mencoba menahan tangan Yuri. Kemudian Jiyeon melihat beberapa helai rambutnya mulai berjatuhan dan bersamaan dengan itu sesuatu yang besar muncul dari dalam dirinya. Itu adalah rasa marah yang sangat besar.

***

Minho berjalan dengan malas menyusuri koridor sambil membawa tasnya dan bermaksud untuk pulang, ia sedang tidak bersemangat belajar dan tidak ada yang bisa menahannya jika moodnya sudah sangat hancur. Ia menatap datar kearah kerumbunan siswa yang berkumpul di toilet yeoja , Minho tetap berjalan dan mengabaikan hal itu. Pembullyan yang selalu terjadi pada siswa yang rapuh, namun Minho tidak ingin ikut campur karena ia hanya memperdulikan dirinya dan orang-orang disekitarnya.
Namun langkahnya terhenti saat seorang yeoja dengan penampilan yang sangat berantakan terlempar dari dalam toilet dengan rambut berantakan dan terlihat dipotong dengan begitu pendek dan mengerikan. Terdengar suara beberapa siswa yang mengeram terkejut.
Terdengar suara tangisan dan teriakan yeoja itu saat melihat rambut indahnya yang dipotong dengan sangat berantakan.
Minho menatap yeoja itu dengan tatapan yang tidak bisa didefiniskan, ia mendengar suara jeritan terkejut dari sampingnya. Naeun berdiri dengan wajah menganga dan menatap yeoja yang menangis itu dengan wajah penuh keterkejutan. Namun beberapa saat kemudian, dua orang yeoja lainnya keluar dari toilet dengan keadaan yang sama parahnya.
Dari dalam toilet, seorang yeoja keluar dengan rambut berantakan yang acak-acakan sambil memegangi gunting. Ia membenarkan letak kacamatanya. Tubuhnya bergetar dan wajah yeoja itu penuh air mata yang mengering.
Tatapan mereka bertemu, Minho dapat melihat kemarahan didalam mata itu. Dan seketika terdengar dentingan gunting yang terjatuh ke lantai, dan kemudian disusul dengan suara langkah kaki yang menjauh. Jiyeon berlari sambil menangis menjauhi semua orang. Minho yang masih terpaku hanya bisa diam dan beberapa detik kemudian ikut berlari untuk menyusul Jiyeon.
Setelah ini yeoja itu dalam masalah besar, Yuri pasti akan menghubungi orang tuanya. Dan minho sangat tahu bahwa orang tua Yuri adalah pembisnis yang sangat berpengaruh diperekonomian korea, dan juga bandar narkoba yang sangat ditakuti. Mereka tidak segan membunuh jika merasa sangat marah.
Minho agak terkejut, Jiyeon dapat mengalahkan Yuri yang notabennya adalah puteri tunggal dari Bos Mafia paling berpengaruh dikorea. Bukan rahasia lagi jika Yuri menguasai bela diri yang lumayan tinggi, namun Jiyeon bisa mengalahkannya. Jiyeon memang penuh rahasia.
.

.

 
Jiyeon menangis di gudang tua belakang sekolah, ia menatap tangannya dengan penuh penyesalan. Ia benar-benar menjadi seorang monster dihadapan Minho, orang yang sangat ia cintai. Jiyeon terkejut saat merasakan sesuatu membungkus tubuhnya, Minho muncul dengan membawa tas dipunggungnya dan menatap Jiyeon dengan ekspresi yang tidak dapat ditebak.
Minho duduk disampingnya, ia menatap kearah Jiyeon. Tangannya terangkat untuk membelai rambut Jiyeon, ia dapat melihat beberapa bagian yang tidak rata dirambut Jiyeon. Sepertinya mereka berhasil memotong rambutnya, Minho menatap rambut Jiyeon dengan rasa bercampur aduk antara senang dan sedih. Senang karena mereka tidak sempat memotong rambut Jiyeon menjadi lebih buruk lagi dan sedih karena mereka berhasil membunuh beberapa  bagian rambut Jiyeon. Minho berjanji mereka akan membayar helai demi helai rambut Jiyeon yang hilang dengan tangisan mereka.
” kau sangat mengagumkan.” Hanya itu yang bisa Minho katakan. Jiyeon masih terdiam dengan tangisannya.
” aku mengerikan jika itu yang sebenarnya kau maksud.” Jiyeon menutup wajahnya malu, Minho terkekeh dan tanpa ragu merangkul Jiyeon dan membawa yeoja itu kedalam pelukannya. 
” Tidak, kau memang mengagumkan. Aku tidak tahu kau menguasai bela diri yang cukup tinggi.” 
” aku suka melihat pertandingan bela diri dengan sembunyi-sembunyi.” Jawab Jiyeon sambil menghapus air matanya.
” Aku tidak yakin kau sehebat itu hanya dengan melihat.” Jiyeon terdiam sesaat kemudian menundukkan wajahnya, minho tersenyum dan merangkul Jiyeon dengan erat.
” Kau penuh rahasia, namun jika kau memang tidak ingin berbagi denganku itu tidak masalah.” Minho tersenyum. 
” aku akan menjemputmu malam nanti, aku tahu salon yang bagus dikota ini.”
” itu tidak perlu.”
” sangat perlu, rambutmu harus dirapikan kembali.” 
Jiyeon menatap tangan Minho yang menggenggam jemarinya dan menariknya untuk berdiri. Entah mengapa belakangan ini Minho menjadi lebih lembut dan sangat perhatian padanya, Minho terlihat berbeda. Jiyeon merasa perhatian Minho padanya setara dengan perhatian Minho kepada Naeun. Dan kemarin namja itu mengikutinya di instagram yang diikuti oleh banyak followers lain yang begitu penasaran siapa ia yang begitu beruntung diikuti kembali oleh minho.
Minho memberikan lumatan dibibirnya dan kemudian melepaskannya secepat kilat.
” kajja.”
” n..nde”

***

Jiyeon masuk kedalam mobil sport hitam yang terparkir rapi didepan rumahnya. Bau parfum yang digunakan Minho memenuhi mobil, bau familiar yang sangat Jiyeon sukai.  Minho memakai kaos hitam dan celana jeans santai yang membuatnya terlihat begitu tampan dan jangan lupa kacamata hitam mahal yang sedang namja itu gunakan.
Sedangkan jiyeon, menggunakan baju sederhana dengan rambut yang ia kuncir dua walaupun ada beberapa helai rambut yang terlepas dan tidak rapi berkat salon dadakan dari Yuri. 
” kau siap?”
” tentu saja.”
Jiyeon menatap keluar jendela sambil memikirkan pembicaraannya tadi sore dengan Lee Sajangnim. Ia berharap namja paruh baya itu benar-benar hadir untuk membantunya besok, setidaknya hanya Lee Sajangnim yang dapat membantunya sekarang. Jiyeon tidak ingin menambahkan masalah untuk Minho, walaupun ia sangat yakin Minho pasti akan membantunya.
Namun ia sudah terlalu banyak merepotkan Minho.
” aku dengar kau mendapat surat panggilan?” Minho membuka pembicaraan.
” ya, begitulah.”
” kau takut?”
” anni, aku akan baik-baik saja.”
” kau tenang saja, aku tidak akan membiarkan mereka menyudutkanmu.” Minho tersenyum padanya, membuat Jiyeon terdiam sesaat. Ia merasa terhipnotis oleh senyuman tampan yang ditunjukkan Minho padanya.
Belakangan ini Minho lebih sering tersenyum dan begitu hangat.
” Aku tidak mau merepotkanmu. Aku baik-baik saja Minho.”
” Keluarga Yuri bukan orang sembarangan Jiyeon. Mereka bisa membahayakanmu.” Jiyeon tersenyum.
” aku tidak akan takut, mereka yang lebih dahulu menarikku dan membullyku” jiyeon menunduk. 
” aku tidak akan membiarkan mereka menyakitimu selagi kau masih bersamaku. Aku akan menjaga apa yang masih kumiliki.”
” kau hanya harus belajar tidak memperdulikanku. Seperti yang sering kau katakan hubungan kita tidak akan kekal.” Kemudian tidak ada percakapan dari Minho. Namja itu terdiam dengan banyak hal yang memenuhi kepalanya.

***

Jiyeon pov

Minho membawaku ke sebuah Salon ternama, salon dengan bangunan yang begitu megah dan hanya yeoja kalangan atas yang masuk ketempat ini. Kami dibawa ke suatu ruangan, tiga orang yeoja berdiri dengan wajah ramah dan memakai seragam yang sama. Minho berjalan kearah meja diikuti olehku yang masih terdiam bingung melihat tempat ini, aku yakin biaya merawat disini bahkan bisa membeli rumahku.
Minho membuka majalah dan melihat potongan-potongan rambut terbaru disana. Sejak dulu ia memang selalu memilihkan potongan rambut yang bagus untukku, dan biasanya aku akan pergi ke salon milik salah satu kenalan Minho. Namun Nyonya Sang menutup salon miliknya dan memutuskan untuk membuka salon yang lebih besar lagi diluar negeri. Dia wanita paruh baya yang sangat ramah dan tidak memandang kelas jika berteman.
Minho memilih sebuah potongan rambut yang tidak terlalu pendek, namun ada yang berbeda dari potongan rambut itu. Aku akan menggunakan poni. Biasanya Minho akan memilih potongan rambut yang selalu sama persis setiap tahunnya, namun kali ini ia memilih yang berbeda.
Para yeoja itu membawaku kesebuah ruangan dan mulai meratakan rambutku, satu diantaranya memberikan pijatan lembut dikakiku dan salah satunya lagi mencuci rambutku. Salon ini begitu mewah.
Entah berapa jam yang kuhabiskan didalam tempat ini, aku tidak tahu berapa lama Minho sudah menungguku dan aku tahu bahwa ia adalah namja yang mudah bosan. 
” tenang saja, ia masih menunggu didepan.”
“Hmm?” Aku menatap bingung kearah yeoja yang sedang memijat lembut pundakku.
” kekasihmu, anak emas keluarga Choi.”
” d..dia bukan kekasihku.”
” kau tidak perlu berbohong. Kalian tentu saja pasangan kekasih, tatapan kalian begitu penuh cinta.”
” d..dia sudah memiliki tunangan.” Ucapku gagap.
” selagi belum menikah, kau masih bisa menjadikannya milikmu.” Jawaban karyawan itu membuatku terdiam. Mereka memang belum bertunangan, namun sama saja. Minho adalah milik Naeun sejak namja itu dilahirkan kedalam dunia.
Aku cukup sadar akan hal itu.
Aku tahu diri.
Suatu saat nanti, Minho akan menjadi patah hati terbaikku. Suatu saat nanti…
Mereka memberikanku sebuah gaun berwarna putih yang tidak terlalu terbuka namun tampak begitu mewah dan cocok untuk remaja sepertiku. Aku menatap gaun itu dengan bingung, namun mereka hanya tersenyum. 
” kau sangat cantik! Ia tidak akan menyesal menunggumu begitu lama.” Aku lumayan menyukai karyawan disalon ini, mereka sangat ramah dan begitu berteman. Aku hanya tersenyum mendengar ucapannya.
” setiap tirai dibuka, matanya selalu menatap tirai seolah menantimu. Ia benar-benar type namja yang setia.”
” d..dia memang setia.”
” gadis itu sering kemari bersamanya.” Tiba-tiba pelayan itu berkata membuatku menatapnya dengan bingung. Ia masih sibuk menata rambutku.
” aku tidak tahu siapa. Mungkin gadis yang kau bilang sebagai tunangannya? Gadis itu dan ia sering pergi kemari. Namun aku tidak pernah melihat namja itu begitu berharap seperti sekarang, wajahnya begitu bersemangat menunggumu.” Aku hanya diam.
” maafkan aku jika terlalu mencampuri, tatapan yang ia berikan padamu sama persis seperti tatapan yang selalu diberikan suamiku untukku. Sudah lama aku tidak melihat tatapan seperti itu, sejak suamiku meninggal dunia beberapa tahun yang lalu.” Hatiku sedikit tersentak mendengarnya. Aku menatapnya dengan tatapan menguatkan.
” kau begitu mencintainya.”
” begitu juga dengannya. Ia meninggal karena mendonorkan jantungnya untukku.” Aku kembali tersentak, tubuhku kaku seketika.
” kecelakaan yang kami alami membuat jantungku rusak parah, sedangkan suamiku hanya mengalami luka ringan saat itu. Namun diakhir ia memutuskan mendonorkan jantungnya untukku.” Ia menghapus air matanya perlahan dan mencoba tersenyum. 
” kau yeoja yang kuat.” Ucapku. Ia tersenyum padaku.
” aku hanya ingin mengatakan padamu, bahwa kalian saling mencintai. Kau akan menyesal melepaskannya, dan ia akan menyesal melepaskanmu. Saat namja menatap yeoja dengan tatapan seperti itu, namja itu sudah meletakkan hatinya ditangan yeoja itu dan yeoja itu yang akan menentukan bagaimana hati itu diletakkan. Namja itu bahkan rela mengorbankan nyawanya untukmu.” Aku tertawa canggung mendengar ucapannya. 
” ia tidak seperti itu.”
” waktu akan menentukan kemana kau akan berlabuh.”
Saat itu hanya kami yang berada didalam ruangan itu, hingga ia dapat berbicara dengan nyaman padaku. Aku menatap pantulan diriku didepan cermin dengan senyuman.
” kau cantik. Lain kali datanglah berkunjung! Aku akan sangat senang memiliki teman sepertimu.” Ia tersenyum padaku dan memberikan sebuah kartu nama padaku, ia yeoja yang tidak terlalu tua. Mungkin hanya baru menginjak 25 keatas?
‘SANDARA PARK’ 
” kau pemilik salon ini?” Aku berkata dengan terkejut membuatnya tertawa.
” aku pemilik merangkap karyawan disini.” Ia tertawa.

***

Sejak tadi Minho tidak berhenti mencuri pandang kearahku dan menggenggam tanganku dengan sangat erat. Perlakuannya membuatku merasa seperti menjalani kencan pertama. Tidak! Ini memang kencan pertama kami, kencan dengan berpegangan tangan dan tatapan malu-malu seperti remaja biasanya.
” kau cantik.” Akhirnya ia membuka suara.
” secantik biaya yang kau keluarkan.” Keluhku sambil menatap gaunku dengan tidak enak, aku tidak bisa mengatakan seberapa banyak yang ia keluarkan tadi. Yang pasti, aku seketika terdiam saat melihat nominal uang itu.
” Namun hanya malam ini kau bisa berpenampilan seperti ini. Aku tidak ingin ada namja yang melihatmu seperti ini, hanya aku yang boleh.” Ucapnya dengan sangat posesif. Aku merasakan rangkulan hangatnya dipundakku.
” termasuk Myungsoo. Aku tidak mau ia melihatmu dengan penampilan berbeda.”
” kau terdengar seperti namja pencemburu.”
” ya aku memang begitu cemburu jika menyangkut dirimu.” Aku terdiam setelahnya.
Kami masuk kedalam mobil, ia memasangkan sabuk pengaman ketubuhku. Aku dapat merasakan hembusan nafasnya diwajahku, ia menatapku dengan lekat.
” aku ingin menciummu.” Dan setelah itu kami berciuman cukup lama, aku tidak tahu bagaimana nasib makeup diwajahku. 
” aku merusak lipstikmu.” Ucapnya tertawa.
” setidaknya kau tidak merusak maskaraku.” Ucapku penuh rahasia. Ia hanya tersenyum dan menggenggam jemariku, dengannya aku merasa menjadi diriku sendiri. Minho adalah setengah dari diriku, aku sangat mencintainya.

***

Aku mengira malam ini adalah malam yang sangat spesial dimana aku merasakan perhatian yang tidak pernah aku terima dari Minho. Ia membuatku bahagia dengan membawaku ketempat yang sangat romantis, ia menyewa satu gedung bioskop untuk acara kencan kami. Namun belum setengah jam kami berada didalam ruangam bioskop, seseorang menghubunginya.
Aku mendengar nama Naeun didalam pembicaraan mereka, rahang Minho mengeras dan kemudian ia melirikku dengan ujung matanya. Genggaman tangannya padaku terlepas, aku menatap hal itu dengan sedikit sedih.
” aku harus pergi, Naeun pergi dari rumahnya. Aku harus mencarinya.” 
” b..baiklah.”
” sopir pribadiku akan mengantarmu pulang.”
” T..tidak perlu, aku bisa pulang sendii.”
” jangan kepala batu Jiyeon! Aku ingin kau diantar oleh sopir pribadiku. Aku pergi.” Kemudian ia berjalan keluar dari gedung bioskop begitu saja, aku menatap layar dengan wajah diam namun air mataku mulai mengalir.
Naeun! Naeun dan Naeun! Selalu Naeun.
Aku mengambil tasku dan keluar dari gedung bioskop, saat sampai didepan aku melihat sopir pribadi Minho yang sudah menungguku. Aku memutuskan untuk melewati pintu lain, aku hanya ingin sendiri sekarang.
Aku berjalan diatas trotoar dingin dengan wajah penuh air mata, setelah ia membuatku merasa menjadi hal yang paling berbarti dihidupnya dengan seenaknya ia menjatuhkanku. Aku tidak pernah memintanya untuk meninggalkan Naeun demi diriku, hanya saja aku ingin diperhatikan lebih dari Naeun sebentar saja. Hanya sebentar…
Tempat ini sangat sepi, aku melewati jalanan yang jarang dilalui. Namun rasa sakit membuat ketakutanku menghilang, aku tidak perduli dengan kegelapan atau semacamnya hatiku lebih sakit dari apapun. Aku begitu bahagia saat ia mengatakan bahwa aku sangat cantik, aku sangat bahagia.
Namun apa artinya sebuah kata? Jika akhirnya ia lebih memilih Naeun.
Aku tahu aku terdengar seperti yeoja tidak tahu diri yang berharap lebih dengan milik orang, aku tidak bisa menahan perasaanku. Sudah terlalu lama aku diam dan diam, perhatian yang Minho tunjukkan belakangan ini memunculkan sisi memiliki dari diriku.
Dan juga aku tidak bisa pulang kerumah dalam keadaan seperti ini, eomma pasti akan mencurigaiku. Mungkin minho tidak keberatan aku menginap di apartementnya malam ini, karena tadi aku sudah mengatakan pada eomma bahwa aku menginap disalah satu rumah temanku.
Aku masih berjalan gontai sambil menjinjing sepatu hak yang lumayan tinggi, air mataku masih menetes namun aku tetap menahannya. Aku menaiki busway dan setengah jam kemudian aku tiba didepan apartement Minho, aku menekan lift ke lantai atas sambil memperbaiki rambut dan menatap wajahku yang berantakan di kaca lift. 
Saat aku keluar, aku melihat seorang namja dan seorang yeoja sedang bertengkar hebat. Aku memutuskan untuk bersembunyi dibalik dinding dan mendengar percakapan mereka, aku mendengar suara tangisan dan bentakkan.
” A..apakah kau masih menyayangiku? Kau masih perduli padaku?” Aku mendengar suara tangisan Naeun. Ya , yeoja dan namja itu adalah Naeun dan Minho.
” mengapa kau bertanya seperti itu?” Aku mendengar suara Minho yang terdengar keras dan sedikit marah. 
” kau tahu? Semua orang menghawatirkanmu! Dan dengan bodohnya kau pergi kemari malam-malam seperti ini?! Kau gila? Sesuatu yang buruk bisa terjadi padamu.”
” JAWAB AKU! APAKAH KAU MASIH PERDULI PADAKU! KAU MASIH MENCINTAIKU?!” Naeun berteriak keras. 
” hanya kau Minho… hanya kau yang aku miliki didunia ini. Aku tidak memiliki siapapun selain dirimu, appaku bahkan tidak menyayangiku dan hanya melimpahkan uang-uangnya dan meninggalkanku begitu saja. Ia lebih sibuk dengan pekerjaannya dibandingkan diriku. Jika kau pergi, siapa lagi tempatku akan bergantung. Apa mungkin kau ingin meninggalkanku karena penyakitku ini? Apakah kau tidak mau memiliki seorang pasangan dengan lemah jantung sepertiku?” Aku terdiam sesaat, Naeun? Penyakit lemah jantung?…
” mengapa kau berpikir aku akan meninggalkanmu? Kau berpikir seburuk itu? Kau mengenalku sejak lama Naeun, aku tidak akan meninggalkanmu. Jika aku akhir-akhir ini terlihat tidak memperdulikanmu aku benar-benar minta maaf.”
” kalau begitu, aku ingin kau mengikatku.”
” maksudmu?”
” aku ingin kita bertunangan.”
” kita masih terlalu muda untuk hal itu Naeun.”
” jadi kau keberatan? Kau ingin meninggalkanku!” Terdengar suara teriakan lagi. Aku masih diam sambil menutup mulutku menahan tangis, jadi karena penyakit Naeun yang membuat Minho begitu menghawatirkannya? Apakah jika Minho mengetahui penyakitku ia juga akan memperhatikan dan menghawatirkanku sama seperti ia menghawatirkan Naeun.
” baiklah! Aku akan berbicara dengan ayahmu! Kita akan bertunangan bulan depan.” Jawaban minho seketika meruntuhkan duniaku. Aku menutup mulutku semakin keras saat tangisanku mulai semakin keras.
Mereka berpelukan, Naeun masih terisak didalam pelukam Minho. Beberapa saat kemudian terdengar deringan diponsel Minho, aku masih berdiri ditempatku dengan air mata yang terus mengalir.
” Ya.”
” …………….”
” Menghilang! Bagaimana bisa kalian sebodoh itu!”
“……………….”
” jika terjadi sesuatu hal buruk padanya! Kalian akan membayarnya. Cari ia diseluruh gedung bioskop.”
” ………………”
” aku akan segera kesana.”
Aku menghapus air mataku dan dengan segera pergi dari tempat itu. Aku tidak mau Minho tahu bahwa aku mendengar percakapannya dengan Naeun. 

*** 

Aku duduk disalah satu kursi gantung ditaman bermain sambil menatap melamun kearah kegelapan. Hanya satu lampu yang menyala dan itu sudah cukup untukku, sejak tadi ponselku terus berdering dan itu panggilan dari Minho. Aku tidak bisa menemuinya dengan keadaan penuh air mata seperti ini.
Aku mendengar suara langkah yang mendekat, kemudian sebuah jaket menyelimuti tubuhku dan suara ayunan disampingku berbunyi. Myungsoo duduk sambil menatap kearahku dengan khawatir.
” dimana kacamatamu?”
” aku tidak bisa menggunakannya dengan keadaan seperti ini.” Ucapku dengan sesegukan.
” apalagi yang ia lakukan?”
” nugu?”
” siapalagi.” Ucapnya dengan kesal. Aku hanya diam dan menghapus air mataku.
” tadi ia pergi ke bar dengan penuh kemarahan dan memberikan tamparan diwajahku.” Myungsoo menunjukkan bekas memar diwajahnya dan meringis.
” saat ia datang dan bertanya tentangmu, aku memberikan lelucon padanya bahwa kau ada ditempat tidurku. Dan ia hampir membunuhku jika saja temanku tidak membelaku dan mengatakan padanya bahwa tidak ada seorangpun yeoja yang bergabung bersama kami sejak tadi.”
” ia benar-benar gila.”
” ia gila karena menghawatirkanmu. Sama sepertiku, untung saja kau menghubungiku. Kau tahu bahwa aku selalu akan membantumu apapun masalahmu.” 
Aku memeluk rantai ayunan dan menatap Myungsoo dengan mataku yang memerah.
” mereka akan bertunangan.” Bisikku pelan.
” apa?”
” tadi untuk pertama kalinya Minho mengajakku berkencan, sebelum seseorang menghubunginya dan mengatakan bahwa Naeun kabur dari rumah dan kemudian ia pergi begitu saja meninggalkanku. Dikencan pertama kami, dan dimana pertama kali ia memperhatikanku ia menjatuhkanku secara bersamaan.” Ceritaku sambil menangis.
” kemudian aku memutuskan untuk pergi ke apartement milik Minho karena aku tidak mungkin pulang yang malah akan menimbulkan kecurigaan dari eommaku. Namun yang aku dapatkan malah membuatku tambah terpuruk, aku menguping pembicaraan mereka. Dan keputusan akhir dari pertengkaran mereka adalah pertunangan.” Myungsoo hanya diam dan tetap mendengarkanku saat aku menangis dan menceritakan segalanya, beberapa kali ia melemparkan kata kotor yang menyumpah. Aku hanya terus menangis dan menangis tanpa terkendali.
Ponselku kembali berdering, Myungsoo ikut menatap layar yang menampilkan nama Minho.
” angkatlah, ia mungkin sangat menghawatirkanmu.”
” aku tidak mau.”
” kadang seorang namja bingung dengan perasaan yang ia rasakan, semua orang bisa membuat kesalahan. Namun saat seorang namja begitu menghawatirkanmu hingga ia merasa akan mati, itu artinya ia sangat menyayangimu dan sangat perduli padamu.” Myungsoo menatapku sambil mengangguk meyakinkan.
Aku membiarkan ponselku terus berdering tanpa berniat mengangkatnya. Myungsoo memandangku dalam diam.
” kau tahu? Kau yeoja paling freak yang pernah aku kenal.”
” why?”
” kau begitu tersakiti dengan perasaanmu, namun kau tetap bertahan. Kau tahu perasaanmu dapat membunuhmu perlahan dan kau tetap bertahan.”
” kau tahu? Love is magic.” Aku mencoba tersenyum
” dan cinta juga adalah sebuah kebodohan.” Myungsoo meringis sedikit. 
” kau tahu?”
” eum?”
” aku sudah sembuh dari penyakitku.” Ucap Myungsoo sambil tersenyum dan menatap kearahku dengan penuh arti. 
” maksudmu?”
” aku sembuh! Aku sembuh dari rasaku yang menyimpang! Sekarang aku menyukai seorang yeoja.” Aku menatapnya dengan terkejut dan ikut bahagia.
” really? Chukkaeee! Siapa yeoja tidak beruntung itu?” Ejekku. Kemudian ia terdiam dan tersenyum dengan sangat manis.
” kau.”
” mwo!”

***

Aku menatap pantulan diriku dicermin, kacamata burung hantuku dengan rambutku yang ku kuncir dengan sedikit susah. Poni menghiasi wajahku dan membuatku terlihat lebih fresh.
Mataku masih terlihat sembab, aku menangis hampir 2 jam dan hasilnya dapat dilihat dengan jelas sekarang. Tadi pagi sekali aku pulang, dan untung saja eommaku sedang tidak ada dirumah karena pergi untuk membeli bahan makanan untuk kedainya dan ia tidak melihat penampilanku yang sangat berantakan.
Ponselku berhenti berdering sejak 3 jam yang lalu, Minho sepertinya berhenti mencariku. Aku tidak tahu apa yang ia lakukan saat disekolah nanti, aku tahu aku salah dengan membiarkannya menghubungiku tanpa mengangkatnya. Ayolah! Aku hanya yeoja patah hati yang tidak sanggup mendengar suaranya.
Saat aku membuka tas sekolah milikku, surat panggilan dari sekolah masih terlipat dengan rapi disana dan aku sudah memutuskan untuk tidak mengatakannya pada eomma. Aku tidak mau menambahkan bebannya, jika orang tua yuri ingin menghukumku atau memukulkupun aku rela asalkan mereka tidak menyangkut pautkannya dengan eommaku.
Saat aku akan berangkat, eomma sudah berada dirumah dan terlihat sibuk menyiapkan sarapan pagi untuk kami. Masakan yang sederhana namun aku sangat menyukainya, dan tidak lupa eomma memberikan bekal untukku yang membuatku bertambah semangat melalui hari-hariku.
JIYEON SEMANGAT!
Saat keluar dari gerbang rumahku yang sederhana, sebuah mobil hitam mewah terparkir didepan rumah dengan rapi. Seorang namja turun dengan wajah penuh kemarahan dan kekesalan menatapku dari atas sampai bawah. Aku terkejut melihat Minho yang berdiri didepanku dengan baju yang ia gunakan semalam yang berarti sejak tadi malam ia belum pulang sama sekali.
” Aku menghawatirkanmu! Dan kau dengan bahagianya keluar dari rumah nyamanmu dan menatapku dengan wajah tenang?!”
” jangan membentakku.” Ucapku dengan nada pelan sambil menatapnya.
” kau tahu betapa gilanya aku mencarimu mengelilingi seoul?!! kau dengan seenaknya mengatakan jangan membentakmu!” Rasa bersalah menghantamku. Aku memang salah, aku mengabaikan panggilannya karena rasa sakit hatiku. Aku tidak menyangka ia akan sangat menghawatirkanku seperti ini.
” M..Mianhae.”
” aku merasa menjadi orang paling bodoh menghawatirkanmu yang jelas bahkan tidak memperdulikan kekhawatiran orang.” Minho melemparkan kemarahannya padaku.
Apakah ia tidak menyadari? Bahwa aku begitu sakit hati dengan apa yang ia lakukan padaku. Meninggalkanku ditengah kencan pertama kami demi Naeun dan kemudian aku melihatnya memeluk Naeun dan mengatakan akan bertunangan dengan yeoja itu.
” aku tahu aku salah! Tapi kau juga salah.” Aku mengeluarkan rasa sakit hatiku.
” salah? Dimana letak kesalahanku? Aku mengajakmu berkencan dan aku bahkan memperhatikanmu dengan meminta sopirku untuk mengantarmu pulang.”
” jika yang kau maksud pertemuan singkat itu sebagai kencan, aku merasa itu bukan kencan. Itu hanya rasa kasihanmu padaku karena aku terlalu berharap dapat jalan-jalan romantis denganmu.”
” kau?… kau berharap terlalu lebih padaku Jiyeon.” Minho menunjuk wajahku dengan wajah tidak percaya. Aku menatapnya dengan air mata yang menumpuk dipelupuk mataku.
” aku seorang yeoja… aku juga ingin kau perhatikan dan kau khawatirkan… bukan hanya Naeun. Selama ini aku selalu diam dalam kesakitanku, namun rasa memilikiku atas dirimu membuatku bertambah sakit dan berharap.”
” bisakah sekali saja kau benar-benar lebih memperdulikanku? Bisakah kau tidak meninggalkanku begitu saja seolah aku tidak memiliki perasaan? Bisakah kau memperlakukan aku layaknya gadis yang sangat kau cintai?” Dan yang aku dapatkan hanya punggungnya yang berbalik dan terdengar suara pintu mobil yang ditutup dengan sangat keras. 
Aku menatap kearah rumah dan beruntung eomma tidak mendengar pertengkaran kami. Mobil sport hitam Minho menjauh dari halaman rumahku dan menimbulkan bunyi berisik yang mewah.
Aku tahu aku salah…
Namun aku ingin egois sekali saja…
Sekali saja…
Disisa umurku…

*** 

Lonceng istirahat berbunyi, aku berjalan menuju ruangan kepala sekolah sambil memegangi surat panggilan yang diberikan kemarin oleh guru pembimbing kelas. Jantungku berdetak dengan sangat keras saat melihat beberapa namja bertubuh besar dengan seragam yang serupa berwarna hitam dan terlihat seperti raksasa yang menyeramkan.
Tidak ada Minho disampingku, tidak ada myungsoo, tidak ada eomma tidak ada siapapun. Aku akan menghadapinya sendiri, ya hanya sendiri setelah aku melakukan kebodohan.
Aku menyadari bahwa aku sangat bodoh menuntut Minho seperti itu, seharusnya aku tidak memojokkan namja itu karena Minho benar-benar membenci siapapun yang memojokkannya. Aku sangat menyesal tentu saja, aku terlalu terbawa perasaanku hingga membuatnya sangat marah.
Mungkin setelah ini Minho tidak akan pernah memperdulikanku lagi.
Aku yeoja tidak tahu diri.
Pintu itu terbuka dihadapanku, aku menghela nafas pelan dan masuk kedalam siap menerima hal buruk yang terjadi padaku. Beberapa pasang mata menatapku dengan tatapan membunuh membuatku merasa agak ketakutan.
” jadi ini gadis yang membuatmu seperti ini?” Terdengar suara menyeramkan dari seorang namja paruh baya yang duduk dengan begitu berkuasa. Kepala sekolahku yang malang hanya bisa menunduk terdiam dan menatap kasihan padaku, aku hanya diam tidak berkutik.
” Dia gadis nerd menjijikkan.” Yuri menghinaku.
” lihat apa yang ia lakukan dengan rambutku appa, rambutku sangat mengerikan.” Terdengar suara tangisan Yuri, aku tidak menyesal melakukan hal itu padanya. Ia pantas mendapatkannya.
” Kau tidak tahu siapa kami! Kami bisa membuatmu menangis darah!” Terdengar bentakan keras yang membuatku sedikit terperanjat. Sekarang aku merasa ingin pulang dan mengunci diriku dirumah dan tidak keluar selama-lamanya.
Aku menatap kearah pintu, berharap Minho yang mungkin sekarang sudah sangat membenciku akan datang untuk membelaku ditengah-tengah badai ini.
” Aku ingin yeoja ini dikeluarkan dari sekolah! Dan jangan biarkan sekolah lain menerimanya!” Terdengar suara keras itu lagi. Aku mencoba menahan tangisku. Aku ketakutan…
Demi apapun, aku tahu bahwa seharusnya aku tidak berurusan dengan manusia sejenis yuri dan teman-temannya. Namun mereka terlebih dahulu menyiksaku dan aku hanya melakukan perlawanan untuk melindungi diriku, dan aku tidak merasa salah dengan hal itu.
Kadang keadilan bisa dikalahkan dengan setumpuk uang.
” kau akan menyesal sampai menangis darah sudah berurusan dengan kami!” Namja paruh baya itu kembali membentakku lagi.
Aku hanya diam dan tidak berani berkata apapun.
” darah dibayar dengan darah, air mata dibayar dengan air mata. Kau sudah memotong rambut puteriku dan membuatnya menangis semalaman penuh, kau harus merasakan apa yang ia rasakan.” Aku terperanjat dan menggeleng ketakutan. Mereka akan memotong rambutku!
” Jangan aku mohon.”
” kau meminta maaf kepada orang yang tidak menerima permintaan maaf. Kau harus belajar untuk tidak pernah berani melawan orang yang lebih diatas darimu.” Aku merasakan sebuah tangan menahan tanganku dengan keras.
” Kalian orang-orang kaya tidak berperasaan! Tidak selamanya kalian akan berada diatas.” Aku berteriak mengeluarkan kemarahanku saat merasakan ketidakadilan ini.
” mulutmu begitu pedas, orang miskin sepertimu seharusnya tidak berani mengeluarkan kata-kata seperti itu.” Yuri bangkit dan menendang kakiku dengan sangat keras membuatku mengerang kesakitan dan terduduk dilantai. Kaki kananku terlihat tidak normal, aku takut ia mematahkan kakiku.
Kemudian ia menginjaknya membuat aku menjerit keras, kepala sekolahku hanya diam dan menatapku dengan iba tanpa bisa berkutik.
Minho…
Aku butuh ia sekarang…
Ia benar…
Aku selalu membuat masalah tanpa memikirkannya terlebih dahulu…
Aku mohon maafkan aku…
Minho…

To be continue

109 thoughts on “Strong : 3. Problem

  1. tp masih penasaran sebenarnya penyakit apa yg diderita jiyeon??? dan apakah naeun bnr2 sakit atau hanya rekayasa agar minho tdk meninggalnya ??

  2. annyeong unnie ….aku pendatang baru stok lama…….
    aku dah lma bca blog unnie tpi bru skarang bsa comment ….

    oh my god jiyeon kasian banget …
    semoga ada yg nolongin jiyi , dan jiyi nolongin jiyi myungso aja , biar minho cemburu dan nyesel uda ninggalin jiyi ….
    di tunggu ya next chapter nya

  3. ohhhh gk tega sma jiyeon dari awal jiyeon kya bidadari baik hati menunggu ketidak pekaan si pangeran minho hahahahahahahahha tpi kli ini bner” mnguras emosi dan sedih aja.bwaannya . seneng bngt authornim comeback lagi dan bkal sneng lgi authornim trus semngat nulis ff horrrey himneseyeo authornim

  4. Sedihhh liat jiyeon unnir wehh
    Penasaran penyakit jiyeon apaan sih .??Ayolahh minho nolonginn ke .gregett dehh ama minho .
    Lanjutt ya thour jan lamaa

  5. hah kasian jiyeon cuna nau bela diri tpi dampaknya parah.
    dan sekali gak pa2 ko bersikap egois dan lebih mentingn dri.

  6. Ada-ada aja sih jiyeon. Udah sama minho digituin, masih kena penyakit pula. Greget gua sama minho lama-lam.
    Thor segera kasih tau ya penyakit jiyeon apa? Dan updatenya jangan lama-lama thor, udah penasaran ini wkwk.
    Kalo mau end, dibikin yg happy ending ya thor :))

  7. Omg jiyeon kasian sekali, sebegitu salahkah jadi org miskin dan gak punya kekuasaan? Aku curiga jangan” si naeun bohong lagi ttg penyakitnya dan penasaran separah apa penyakitnya jiyeon.. Aku berharap myungso atau minho lah muncul nyelametin jiyeon walaupun kesel sama minho… Semoga cepet publish ya next chapternya.. Semangat

  8. kenapa selalu si miskin yang disalahkan, apalagi diperlakukan seperti itu. Wajar dong kalo jiyeon mempertahankan diri… itu juga knpa minho lama sadarnya, ntar kalo sudah kehilangan baru tau minhonya –”

    ditunggu lanjutannya min, semangattttt min😀

  9. duhh… jiyeon sakit apa sihh? jadi penasaran
    lahh minho mash aja nyakiti jiyeon, dtinggal jiyeon baru tah rasa qmu ahh
    ayo myung rebut aja jiyeon dr minho, biar dia ngrasaain apa yg jiyeon rasaain…
    kapan jiyeon bisa bahagia??

  10. keren bgttttt lanjutannya thor !!! ini ff yg aku tunggu tunggu ya ampun akhirnya muncul juga😦 next partnya agak cepetan dong thor uu

  11. akkkkkkkk minhooooo…. kamu buat aku meleleh lagi lagi dan lagii……. jiyeon sabarrr cantikk. minho pasti milih kamu lebih dari apapun. lihat timing nya ajaa… minho udah belong to you bangetttttttttt……. aduh speachless sumpahhhhh… tambahin lagi momen berdua minji ya eon!!wkwkwkwkkkk. cant wait for next chapter. update soon ya eon…. lup you good job!!!!!!

  12. annyeong aku reader baru🙂 aku baru nemu blog ini, dan mianhae langsung komen di part ini hehe😀 ceritanya seru banget thor aku suka pake BGT😀 tapi agak kesel ama minho sikapnya nyebelin, kasian jiyeonnya😥 semoga di part berikutnya minho ga bakal nyakitin jiyeon >_< di tunggu next partnya thor😉

  13. kasian jiyeon koq hidupnya tersiksa terus yhaaa 😿😿😿😿😿
    sabar yha jiyeon eonie, eoniekan perempuan yang kuat.
    semoga aja minho cepet – cepet milih jiyeon dan ninggalin naeun itu.
    dan juga walaupun jiyeon milih minho myungsoo tetap bahagia ketemu penggantinya, habisnya myungsoo terlalu baik untuk disakiti dia perhatian banget sama jiyeon jadi gimanapun akhirnya myungsoo tetap bahagia.
    untuk author semangat terus nulisnya yha semoga karya – karya author makin lama makin bagus,banyak yang suka, banyak yang komentar. 😀😀😀
    dan juga semoga akhir cerita ini happy ending jangan sad ending yha thor.
    selalu berusaha yha semangat. 😀😀😀😀

  14. Bahkan orang lain aja tau gmn minho cintaa bgt sm jiyeon. Eh orangnya sndiri ga peka. Huh dasar minho.
    Omo… someone plis tolongin jiyeooon… kasian dia.. gmn nasibnya tuh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s