Strong : 2. Jiyeon’s Secret

image

Main Cast : Park Jiyeon, Choi Minho, Kim Myungsoo, Kim Naeun

Saat itu jam pulang sekolah, namun Jiyeon tidak beranjak sedikitpun dari tempat duduknya. Hari ini para pemain basket sedang melakukan latihan untuk perlombaan basket antar sekolah minggu depan, ia menatap seorang namja yang paling mencolok diantara yang lainnya dan wajah namja itu terlihat serius saat mendengarkan arahan dari pelatih mereka.

Ia tidak beranjak sampai latihan itu berakhir, Jiyeon tetap ditempatnya sambil melihat Minho yang berdiri disamping lapangan basket dan terlihat sedang bercanda dengan teman-temannya, Naeun datang dengan beberapa botol air mineral ditangannya dan membagikannya dengan senyuman lebar dibibirnya dan duduk disamping Minho dan membantu membersihkan keringat namja itu. Jiyeon menatap hal itu dengan iri, seandainya saja ia bisa berada diposisi Naeun yang disukai banyak orang.

Hari ini Minho berjanji pulang bersamanya, namun sepertinya namja itu lagi-lagi harus membatalkan janjinya pada Jiyeon dengan Naeun yang begelayut ditangannya dengan penuh kemesraan. Sepertinya Minho juga lupa tentang janjinya pada Jiyeon, entah apa yang dikatakan Naeun pada Minho dan membuat Minho mengangguk sepertinya Naeun meminta diantarkan untuk pulang dan namja itu menyetujuinya.

Jiyeon mencoba menahan air matanya, percuma ia menunggu namja itu disini. Lebih baik ia pulang dan mengakui bahwa ia adalah yeoja paling bodoh dan idiot didunia ini dan menerima takdirnya. Ia beranjak dari duduknya sambil menunduk menahan air matanya, saat itu dikoridor hanya ada beberapa murid yang berlalu lalang dengan tujuan yang berbeda. Ada yang mempunyai kepentingan di eskul, ada yang mendapatkan hukuman, ada yang tinggal untuk piket. Jiyeon tetap menunduk menyembunyikan wajahnya, si nerd yang patah hati.

Saat ia tiba dihalte busway hujan turun membasahi bumi, ia duduk disalah satu kursi saat mobil sport milik Minho lewat didepan halte begitu saja. Ia mencoba tetap menahan air matanya, beginilah rasanya menjadi yang kedua selalu diabaikan dan hanya dicari saat namja itu butuh.

Tidak lama setelah itu seorang pengendara motor berhenti tepat didepan halte, Jiyeon masih menunduk sambil menatap jarinya dan menghitung 1 sampai 10 untuk menahan air matanya. Jiyeon menatap terkejut saat seseorang mengulurkan helm berwarna putih untuknya, Jiyeon menatap mulai dari helm kemudian semakin keatas dan melihat wajah itu disana dengan senyuman kecil dan masih mengulurkan helm untuknya.

“Ayo”

Ia terperangah.

***

Minho meneguk habis air mineral yang dibawakan oleh Naeun, disampingnya Naeun terlihat sibuk membersihkan keringatnya dan tidak berhenti tersenyum dan beberapa kali saling melempar lelucon dengan beberapa teman Minho yang masih tersisa dilapangan.

” Minho.”

” eum?”

” hari ini aku pulang denganmu ya?” Ucap Naeun dengan manja dan bergelayut mesra ditangannya. Minho tersenyum kecil pada Naeun.

” Mianhae, hari ini aku ada beberapa kesibukan. Bagaimana kalau kau pulang dengan Yong Hwa? Ia pasti bersedia mengantarmu.” Yong hwa yang duduk tepat disamping Minho menyemburkan minuman dari mulutnya dan menatap Minho dengan terperangah, Minho melirik sedikit kearah temannya itu dan terseyum simpul.

” Tapi kau bisa mengantarku lebih dahulu kemudian menyelesaikan kepentinganmu, jika kau mau aku bisa menemanimu.” Paksa Naeun sedikit keberatan tentang keputusan Minho karena memintanya pulang bersama Yonghwa

” Tidak bisa, kau pulang dengan Yonghwa hari ini. Kau tidak keberatankan?” Minho bertanya pada Yonghwa dan dibalas namja itu dengan anggukan perlahan yang sedikit ragu.

” sebentar lagi hujan akan turun Minho, dan Yonghwa menaiki motor. Kau tahu kulitku akan memerah jika terkena air hujan.” Rengek Naeun membuat Minho berpikir dan menatap kearah temannya dengan wajah seolah menemukan sebuah ide.

” aku akan menggunakan kendaraan Yonghwa dan kalian menggunakan mobilku.” Minho melemparkan kunci mobil miliknya kearah Yonghwa yang menerimanya dengan wajah sedikit terpaksa, wajah Naeun seketika berubah pias dan menangguk setuju.

” arraseo”

” kalau begitu kami pergi.” Yonghwa beranjak sambil menggendong tas miliknya, Naeun berjalan dibelakang Yonghwa dengan tatapan masih menatap Minho dengan sedikit patah hati. Minho menatap kearah kelas atas dan tidak menemukan keberadaan Jiyeon disana, biasanya yeoja itu akan duduk disana sampai latihan selesai namun yang ia tidak menemukan apapun.

Jangan kira Minho tidak tahu bahwa setiap ia berlatih bersama timnya, Jiyeon akan duduk didekat kaca dan menatapnya. Ia sadar dengan kehadiran Jiyeon tanpa yeoja itu tahu. Minho berjalan kearah parkiran sekolah dan mencoba menghubungi Jiyeon, namun yeoja itu tidak menjawab telepon darinya membuat ia sedikit menyerit.

Tidak biasanya Jiyeon seperti ini. Mungkin Jiyeon tidak mendengar panggilan darinya dan mungkin sekarang yeoja itu sudah dihalte busway menunggunya. Minho menatap dua buah helm yang ada dimotor Yonghwa, tepat sekali.

Ia mengendarai motor itu dan berhenti tepat didepan halte saat melihat Jiyeon, yeoja itu menunduk dengan wajah ditekuk namun terlihat memainkan jarinya yang lentik itu dengan wajah murung tidak menyadari kehadirannya. Hujan masih turun walaupun tidak terlalu lebat, Minho turun dari motor lalu berdiri dihadapan yeoja itu dan mengulurkan helm ditangannya untuk Jiyeon, yeoja itu terlihat terkejut saat melihat helm yang ia ulurkan dan bersama dengan itu mata Jiyeon semakin naik dan tatapan yeoja itu bertemu dengan tatapannya. Minho tersenyum geli saat melihat wajah terkejut Jiyeon.

“Ayo”

Jiyeon masih terperangah dengan mulut yang setengah terbuka, Minho melepaskan jaket yang ia gunakan dan menyisakan baju olahraganya dan menyelimutinya ketubuh Jiyeon.

” tidak perlu.” Jiyeon mencoba menolaknya saat tersadar dari keterkejutannya.

” Hujan sedang turun, dan aku tahu kau akan sakit jika hujan mengenai tubuhmu. Ayo.” Minho menggenggan tangan Jiyeon dengan lembut membuat jantung Jiyeon berdebar dengan sangat keras.

***

Naeun menatap keluar jendela mobil dengan wajah muram, Yonghwa beberapa kali melirik kearah yeoja itu dan tersenyum kecil. Naeun yang merasa diperhatikan menatap kearah Yonghwa yang masih tersenyum geli.

” wae? Mengapa kau tersenyum seperti itu?”

” memang ada larangan yang melarangku untuk tersenyum?”

” anniyo, tapi senyumanmu membuatku kesal.”

” ayolah Naeun, hanya karena Minho tidak mengantarmu bukan berarti kau harus bermuram seperti itu.”

” bukan urusanmu.”

” yeoja benar-benar sulit dimengerti.” Ledek Yonghwa membuat Naeun menyarangkan tamparan dilengannya dan membuatnya berteriak sakit sambil mengutuk yeoja itu dengan kata-kata kotor yang agak lembut seperti yeoja tidak punya perasaan.

” belakangan ini Minho tidak memperdulikanku.” Curhat Naeun sambil menatap keluar jendela dengan wajah yang kembali muram, Yonghwa menatap jalanan dengan sedikit melamun.

” mengapa kau berpikir begitu?”

” aku merasa ia agak berubah, dan kau tahu? aku merasa ia sedang menjalin sebuah hubungan dengan Park Jiyeon.” Yonghwa menatap sedikit terkejut kearah Naeun dan mencoba mengendalikan mimik wajahnya, bersahabat dengan Minho sejak kecil membuatnya tahu semua tentang Minho.

” Park Jiyeon? Si Nerd itu? Hahah, tidak mungkin.” Tawa Yonghwa yang sedikit dipaksakan.

” Aku tahu itu tidak mungkin, namun caranya menatap yeoja itu membuatku bertambah yakin bahwa mereka memiliki sebuah hubungan entah apa itu. Appa dan eomma Minho tidak akan tinggal diam jika memang Minho menjalin hubungan dengan yeoja miskin dan nerd seperti Park Jiyeon.” Ketus Naeun sambil bersandar dikaca mobil.

” Minho tidak mungkin mau mengulang kesalahan yang dilakukan siwon oppa dahulu, menyukai yeoja yang bukan dari kalangannya dan aku sedikit merasa iba pada Siwon Oppa. Betapa malangnya ia harus menyaksikan pembunuhan keji yeoja yang ia cintai didepan matanya sendiri.” Cerita Naeun, Yonghwa jelas tahu tentang cerita yang sudah menjadi rahasia publik itu. Namun yeoja yang dicintai Siwon bukanlah yeoja baik-baik seperti Park jiyeon, Sun hye adalah pelacur kelas atas yang berhasil menarik perhatian Siwon dan membuat namja itu jatuh cinta hingga rela memberikan semua hal untuk yeoja seperti Sun hye, Siwon bahkan rela menentang orang tuanya demi memilih Sun Hye dan membuat Tuan dan Nyonya Choi geram dan memutuskan untuk mengambil jalan tengah dengan membunuh Sun hye dan membuat Siwon terpuruk hingga mengganggu kejiwaannya.

Minho sebagai anak laki-laki yang masih dapat diandalkan dikeluarga itu terpaksa menggantikan posisi Siwon, tidak ada yang tahu diumurnya yang masih sangat muda Minho sudah menjalankan beberapa perusahaan untuk membantu appanya. Kinerja Minho dan siwon berbeda jauh, biarpun bekerja dibalik layar Minho bisa mengembangkan perusahaan dengan begitu pesat membuat appanya tahu bahwa Minho lebih dapat diandalkan dibandingkan Siwon.

” mungkin itu yang terbaik untuk siwon hyung.”

” ya, akan lebih baik seperti itu.”

” Dan sebagai penerus satu-satunya Minho harus mencari pasangan yang sederajat dengannya bukan Park Jiyeon, Minho namja yang sempurna dan tidak mungkin ia akan memilih Park Jiyeon sebagai pasangannya.” Cibir Naeun, Yonghwa tidak mengucapkan apapun dan memilih untuk diam dan dalam hati ia mendoakan sahabatnya itu.

***

Jiyeon tahu dengan semakin ia berharap, kemungkinan hatinya akan hancur akan semakin besar. Ia mencintai Minho namun seolah akan kehilangan namja itu, Minho tersenyum padanya seolah Jiyeon adalah satu-satunya yeoja dikehidupannya namun fakta sebenarnya namja itu hanya mengharapkan Naeun.

Mereka berhenti didepan sebuah mini market.

” Aku ingin membeli sesuatu, tunggu sebentar disini.” Jiyeon mengangguk, Minho masuk kedalam mini market itu dengan beberapa gadis yang melirik kearahnya dengan tatapan terpesona. Minho memang sangat tampan, tidak heran jika gadis-gadis akan jatuh cinta padanya dengan sekali pandang.

Jiyeon menatap keseberang jalan dan melihat seekor kucing kecil sedang terjebak ditengah-tengah jalan raya dengan kaki yang terlihat patah. Jiyeon melepaskan helm dan tanpa berpikir panjang menyebrang untuk menyelamatkan kucing malang itu, ia membawa kucing malang itu kedalam gendongannya dan dari arah berlawanan sebuah mobil melaju dengan sangat kencang. Terdengar suara decitan rem , Jiyeon menutup matanya sambil memeluk kucing kecil itu dan pasrah jika mobil itu menabrak tubuhnya dan beberapa saat kemudian terdengar suara benturan yang cukup kencang didekatnya.

Jiyeon membuka matanya perlahan dan melihat mobil itu menabrak pembatas jalan dengan  bagian depan mobil yang sepertinya rusak parah. Seorang namja paruh baya keluar dengan wajah penuh kekesalan, Jiyeon menatap takut kearah namja dengan tubuh setinggi jerapah itu.

” Liat apa yang kau lakukan dengan mobilku! Dimana otakmu.” Namja itu membentaknya keras, Jiyeon yang masih terkejut dengan mobil yang hampir melindas tubuhnya hanya bisa terdiam dengan tubuh bergetar sambil memeluk kucing kecil malang itu dengan erat.

” Hei! Aku berbicara padamu! Kau tidak punya mulut! Kau bisu? Bicaralah” namja itu mencengkram dagu Jiyeon dengan kasar, Jiyeon yang ketakutan dan kesakitan mulai menangis. Minho selalu benar, Jiyeon memang selalu bertindak tanpa memikirkan akibatnya.

” Kau tidak punya otak? Dasar idiot!” Beberapa pendendara terlihat berhenti untuk melihat kecelakaan yang terjadi, Jiyeon bertambah panik saat beberapa pengendara yang berhenti mulai ikut memarahi dan menyalahkannya.

” M..Mianhae.” hanya itu yang bisa keluar dari mulutnya.

” Kau harus mengganti rugi kerusakan dimobilku!” Jiyeon menggeleng pelan dan menghapus air matanya.

” aku tidak memiliki uang.” Lirihnya. Ahjussi itu menatap Jiyeon dengan wajah bertambah kesal dan marah, tangannya terangkat hendak mencengkram tangan Jiyeon sebelum sebuah tamparan bersarang diwajahnya. Minho muncul dengan wajah merah padam dan melihat Jiyeon yang menangis ketakutan sambil memeluk kucing kotor dipelukannya.

” JANGAN. PERNAH. MENYENTUHNYA.!” Tekan Minho, sambil menyarangkan kembali beberapa tamparan diwajah namja itu dengan kesetanan dan menendang tubuhnya, beberapa pengendara yang berada ditempat itu dengan segera menahan Minho agak tidak menghajar ahjussi yang sudah terkapar dijalan dengan mengerang kesakitan.

” Keparat!” Raung Minho marah.

Dengan sedikit kasar Minho melepaskan tangannya dari beberapa orang yang menahannya kemudian mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah kertas berbentuk kotak.

” Jika kau ingin meminta uang ganti rugi untuk mobil dan lukamu, hubungi kartu nama ini.” Minho menjatuhkan kartu nama itu didepan namja paruh baya itu dan menarik tangan Jiyeon dengan wajah penuh kekesalan dan kekhawatiran.

***

Mereka tiba diapartemen Minho 15 menit kemudian, Jiyeon masih memeluk kucing kecil itu dengan penuh kelembutan. Minho berkacak pinggang dihadapannya, namja itu seakan ingin mengatakan sesuatu namun ia menahannya

Wajah Minho memerah padam, Jiyeon siap menerima ledakan kemarahan Minho karena ia merasa yang ia lakukan adalah benar. Ia menolong kucing kecil malang yang bahkan untuk menyelamatkan dirinya pun tak bisa dengan kaki kiri yang patah dan kucing ini pasti tidak makan dalam beberapa hari dengan tubuh kurusnya, kucing kecil berwarna belang ini itu berhasil menarik hatinya.

” Kau bodoh! Kau hampir saja tewas! Mobil itu hampir melindasmu!” Raung Minho akhirnya, Jiyeon hanya diam dan menilih untuk menunduk. Ia tahu ia salah, namun ia merasa apa yang ia lakukan adalah benar.

” kucing ini hampir saja mati.” Jiyeon mencoba membela dirinya. Minho tersenyum sinis.

” lalu mengapa jika kucing itu mati? Kau hampir mengorbankan nyawamu sendiri demi seekor kucing kecil kotor itu! Ia bahkan mungkin tidak akan menyelamatkanmu jika ia manusia, karena manusia pintar tidak akan menyebrang jalan dengan gegabah dan memeluk seekor kucing seolah kucing itu nyawanya!” Marah Minho dengan wajah yang memerah, ia terkejut sangat terkejut mendengar suara tabrakan keras saat ia tiba didepan mini market dan jantungnya hampir saja tidak berada ditempatnya saat melihat Jiyeon diseberang jalan yang meringkuk menerima takdirnya.

” kucing ini tidak memiliki siapapun Minho, ia kelaparan dan ia kesepian. Ia juga memiliki perasaan dan aku melihat betapa frustasinya ia dengan kakinya yang patah, ia bahkan tidak bisa menyelamatkan dirinya.”

” satu hal, aku tahu sekarang. Kau yeoja bodoh yang mementingkan nyawa seekor binatang dari pada nyawamu sendiri. Ck kau benar-benar..” Minho menatap keluar jendela apartement dengan rahang mengeras.

” kau salah, ia bukan hanya seekor binatang seperti yang kau lihat.” Jiyeon menatap kucing kecil itu dengan wajah melembut, kucing kecil itu balas menatapnya dengan mata besarnya yang mengagumkan dan menggemaskan.

” Ia sangat kuat dan tak pantang menyerah, kau lihat? Kakinya memang patah namun aku melihat semangat untuk hidup dimatanya, ia mencoba menyeberang jalan tadi dengan kakinya yang bahkan tidak berfungsi lagi. Kucing ini mengajarkanku bahwa seberat apapun hidupmu kau harus tetap menghadang masalah-masalah yang datang walaupun kau sudah tidak bisa melakukan apapun atau salah satu kakimu sudah tidak bisa berfungsi dengan baik lagi.” Jiyeon membelai lembut kepala kucing kecil itu.

” ia bahkan tidak terlihat kesakitan, ia menyembunyikan kesakitannya dibalik wajah menggemaskannya.”

Minho mengalihkan perhatiannya dan menatap melembut kearah Jiyeon yang kini menatapnya dengan senyuman lebar. Namun rahangnya tetap menegang, bukan hal yang mudah ia lupakan saat Jiyeon hampir saja terbunuh.

Yeoja itu hampir terbunuh.

oOoOo

Minho membuka matanya perlahan, ia melirik kearah Jiyeon yang tertidur dengan nyaman didalam pelukannya. Minho memberikan kecupan lembut dileher yeoja itu dan dengan perlahan bangkit dari kasur, Jiyeon bahkan tidak terganggu karena ia terlalu nyenyak dengan tidurnya dan mungkin terlalu lelah setelah mereka melakukan olahraga beberapa kali. Hari ini dan besok Jiyeon akan menginap diapartementnya karena ahjumma Park sedang pergi ke busan untuk beberapa hari.

Minho mengambil celana pendek miliknya dan kaos berwarna putih yang tadi terlempar ke atas lantai. Ia memakainya dan berjalan keluar dari kamar dengan wajah yang agak mengantuk.

Minho duduk di sofa sambil meminum air mineral yang tadi ia ambil dari dapur, tatapannya tertuju pada mahluk kecil belang yang berada diujung ruangan dan terlihat nyaman dengan tempat barunya. Jiyeon benar, kucing kecil itu sangat kuat dan terlihat begitu tidak pantang menyerah. Bahkan dengan kaki yang patah , kucing kecil itu dapat tidur dengan nyenyak. Minho tersenyum kecil, kucing kecil ini mengingatkannya pada Jiyeon.

Biarpun terlihat rapuh, Jiyeon yeoja yang kuat dan walaupun ia rapuh yeoja itu tetap membela sesuatu yang ia anggap benar walaupun ia tidak yakin pada dirinya sendiri.

Kucing kecil ini hampir membuatnya menyaksikan kematian Jiyeon, kucing kecil ini hampir membuatnya kehilangan Jiyeon dan memikirkan hal itu membuat hatinya seolah dicengkram sesuatu. Ia tidak pernah tahu bahwa Jiyeon bisa berpengaruh sangat besar pada dirinya dan perasaannya, selama ini yang ia tahu Jiyeon hanyalah seorang yeoja yang cukup lama ia kenal dan sangat ia percaya.

Ia perduli pada Jiyeon, sangat perduli. Jiyeon berbeda dari yeoja lainnya, dan ia menyukai perbedaan itu. Selama ini ia tidak pernah takut dengan kemungkinan yeoja itu akan meninggalkannya, Jiyeon perduli dan terikat padanya dan yeoja itu tidak akan meninggalkannya. Dan kejadian tadi seolah menamparnya, kematian bisa membuat yeoja itu meninggalkannya jika kehidupan terlalu sulit membuat yeoja itu meninggalkannya.

***

Tidak seperti biasanya, Minho tidak menurunkannya dihalte busway yang berada didekat apartement melainkan membawanya sampai ke sekolah. Ia menatap namja didepannya dengan wajah bingung dan tidak mengerti, apakah namja itu lupa bahwa sekarang ia sedang menggonceng Jiyeon?

” Minho seharusnya kau menurunkanku di halte.”

” Tidak, kau akan berangkat bersamaku.”

” Tapi kau akan malu.”

” aku tidak perduli.” Jawab Minho tepat saat mereka tiba parkiran sekolah, motor biru itu terparkir dengan rapi disamping motor-motor mahal yang lainnya. Dari arah berlawanan Yonghwa muncul dengan wajah santai dan sedikit smirk diwajahnya.

Minho membuka helm nya sedangkan Jiyeon merasa ragu membuka helm yang ia gunakan dengan banyak mata yang menatapnya dengan penasaran, siapa yeoja yang dibawa oleh namja paling populer dan paling kaya disekolah.

” Mobilmu sangat nyaman, sesuai dengan harganya.” Ucap Yonghwa sambil menyerahkan kunci mobil pada Minho, Minho tersenyum kecil dan ikut memberikan kunci motor pada Yonghwa.

Jiyeon dengan perlahan membuka helm yang ia gunakan dan menatap takut kearah beberapa murid yang mulai berbisik terkejut melihatnya. Tentu saja mereka akan terkejut, seorang Park Jiyeon berangkat kesekolah bersama Choi Minho.

Yonghwa melirik sedikit kearah Jiyeon dan tersenyum kecil kearah sahabatnya, Minho hanya menampilkan wajah datar menghadapi senyum penuh rahasia Yonghwa.

” Ayo kita kekelas.” Minho merangkul pundak Yonghwa meninggalkan Jiyeon yang masih diam dan akhirnya memutuskan untuk ikut pergi kekelasnya, ia tidak sanggup memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya padanya.

Beberapa mata masih memandangnya dengan penasaran saat ia berjalan menjauh dari parkiran sekolah. Terserah apa yang mereka pikirkan, ia tidak akan perduli.

oOoOo

Lonceng istirahat berbunyi, para murid berlari keluar kelas untuk mengisi perut mereka yang sudah berteriak kelaparan. Berbeda dengan Minho yang duduk dengan wajah datar dan dingin sambil memutar pulpen ditangannya, entah apa yang sedang ia pikirkan. Yonghwa yang sejak tadi mengajak Minho untuk pergi ke kantin akhirnya mengalah dan duduk disamping Minho dengan kaki yang diangkat keatas meja.

” Naeun, mencurigai hubungan kau dan Jiyeon.”

” aku tahu.”

” lalu bagaimana selanjutnya? Kau sudah tahu siapa yang akan kau pilih?”

” yeoja ceroboh itu hampir tewas kemarin. Ia menyebrang jalan dan sebuah mobil hampir melindasnya.” Yonghwa akhirnya menyadari apa penyebab Minho menjadi lebih banyak melamun.

” Ia tidak akan tewas dengan kau disisinya, aku sudah pernah mengatakan padamu bahwa kau hanya harus mengikuti kata hatimu. Kadang yang nyaman tidak harus sesuai dengan kriteria mu bukan?”

” Kau gila? Kau memintaku memilih Jiyeon? Yang benar saja! Jiyeon tidak akan bisa berbaur dengan masyarakat atas, ia bahkan tidak bisa memakai high hells dengan benar dan belum tentu mereka bisa menerimanya. Berbeda dengan Naeun, orang tuaku sangat menyukainya dan jika aku menikah dengan Naeun otomatis aku bisa menguasai pasar bisnis dan tidak ada yang dapat menghentikanku.” Minho mencoba menapik sesuatu yang semakin muncul kepermukaan perasaannya.

” Ya, dengan kau menikahi Naeun kau akan menjadi pengusaha paling kaya dibidang bisnis. Tapi jangan lupa kau namja yang cerdas dan tanpa Naeun serta appanya kau bisa menguasai pasar bisnis dengan mudah. Apa kau pikir kau akan bahagia jika menikahi yeoja semacam Naeun? Ia bahkan tidak bisa memasak, walau aku akui ia memang lebih unggul dari pada Jiyeon jika dibidang fashion dan Naeun cukup mudah bergaul. Tapi aku mengenalmu sejak dahulu, aku tahu kau bahkan tidak bisa berada jauh dari Jiyeon berbeda dengan Naeun. Bahkan kau tidak memperdulikannya.”

” Pernikahan tidak bisa berdasarkan hanya dari kata nyaman, dan aku tidak membutuhkan itu. Bukan pernikahan seperti itu yang ingin ku bangun, Naeun adalah yeoja yang cocok menjadi pendampingku dan tidak ada yang bisa merubah hal itu. Jangan naif, masyarakat atas banyak yang menikah karena level kehidupan dan banyak yang menikah karena saling menguntungkan dan aku akan memilih jalan itu. Mungkin ia memang tidak seperti Jiyeon, namun Naeun adalah yeoja yang akan membuatku bangga dengan sikapnya yang sangat baik dimata umum.” Ucap Minho dengan nada yakin namun ada sedikit nada lemah didalam suaranya membuat Yonghwa tersenyum.

” Jika aku menjadi dirimu, aku akan memilih yeoja yang membuatku nyaman. Aku tidak akan memperdulikan pandangan orang, yang pasti aku bahagia dengan pilihanku. Kau tahu? Aku berani bertaruh hari ini! Bahwa kau Choi Minho suatu saat nanti akan memilih Park Jiyeon dari pada Naeun. Aku berani bertaruh yang akan menjadi isteri masa depanmu adalah Park Jiyeon! Aku yakin, kecuali jika yeoja itu lebih dahulu diambil darimu.”

” maksudmu? Siapa yang akan mengambilnya?”

” Dua hal yang bisa mengambilnya. Myungsoo dan Tuhan , jika myungsoo tidak bisa mengambilnya darimu,Tuhan yang akan mengambilnya darimu.” Yonghwa menepuk pundak Minho perlahan dan berjalan keluar dari ruangan meninggalkan Minho yang terdiam. Mengapa Yonghwa seolah mengatakan bahwa ia akan kehilangan Jiyeon?

***

Jiyeon mencengkram tasnya dengan wajah pucat pasi, ia masuk kedalam kamarnya dan mengunci pintu. Padahal tadi Minho sudah mengatakan bahwa Jiyeon harus pulang bersama namja itu namun keadaan tidak mendukungnya sekarang. Tubuhnya mulai melemah, nafasnya mulai tak beraturan, keringat mulai membasahi tubuhnya. Jiyeon membuka laci disamping tempat tidurnya dengan wajah yang semakin memucat, tangannya bergetar saat ia mengambil sebuah botol kecil dan sebuah suntikan.

Ia membuka botol itu dan mengambil cairannya menggunakan jarum suntik dan menyuntikan cairan itu ketubuhnya, ia menangis saat merasakan rasa sakit itu semakin menghantamnya. Tubuhnya melemas diatas kasur dan beberapa saat kemudian rasa sakit itu perlahan mulai berkurang dan memudar.

Ponselnya berdering, Minho menghubunginya.

” Yoboseyo?”

” kau lupa? Aku sudah mengatakan kau pulang bersamaku hari ini. Dimana kau?”

” Aku dirumah.”

” mwo? Aku menunggumu dihalte busway sejak tadi. Arraseo, aku akan menjemputmu disana.”

” ehm.. nde.”

Jiyeon menutup sambungan telepon dan menatap botol kecil penunjang hidupnya, ia menangis dalam diam. Ia tahu ia tidak bisa selalu bergantung pada botol kecil ini, dan entah berapa banyak uang yang terbuang untuk membelinya. Minho selalu memberikan uang untuknya, dan dengan uang itu ia membeli botol kecil berharga mahal itu.

Ia menatap keluar jendela dengan wajah murung, jika suatu saat obat ini semakin tidak bisa melawan penyakitnya… apa itu artinya ia akan meninggalkan Minho? Ia bahkan tidak sanggup membayangkannya, ia tidak ingin berpisah semenit pun dari Choi Minho.

Jiyeon berjalan kearah lemarinya dan mengganti seragamnya yang penuh keringat dengan baju santai, Minho akan curiga jika melihat keadaan Jiyeon yang jauh dari kata sehat. Penyakit itu memang kadang-kadang datang tiba-tiba dan ia bersyukur penyakitnya tidak datang saat ia bersama Minho. Mungkin jika namja itu tahu bahwa ia hanyalah seorang yeoja berpenyakitan namja itu akan menjauhinya dan memilih Naeun yang lebih baik ketimbang dirinya.

Jiyeon membuka ponselnya saat sebuah pesan masuk. Ternyata pesan itu dari Myungsoo yang mengajaknya untuk pergi ke pameran lukisan minggu depan sebagai ganti namja itu begitu sibuk beberapa hari ini, Myungsoo sangat sibuk dengan kegiatan disekolah. Jiyeon membalas pesan itu dan menyetujuinya.

***

” Wajahmu terlihat pucat.” Itu kata pertama yang keluar dari mulut Minho saat Jiyeon keluar menghampirinya, namja itu menatap wajah Jiyeon intens dan dijawab dengan senyuman lebar dibibir Jiyeon. Walaupun yeoja itu memoleskan lipstik yang tidak terlalu mencolok namun masih terlihat beberapa gurat pucat diwajahnya.

” perasaanmu saja.”

” kau sakit? Apa perlu kita mengantarmu kerumah sakit?”

Jiyeon terlihat terkejut dengan usul Minho dengan segera menggeleng, jika ia membiarkan Minho mengantarnya namja itu akan mengetahui penyakitnya dan ia tidak menginginkan hal itu. Minho tidak boleh mengetahui penyakitnya.

” T..Tidak perlu, aku hanya kelelahan. Aku sudah meminum obatku.” Minho menatapnya dengan curiga. Dan pada akhirnya namja itu mengangguk.

” baiklah.”

Minho masuk kedalam mobil sport mewahnya diikuti oleh Jiyeon.

” Kau masih berteman dengan Myungsoo?”

” Ya, namun belakangan ini ia sibuk karena kegiatan osis.”

” oh.”

Mereka berhenti disebuah restaurant khas jepang, Jiyeon menatap Minho dengan wajah bingung. Bukankah Minho berencana mengajaknya ke apartemen?

” Kita harus makan terlebih dahulu, wajahmu pucat dan aku benci bercinta jika kau terlihat lemah seperti ini.” Minho mengambil dompet dan ponselnya kemudian mengajak Jiyeon turun. Jiyeon menunduk dan mengikuti Minho yang kini menggenggam jemarinya, ia mencoba melepaskan genggaman Minho namun namja itu menahannya.

Minho tidak pernah seperti ini, biasanya namja itu akan berusaha berada jauh darinya. Namun kini, namja itu bahkan seolah tidak ingin melepaskan genggaman tangannya pada jemari Jiyeon.

Mereka memasuki restaurant khas jepang itu dan Minho memesan sebuah private room, Jiyeon menatap tempat itu dengan pandangan menilai. Restaurant ini jelas memang untuk orang-orang kelas atas, desainnya begitu mewah dan harga private room yang dipesan Minho untuk mereka bahkan setara dengan gaji 3 bulan pegawai perkantoran.

Yup, Minho adalah namja kaya. Menurutnya nominal uang sebanyak itu bukan apa-apa untuknya.

Beberapa menit kemudian makanan mulai berdatangan, Jiyeon merasa air liurnya akan menetes melihat ikan segar besar yang terpajang didepannya dan beberapa makanan lainnya. Ia menyendokkan ikan itu ke piringnya dengan bersemangat, Minho menatap Jiyeon dengan senyuman kecil yang hinggap dibibirnya.

Jiyeon terlihat sangat menikmati makanan yang ada dihadapannya, yeoja itu makan dengan tidak beraturan dan sekali melihatnya orang pasti akan tahu Jiyeon bukan dari keluarga kalangan atas. Yeoja itu makan dengan begitu cepat , berbeda dengan Naeun yang biasa makan sesuai dengan tata krama.

Jiyeon dan Naeun adalah dua yeoja berbeda, dari sikap maupun kedudukan. Mungkin jika Jiyeon adalah keturunan kaya raya, ia akan memilih jiyeon. Namun hayalan hanyalah hayalan, kehidupannya tidak menerima Jiyeon. Yeoja itu akan menderita jika menjadi pendamping hidupnya, Jiyeon tidak bisa menerima tata krama kalangan atas apalagi keluarganya yang bersikap sangat menjunjung tinggi kesopanan dan kehormatan.

Saat ia tengah melamun menatap jiyeon, ponselnya berdering.

” yoboseo?”

” Minho.”

” Nde?”

” Kau dimana?” Minho menatap Jiyeon yang kini menatapnya dengan wajah bertanya. Minho memberi petunjuk bahwa yang menghubunginya adalah Naeun.

” ada apa?”

” aku melihat mobilmu didepan restaurant, kebetulan aku dan teman-temanku ingin makan bersama. Apakah kau bersama teman-temanmu? Bisakah aku bergabung?” Mata Minho melirik Jiyeon yang kini melanjutkan makannya.

” Anni, kau bisa memesan room lain. Aku akan menemuimu setelah selesai.”

” Benar-benar tidak bisa? Arraseo, aku akan mengirimmu pesan nomor roomku.”

” ya.”

Minho mematikan sambungannya.

” Jika kau ingin bergabung bersama mereka, aku akan menunggumu disini.” Ucap Jiyeon sambil tersenyum. Minho menggeleng.

” Tidak, kau makanlah. Aku akan menunggumu.”

” Minho.”

” Habisi makananmu, aku tidak ingin melihatmu terlihat pucat lagi.”

” ehhm arraseo.”

Jiyeon diam-diam melirik Minho yang kini mulai ikut memulai makan, namja itu bertambah perduli padanya sekarang. Bukan berarti dulu Minho mengabaikannya, hanya saja sekarang Jiyeon merasa ia lebih dari seorang yeoja tidak berarti. Kini ia merasa…

Ia penting.

***

Naeun menutup ponselnya dan menatap Yuri dengan wajah muram.

” ia tidak mau bergabung.”

” aneh sekali, biasanya Minho tidak pernah menolakmu.” Timpal Sohyun

” benar, aku penasaran ia pergi dengan siapa.” Ucap Naeun dengan wajah muram.

” apakah Minho berselingkuh dibelakangmu?” Tanya Yuri menambah kecurigaan Naeun.

” Tidak mungkin, Minho tidak mungkin memilih bersama yeoja lain dibandingkan diriku. Aku mengenal baik Minho.” Naeun mencoba menghilangkan kecurigaannya dan memesan room pada seorang pelayan.

Naeun menatap ponselnya selagi makanan yang mereka pesan datang, ia menatp foto-foto yang ia ambil bersama Minho sejak mereka kecil hingga beranjak dewasa. Sejak kecil ia sudah mencintai Minho, Minho namja yang sangat tampan dan hal diinginkan yeoja  ada pada Minho dan ia sempurna. Jika kesempurnaan tidak ada didunia ini, Minho adalah namja yang mendekati kesempurnaan. Sejak kecil pula ia belajar menjadi seorang yeoja bangsawan yang baik, ia belajar merajut, ia belajar bagaimana cara makan yang baik, ia belajar berjalan diatas high hells tinggi dan ia juga belajar tersenyum anggun. Semua itu ia lakukan agar kelak jika ia menjadi isteri seorang choi Minho , ia akan bisa menyamai kesempurnaam Minho dan mereka akan menjadi pasangan yang begitu serasi.

Belakangan ini minho memperlakukannya dengan berbeda, bukan berbeda dalam hal lain. Minho memang tetap memperhatikannya, namja itu juga selalu mengirimkan pesan selamat tidur atau selamat pagi namun ia tahu bahwa sejak dulu Minho menyayanginya hanya sebagai seorang dongsaeng. Minho selalu mengatakan bahwa namja itu sangat mencintainya sebagai seorang adik, namun ia tidak mencintai minho sebagai seorang kaka.

Ia mencintai minho sebagai seorang namja.

Sejak dahulu ia dan minho tidak pernah terpisahkan, bahkan ia tidak bisa jauh dari minho sedikitpun dan saat sekolah menengah pertama keluarganya pindah ke jerman karena appanya memiliki beberapa pekerjaan disana, dan tidak sampai tiga tahun ia dipindahkan kembali ke korea selatan karena ia tidak bisa tanpa Minho.

Namun saat ia kembali, ada yang berbeda dari pancaran wajah namja itu. Minho terlihat berbeda, ia terlihat lebih hidup dan lebih menikmati hidupnya. Naeun sering bertanya dalam pikirannya, apa yang membuat minho berbeda dan ia mengira penyebabnya adalah kembalinya ia ke seoul, mungkin namja itu bahagia bisa bertemu lagi dengannya.

Saat sekolah menengah atas,Minho memutuskan untuk pindah dan tinggal sendiri disebuah apartement. Ia tidak pernah tahu dimana apartement itu, Minho menyembunyikannya dan Naeun tahu bahwa ia harus tetap diam tanpa mengusik privasi Minho.

Saat ia pindah kesekolah Minho, ia mengenal Park Jiyeon. Gadis berkacamata yang selalu menatap minho dengan tatapan penuh cinta yang membuat Naeun jijik, walaupun Minho menampilkan wajah datar saat bertemu Jiyeon. Naeun tahu, ia mengenal Minho sama seperti ia mengenali dirinya sendiri.

Namja itu menatap Jiyeon dengan tatapan yang membuat Naeun merasa hatinya ditancap beribu pisau yang tajam.

Minho boleh berpura-pura mengabaikan jiyeon si nerd, namun naeun tahu bahwa minho selalu memperhatikan yeoja itu dalam diam. Entah apa hubungan yang terjalin diantara mereka, yang pasti minho tidak begitu gila dengan memacari yeoja dari kasta rendah seperti jiyeon.

***

Mereka tiba diparkiran yang berada dilantai bawah apartement Minho.

” Kau lebih dahulu naik ke lantai atas, aku akan menyusulmu. Ada beberapa pekerjaan yang harus ku lakukan” Jiyeon mengangguk dan membuka pintu mobil Minho, Minho meronggoh kantung celana miliknya dan menatap ponselnya. Ada beberapa panggilan tak terjawab dari Naeun.

Beberapa detik kemudian Naeun kembali menghubunginya.

” Yoboseyo?”

” Minho? Kau dimana? Aku menunggumu.”

” aku tidak bisa menemuimu.”

” bukankah tadi kau sudah berjanji?”

” Mian, ada beberapa urusan mendesak. Maafkan aku, sebagai gantinya bagaimana kalau besok aku menjemputmu.”

” ehm… arraseo.”jawab Naeun dengan suara agak kecewa. Minho memutuskan sambungan teleponnya dan menatap lahan parkiran sepi, ada beberapa orang yang terlihat berjalan masuk atau keluar.

Saat ia akan keluar, sesuatu menarik perhatiannya. Jiyeon sepertinya tidak sengaja meninggalkan botol kecil ditempat duduk disamping kemudi. Minho memperhatikan botol kecil itu dengan wajah bingung, cairan apa yang berada didalam botol kecil ini?

Sebaiknya ia kembalikan untuk Jiyeon, yeoja itu mungkin mencarinya.

Belum sempat ia beranjak, Jiyeon kembali dengan wajah memucat dan meronggoh kantong tasnya dengan panik. Minho yang melihat hal itu menghampiri Jiyeon, namun sebelum itu ia menyimpan botol kecil itu dikantong jaketnya.

” wae?”

” ak..aku meninggalkan sesuatu dimobilmu.” Jiyeon membuka pintu mobil dan terlihat sangat panik.

” Apa yang kau cari?”

” apakah kau melihat sesuatu ditempat dudukku saat aku meninggalkan mobil?” Tanya Jiyeon dengan wajah penuh kepanikan, kepanikan Jiyeon membuat Minho mulai menyimpan kecurigaan dihatinya.

” aku tidak melihat apapun, benda macam apa yang membuatmu sepanik itu?”

” kau benar-benar tidak melihatnya?”

” anni, mungkin kau menjatuhkannya ditempat lain.” Jiyeon menghela nafas lega dan menatap kearah lain sambil mengatur nafasnya yang terengah.

” apakah barang yang kau cari sangat penting?”

” a…anni, itu hanyar sebuah kalung yang kubeli kemarin.” Gugup Jiyeon.

‘ kau membohongiku, ada apa sebenarnya?’ Batin Minho curiga. Namun itu kembali menampilkan wajah santai , agar Jiyeon tidak mencurigainya.

To be continue

68 thoughts on “Strong : 2. Jiyeon’s Secret

  1. baru baca part 1 dan 2 nyaa… jalan ceritanya makin kerenn…
    jiyeon sakit apaa.. duh penasaran bangettt.. moga next partnya gak kelamaan….
    Semangat nulisnya ya min ><

  2. Jiyeon sakit ? Hiv kah? Duh belom siap ngeliat jiyeon ninggalin minho. Ga siap sama kalimat yonghwa yang “Diambil Tuhan” pliis jangan ada kematian disiniii T_T lanjuuut

  3. ak telattt baca n lanjutan…
    dan seperti biasa, ceritamu kerennnn

    ayo minho cek t isi obat. ak jga penasaraan sakit ap sih jiy jd dia sering merasa sakit ??
    meski ak baper baca ceritany..
    aplg dg pmikiran minho. heuhh ak gk setuju

    next part dtunggu

  4. minho mulai mementingkan jiyi lagi,,,
    gx setuju ama pemikiran minho soal pernikahan, tapi terserah minho nantinya kalau bakalan nyesel.
    younghwa aja yakin gitu.
    myung lagi sibuk,.
    eh eh ehh-, jiyi sakit apa? sudah berapa lama? moga penyakit jiyi bisa disembuhkan.
    lanjut bella eonnie…

  5. Ya ampun shock bgt pas jiyeon mau ketabrak. Udh bayangin yg nggk2 aja. Untung msih selamat.
    Dan oh my… jiyeon sakit parah y kyknya? Byngin kalo di suatu saat msuk rumah sakit atau kmgkinan trburuk mininggl gr2 penyakitnya nysek buanget

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s