Strong : 1. ILY

image

Main Cast : Park Jiyeon, Choi Minho

Warning! Adult Content

Note : hello! Author back! Jangan lupa tinggalkan komentar ya, btw komentarnya jangan hanya next thor atau bagus thor bla bla lanjut atau sebangsanya. Komentar kalian menentukan seberapa cepat fanfiction ini dilanjutkan. Dan cerita kali ini mengandung Adult Content yang hanya diperuntukan untuk 17+ keatas , jangan protes dengan alur karena cerita ini mungkin agak bagaimana . Namun, cerita ini mungkin sering terjadi sekarang dikalangan para remaja. So jangan salahkan author kalau mungkin agak vulgar. Yang anak kecil gak boleh baca ya! Ingat umur dek.

Mungkin partnya hanya terdiri dari 2-3 chapter dan setelah itu ending.

Ada yang mengatakan bahwa masa-masa Sekolah Menengah Atas adalah masa paling bahagia. Dimana kita tahu arti dari sebuah persahabatan dan Cinta.
Persahabatan?

Cinta?

Apakah aku memiliki itu?

***

Dari ujung koridor sekolah aku melihatnya, ia tertawa keras dengan beberapa namja yang berjalan disamping kiri dan kanannya. Mereka adalah para namja Most Wanted disekolah ini dan termasuk daftar namja-namja berkuasa yang ditakuti. Beberapa murid terlihat menyingkir dari hadapan mereka dan beberapa yeoja terlihat menatap mereka dengan tatapan mendamba penuh cinta.

Aku berpura-pura sibuk membaca buku ditanganku sambil mencuri pandang padanya, namja yang sudah lama singgah dihatiku dan didalam mimpi-mimpiku.

Langkah kaki mereka terdengar semakin mendekat dan entah mengapa aku malah menjadi gugup dan merasa salah tingkah, tetapi rasa gugupku digantikan dengan rasa terkejut saat salah seorang dari mereka mengambil buku ditanganku. Kemudian terdengar gelak tawa.

” Wah…wah… Si Cupu membaca Novel erotis, lihat apa yang ia baca! Fifty Shades of Grey.” Teriak Yon ju , namja yang berada dikelas yang sama denganku dan termasuk salah satu namja yang sering membully dan menjahiliku. Aku menatap para siswa dan siswi yang mulai memandangiku dan berbisik.

Sebenarnya aku tidak pernah membaca novel genre dewasa, novel itu bukan milikku tentu saja! Novel itu terlalu mahal untuk yeoja dengan ekonomi sepertiku, novel itu milik namja yang sekarang menatapku dengan tatapan yang tidak dapat dijelaskan.

” Jeongmal, aku tidak menyangka bahwa kau bisa membaca novel bergenre dewasa!” Yon ju kemudian mengangkat novel itu tinggi-tinggi , dengan panik aku mencoba meraih novel itu bagaimanapun aku mendapatkannya kembali.

” Kembalikan.”

” Anni, berikan aku sebuah ciuman kalau kau mau aku kembalikan novel ini. Aku penasaran dengan ciuman gadis Nerd sepertimu dan apakah kau sudah mempelajari cara berciuman dari novel ini.”  Aku menutup mataku gelisah, Yon Ju tersenyum evil.

” A…aku tidak akan menciummu!”

” Yeoja Nerd ini berani menentangku, atau perlu aku memaksamu menciumku?”

Tiba-tiba tangannya merangkul bahuku dengan kasar dan mendekatkan wajahnya padaku, aku mencoba melawan dan saat bibirnya hampir menyentuh bibirku sebuah tamparan melayang diwajahnya. Aku sedikit memekik dan terdengar suara terkesiap.

” Jangan.pernah.menyentuhnya.lagi!” Ucap namja itu penuh dengan penekanan, Yon Ju terdiam penuh ketakutan. Namja itu berjalan pergi sambil membawa novel Fifty Shades yang aku baca tadi, sedangkan semua murid juga saling bertatap satu sama lain. Yon Ju menyeka darah disudut bibirnya dengan tangan bergetar.

***

” Kalian sudah mendengar kabar? Choi Minho membela si Cupu Park.”

” Mwo! Jeongmalyoooo?!”

” Nde, bahkan Yon Ju Oppa mendapatkan bogem mentah darinya. Omo!”

Aku hanya menunduk diam sambil tetap pura-pura membaca buku dikursiku, walaupun telinga ku tetap mendengar pembicaraan mereka.

” Tidak biasanya Choi Minho membela murid lain, apalagi si Cupu Park.”

” Jangan bilang Park Jiyeon adalah yeojachingu Choi Minho?”

“Mwoya? Hahahah kau bercanda?! Tidak mungkin, mereka jelas berada dilevel yang berbeda dan Choi Minho tidak akan menyukai kutu buku seperti Jiyeon. Sekarang Minho bukankah menjalin kasih dengan Lee Kyuri dari kelas sebelah? Belakangan ini Kyuri berkoar-koar tentang hubungannya dengan Minho.”

” Aku tidak yakin jika Kyuri yeojachingu Minho, Yeoja itu suka membual.”

Aku menghela nafas berat mendengar gosip dari chingu-chinguku yang bahkan dengan sengaja membesarkan volume suara mereka untuk menyindir diriku. Aku mengeluarkan ponsel keluaran baru milikku, aku terpaksa menggunakan ponsel itu jika aku tidak memakainya namja ‘itu’pasti akan sangat marah dan kesal, dan kemarahannya adalah hal paling menakutkan menurutku, aku tidak mau berurusan dengan kemarahannya.

Aku mengeluarkan Headsheat milikku kemudian mendengarkan lagu untuk menghalauku dari ucapan-ucapan chingu-chinguku yang kadang berbicara dengan begitu kasar dan tidak manusiawi.

Lebih baik begini, walau mereka mencemohku aku tidak akan mendengarkannya. Terlahir menjadi gadis pemalu dan tidak bisa melakukan perlawanan membuatku selalu di tindas oleh orang lain tanpa bisa membalas. Saat sekolah menengah pertama aku tanpa sengaja membuat sebuah masalah dengan anak paling nakal dan tentu saja paling tampan dan most Wanted disekolah. Masalah yang aku buat adalah tanpa sengaja menjatuhkan barang mahal miliknya, barang yang aku ketahui sedang ramai dibicarakan masa itu. Saat itu aku terburu-buru untuk pulang karena eomma pasti kesusahan mengurus kedai sendiri dan karena kecerobohanku aku tanpa sengaja menabraknya.

Barang mahal itu terjatuh menjadi dua bagian, aku tidak tahu bagaimana bisa tetapi aku tahu jika itu barang mahal. Namja itu berteriak marah padaku dan beberapa hari kemudian sekolah adalah neraka. Orang-orang yang membullyku bertambah banyak dan tidak ada hentinya, di lokerku banyak ancaman-ancaman mengerikan dan gambar neraka. Sebagai seorang gadis kecil aku tentu saja takut dan tidak berniat mengatakan hal ini kepada eomma, aku takut eomma malah bertambah susah karena masalah yang ditanggungnya sudah lumayan banyak.

Aku tidak menyangka masalah barang mahal itu dapat memburuk dan membuatku harus kehilangan beasiswaku, namja angkuh itu ternyata anak dari penanam modal terbesar disekolah dan dengan begitu ia dengan gampang mencabut beasiswa yang aku dapatkan dengan begitu susah payah.

Aku tidak boleh berhenti sekolah, jika aku berhenti sekolah, eomma akan kecewa. Hanya aku harapannya untuk membuat keluarga kami terangkat dari kemiskinan dan jika aku harus kehilangan beasiswaku, aku harus mengatakan apa pada eomma? Aku lebih baik mati dibandingkan melihat senyumannya yang sebenarnya adalah kesedihannya. Apalagi appa adalah pemabuk berat dan namja itu bahkan tidak pernah pulang lagi setelah membawa uang eomma yang eomma tabung untuk biaya sekolahku.

Jadi sore itu aku sama saja mencari mati, saat pulang sekolah aku menghampiri namja nakal itu untuk mengasihaniku dan memberikan maaf padaku dan permintaannya membuatku tidak berkedip sedikitpun. Kami masih duduk dibangku kelas 2 sekolah menengah pertama dan ia memintaku menjadi pelacurnya! Aku ulang PELACURNYA!

Umurku bahkan saat itu baru 14 tahun dan aku baru mengalami menstruasi , bahkan bentuk tubuhku masih belum tumbuh sempurna. Namja itu tinggi, putih dan tampan walaupun dia agak gila. Beberapa hari aku mencoba menghindar, aku tidak mungkin menjadi pelacurnya dengan umur kami yang masih sama-sama belia. Tetapi komite semakin mengejarku dengan uang sekolahku yang sudah menunggak beberapa bulan.

Akhirnya keputusan telah aku ambil, demi eommaku dan masa depanku yang aku harap dengan pengorbanan ini akan benar-benar cerah dan dapat aku pertahankan. Aku menjadi seorang pelacur diusia 14 tahun, bukan pelacur dalam arti kata pelacur yang menjajakan tubuh ke namja-namja hidung belang. Hanya ia yang merasakan tubuhku untuk pertama kali dan seterusnya, hanya Choi Minho yang mengambil keperawananku untuk pertama kali dengan begitu lembut dan juga penuh nafsu.

Saat ia merenggut keperawananku, yang aku rasakan hanya rasa sakit. Beberapa hari aku berbohong pada eomma dan menyembunyikan rasa sakitku, walau aku tahu eomma menyimpan kecurigaan padaku namun berusaha memakluminya. Dan sampai sekarang, aku masih menjadi peredam hasrat Choi Minho yang begitu besar ,apalagi saat ia beranjak remaja dan hormon gairahnya meningkat. Aku harus rela saat ia menarikku ke gudang belakang sekolah dan melakukan hal itu, bahkan kadang ia membawaku pulang ke apartemen miliknya dan melakukannya hingga berkali-kali.

Aku pelacur kecil mengerikan.

Tetapi biarpun aku mungkin hanya pemuas nafsunya, ia berlaku baik padaku. Ia membelikan apapun untukku, ia membiayai sekolahku sejak aku sekolah menengah pertama dan dengan menjadi pemuas nafsunya, ekonomi keluargaku terangkat. Eomma menganggap bahwa bantuan Minho adalah murni kebaikan hati Minho dan karena Minho memang ingin membantu kami.

Tanpa eomma tahu bahwa aku mengorbankan hidupku untuk hal itu, hidupku dan keperawanan yang harusnya aku jaga untuk namja dimasa depanku yang akan menikahiku. Karena aku tahu hubunganku dan Minho tidak akan bertahan kekal atau selamanya, namja itu sudah sering memperingatkanku tentang hubungan tanpa cinta. Bahkan aku harus menahan hatiku saat Minho memiliki kekasih, aku tahu bahwa aku hanya pemuas nafsunya. Aku tidak tahu apa yang ia lakukan bersama kekasih-kekasihnya, tetapi aku berharap hanya aku yang menjadi tempatnya pulang.

Yang aku tahu, hanya diriku yang pernah disentuh olehnya. Aku yang pertama untuknya sebagaimana ia menjadi yang pertama untukku.

***

Lonceng berbunyi , para siswa berhamburan keluar dari kelas sedangkan aku masih tetap berada dikursiku dan menatap keluar jendela. Minho berada dilapangan basket dan terlihat dengan mudah memasukan bola kearah ring basket dan mendapatkan tepuk tangan bangga dari pelatih basket mereka. Minho mengatakan bahwa hari ini mereka menentukan Kapten tim basket, sepertinya ia terpilih kali ini.

Minho juga sering menceritakan bahwa ia tidak menyukai salah satu anggota di tim basketnya, Kim Myungsoo. Entah apa yang membuat Myungsoo selalu sinis jika berhadapan dengan Minho, padahal Myungsoo adalah namja yang baik. Beberapa kali ia pernah membantuku saat aku kesusahan, tugasnya sebagai ketua osis membuatnya begitu ramah dan aku menyukai namja sepertinya yang begitu baik dan tak pandang bulu. Tetapi biarpun begitu, namja yang berhasil menggenggam hatiku hanya Choi Minho seorang.

Dering ponsel memecahkan lamunanku, nama Minho tertera disana. Aku melihatnya berdiri dipinggir lapangan basket sambil memegang ponselnya, dengan perlahan aku mengangkatnya.

” Ya?”

” Kau dimana?”

” Aku berada dikelas.”

” Pergi ke Halte Busway, aku akan menjemputmu disana.”

” Baiklah.”

Ia langsung mematikan sambungan teleponnya, aku menghela nafas pelan. Minho memang tidak ingin ada yang mengetahui hubungan kami, jadi jika ingin bertemu atau membawaku pulang ke apartemen miliknya aku harus pergi ke Halte Busway yang lumayan dekat dengan sekolah.

Ya aku cukup sadar diri bahwa aku tidak pantas jika pulang bersama pangeran sekolah, dia terlalu susah digapai dan aku termasuk beruntung bisa menjadi yeoja yang lumayan dekat dengannya.

Aku beranjak dari kursiku dan berjalan keluar dari kelas, saat aku melewati sebuah kelas aku mendengar suara-suara yeoja. Entah bagaimana aku mendengar mereka menyebut nama Minho, membuatku dengan berani menguping pembicaraan mereka.

” Choi Minho? Kalian tahu ia sangat sulit didekati.”

” Tapi kau adalah ratu sekolah, jika kau bisa mendapatkannya aku akan dengan cuma-cuma memberikan mobil yang baru aku beli kemarin untukmu. Lagipula kau sudah jatuh hati padanya, dia tampan dan kau tidak rugi.” Aku mengenal yeoja itu, dia Choi Hyera.

Salah satu yeoja paling kaya disekolah ini, walaupun ia masih tidak dapat menandingi kekayaan sang Choi Minho yang memiliki kekayaan yang akan membuatmu menganga seketika sama seperti ku.

” Ya,aku memang sangat menyukainya. Ia benar-benar type namja yang sempurna, tetapi aku ragu. Aku pernah mencoba mendekatinya dan dia mengabaikanku, bayangkan betapa malunya aku!” Aku tahu Choi Hyera, aku pernah mendengar Minho menceritakan tentang Hyera. Minho berpendapat bahwa Hyera gadis yang cantik, modis, kaya dan selevel dengan Minho. Namun namja itu mengatakan bahwa namja itu tidak menyukai wajah hasil operasi.

” Keluarga Hyera begitu terpandang, namun bukan rahasia lagi jika keturunan mereka begitu buruk. Aku tidak mau keturunanku akan sama buruknya.” Itu yang Minho katakan dan ia tertawa saat itu.

***

Nerd. Aneh. Menjijikan

Aku mengakui bahwa aku aneh dan Nerd, hanya saja mengapa mereka mengatakan bahwa aku menjijikan? Aku tidak pernah membuang sampah sembarangan, aku tidak pernah buang angin dihadapan mereka, aku bahkan tidak pernah melakukan hal kotor lainnya dihadapan mereka.

Kalau bukan karena Minho, aku tidak mungkin ingin masuk ke sekolah ini. Sekolah ini tentu saja tidak cocok untuk yeoja dengan ekonomi seperti diriku,apalagi sekolah ini berisikan anak-anak yang memang terlahir sebagai orang kaya raya. Aku tidak pernah menyalahkan takdir, hanya saja kadang takdir agak begitu kejam padaku.

Aku pulang dan tidak menemukan eomma, biasanya eomma pergi ke kedai miliknya. Aku mengganti seragam dengan pakaian rumah yang biasanya ku gunakan dan mulai menyiapkan makan malam untuk eomma dan membersihkan rumah. Eomma sudah menjadi satu-satunya orang tua untukku setelah appa pergi dan lebih memilih simpanan gelapnya serta membawa kabur uang usaha eomma dan uang sekolahku.

Setelah selesai menyiapkan makan malam dan membersihkan rumah, aku masuk kedalam kamarku dan memutuskan untuk membersihkan tubuhku yang terasa lengket oleh keringat. Aku membuka kacamataku dan ikat rambutku, membiarkan rambut cokelatku terurai. Minho tidak pernah mengatakannya secara langsung, tetapi aku tahu ia sangat menyukai rambut cokelatku jika terurai walaupun ia sangat tidak suka jika aku mengurai rambutku dihadapan orang lain selain dirinya dan eommaku tentunya.

Aku membuka pakaianku dan melihat kiss mark dileherku, lagi-lagi ia meninggalkan kiss mark dileherku tetapi setidaknya ia tidak meninggalkan kiss mark dileherku sebanyak kiss mark yang ia tinggalkan ditubuhku.

Dengan bertambah besarnya kami, hasrat remaja semakin membesar apalagi Minho yang lebih buas dari dirinya dulu. Dahulu kami masih tidak berpengalaman walaupun begitu namja itu berhasil menembusku diumurku yang masih belasan dan belia. Aku masih mengingat dengan jelas bagaimana rasa sakit yang seperti membunuhku itu, tetapi kemudian rasa itu mengajarkanku tentang kenikmatan dunia. Aku tidak tahu apa yang terjadi jika eomma mengetahui hal ini dan betapa kecewanya ia, aku sama saja menjual tubuhku.

Aku duduk disamping kasur dan meraih ponsel ku, seperti biasa hal pertama yang aku buka adalah aplikasi Line. Tidak ada pesan sedikitpun dari Minho, hanya ada pemberitahuan grup kelas yang terlihat ramai. Aku tidak pernah muncul hanya untuk sekedar berkomentar digrup kelas, aku hanya merasa tidak nyaman.

Kemudian aku membuka instagram dan wajahku sedikit muram saat membuka instagram milik Minho, instagram dengan pengikut hampir ratusan ribu padahal Minho sangat jarang mengupload foto-foto. Ia lebih suka mengirim gambar-gambar pemandangan yang ia dapat dengan kamera mahalnya dan kadang mengupload fotonya bersama chingu-chingunya saat berkumpul di bar atau restaurant mewah.

Minho bukan sosok yang pendiam dan bukan pula sosok yang ceria, ia namja cool yang dapat membuat seorang yeoja jatuh cinta dan kemudian mematahkan hatinya dalam hitungan detik. Sama seperti para orang-orang kaya pada umumnya, Minho bergaul dengan orang-orang dari kalangan atas sepertinya. Mungkin hanya aku satu-satunya teman dekatnya yang berasal dari kalangan bawah, itupun jika ia mengakuiku sebagai temannya. Karena setiap berpaspasan disekolah kami seperti dua orang yang tidak pernah mengenal sedikitpun, jangankan mengenal huft… jika berpaspasan saja kadang ia sama sekali tidak melirikku sedikitpun.

Minho mengikuti 10 orang diinstagram miliknya, tentu saja aku tidak masuk dalam list itu. Minho hanya mengikuti orang-orang yang dekat dengannya , padahal aku orang yang dekat dengannya namun ya aku sadar bahwa kami berbeda.

Kembali membahas instagram milik Minho, ia mengupload foto 5 menit yang lalu. Foto yang menampilkan seorang namja dan seorang yeoja yang duduk berdampingan dan terlihat tersenyum kearah kamera, aku tahu tempat itu sebagai salah satu bar terkenal dikota ini. Yeoja itu Kim Naeun, sahabat masa kecil Minho.

Minho memperlakukan Naeun berbeda dari ia memperlakukan yeoja lainnya, ia memperlakukan Naeun dengan berbeda dan lebih lembut. Aku tahu mereka bersahabat dan mengenal sejak kecil, namun hati kecilku begitu iri dengan kedekatan dan cara Minho memperlakukan Naeun.

Aku membaca komentar-komentar yang ditinggalkan orang-orang.

@HeechulXoxo : cute couple!

@JongIn25 : Wahwah! Pasangan terpanas.

@QueenHyera : aku cemburu ^^

@YongHwa : Kalian begitu serasi! Hmm, terlihat jelas saling mencintai.

@MinhoChoi : @YongHwa Diamlah! Hahaha You know me so well bro.

@YongHwa : Yeah, good luck bro!

Aku menghela nafas pelan, aku benci berharap! Tetapi aku hanya seorang yeoja, aku tidak kebal dengan pesona Minho. Ia terlalu tampan untuk diabaikan.

***

Aku duduk disalah satu meja kantin sekolah sambil membawa bekal yang disiapkan eomma untukku, aku tersenyum saat melihat makanan kesukaanku terhidang disana.

” Ayam.” Bisikku bahagia.

Aku duduk dimeja paling pojok, karena aku cukup sadar anak-anak yang lainnya pasti akan keberatan jika aku duduk atau berada didekat mereka. Ingat? Aku nerd dan menjijikkan menurut mereka. Anak-anak orang kaya memang begitu, hanya berteman dengan anak-anak dari kalangan mereka dan berteman memandang dengan berdasarkan uang. Kadang aku merasa mereka yang lebih menjijikkan karena saling memanfaatkan satu sama lain dan hanya bisa menghamburkan harta-harta orang tua mereka.

Aku membetulkan letak kacamataku dan kembali menyantap ayam goreng yang dibuatkan eomma untukku, aku begitu mencintai ayam goreng. Apalagi jika eommaku yang membuatnya, tidak ada yang bisa menandingi cita rasa ayam goreng buatan eomma.

Tetapi kebahagiaanku dengan ayam-ayam goreng milikku harus berakhir karena sesuatu menimpa mejaku, aku terkejut saat sebuah tubuh terhempas mengenai mejaku membuat makananku terjatuh berserakan dilantai.

Ayam gorengku!!!!

Aku menatap kesal kearah seorang namja yang sudah bangkit berdiri dan mencoba menghajar namja dihadapannya. Sial! Aku berada ditengah-tengah namja yang sedang berkelahi dan sialnya mereka saling menghajar dihadapanku, aku tidak mempunyai celah untuk pergi dari tempat ini. Lain kali aku akan memilih tempat duduk ditengah, dipojok sama saja bunuh diri!

Kim Sang Gyu dan Kim Jinwan adalah dua namja paling suka membuat onar disekolah ini, mereka tidak pernah melewati hari tanpa berkelahi. Kim Jinwan salah satu dari chingu Minho dan tentu saja salah satu dari anak orang kaya yang terpandang, karena you know Minho memiliki teman dari levelnya.

Aku menatap ngeri kearah Jinwan yang sudah terkapar dengan Sang Gyu yang terus menendangnya, seorang yeoja menangis diujung keramaian dan aku tahu pertengkaran mereka kali ini adalah memperebutkan seorang yeoja. Benar-benar memalukan!

” He…Hentikan!” Aku mencoba melerai dua manusia itu, bisa-bisa Jinwan mati jika dibiarkan.

Type-type para orang kaya : mereka malah menjadikan perkelahian bahan taruhan.

Sang Gyu berhenti memukul Jinwan dan menatap kearahku dengan tatapan marah miliknya, aku sepertinya salah mengambil keputusan! Argh Park Jiyeon kau begitu bodoh.

Seharusnya aku tidak ikut campur, Minho sudah sering memperingatkanku tidak perlu ikut campur dengan urusan orang lain karena aku akan malah membawa masalah untuk diriku sendiri.

” Apa katamu!”

” H…Hah?” Aku terkejut mendengar bentakkannya. Ia mencengkram tanganku kasar membuatku menyerit kesakitan.

” L..Lepas..kan aku” ucapku merintih saat ia mencengkram tanganku dengan begitu keras. Bukan rahasia lagi jika Sang Gyu sang preman sekolah memiliki emosi yang labil dan tidak memandang gender, ia bisa menyakiti yeoja karena emosinya dan sekarang terbukti dengan ia mencengkram tanganku keras.

Sang Gyu namja yang tinggi, mungkin tinggi yang ia miliki setinggi Kyungsoo running man sekitar 180 keatas dan tubuhnya yang seperti beruang membuat para namja takut berurusan dengannya.

” Lepas katamu?” Ia mencengkram tanganku bertambah kuat membuatku yakin akan meninggalkan bekas biru.

Kemudian ia mendorongku, untung saja sebuah tangan menangkapku jika tidak aku akan berakhir dengan posisi memalukan. Aku menatap kearah orang yang menolongku bermaksud mengucapkan terimakasih, tetapi orang yang berdiri dihadapanku membuatku bungkam. Ia kini menatapku dengan mata tajamnya, ia mengangkat tanganku dan menggeram marah saat melihat bekas kebiruan yang disebabkan oleh cengkraman Sang Gyu.

Minho maju dan tanpa basa basi menampar wajah Sang Gyu, Sang Gyu merasa tidak terima dan menerjang Minho. Namun yang ia dapat adalah tendangan diperutnya dan tangan yang berputar dan menimbulkan bunyi patah membuatku menyerit ngeri, tubuh Minho beberapa cm lebih kecil dibandingkan Sang Gyu namun soal berkelahi tidak ada yang dapat menandingi Choi Minho.

Sang Gyu terkapar dilantai dan Minho menendang namja itu dengan kuat membuat Sang Gyu berteriak kesakitan, tidak ada yang berani maju untuk melerai perkelahian mereka bahkan guru sekalipun. Mencari masalah pada Minho sama saja mencari mati.

Minho meludah dan berjalan menjauh dari tubuh Sang Gyu yang terkapar kemudian mengambil ponsel dari kantong celananya.

” Will, kau tahu perusahaan Sang Comp? Putuskan semua kontrak kerja mereka dan jangan biarkan memiliki jalan untuk berkembang. Hancurkan mereka sampai akarnya.” Aku mendengar Sang Gyu berteriak dan suara takut para murid yang memilih bubar. Aku masih berdiri sambil menatap kearah bekalku dan Minho yang kini berjalan kearahku dan menarik tanganku tanpa memperdulikan tatapan curiga para murid.

Ia membawaku ke UKS yang saat itu benar-benar sepi, kami duduk disalah satu kasur dan Minho menarik tanganku. Rahangnya mengeras saat melihat lingkaran biru yang sekarang terlihat jelas, aku sedikit meringis saat Minho menyentuhnya.

” Seharusnya aku mematahkan hidung dan kakinya juga.” Geram Minho.

Aku tersenyum menenangkan

” Aku tak apa.”

” Tak apa kau bilang? Aku sudah berkali-kali memperingatimu untuk tidak mencari masalah , kau hanya akan mendapatkan dirimu yang terluka. Pergaulan disini berbahaya dan kau akan terancam jika berani melawan.”

” Tapi Jinwan bisa mati!”

” Kau keras kepala.”

” Jinwan sahabatmu!”

” aku tidak perduli! Persetan dengan Jinwan atau siapapun aku tidak perduli. Sang Gyu bisa saja mematahkan tangan atau kakimu, lihat apa yang ia lakukan dengan tanganmu!” Minho membentakku, membuatku menunduk tidak membantah. Aku merasa Minho berjalan pergi, baguslah setidaknya ia tidak akan melihatku menangis.

Aku menatap pergelangan tanganku yang membiru, tetapi kemudian sebuah tangan meraih tanganku dan aku menemukan Minho duduk disampingku dengan beberapa benda dipangkuannya. Ia mengoleskan salep kearah memar ditanganku dan entah apa yang ia lakukan kemudian, tatapanku terfokus pada wajahnya.

” Jangan memperdulikan siapapun, belajarlah perduli pada dirimu sendiri. Disekolah ini, semua orang hanya memperdulikan dirinya dan melindungi dirinya sendiri. Mereka tidak akan perduli pada satu sama lain kecuali mereka mengincar sesuatu, jadi aku peringatkan untukmu jangan mencari masalah lagi. Apapagi dengan manusia sebangsa Sang Gyu, dia manusia berotak udang.” Cemoh Minho.

” Idiot dan Bodoh.” Lanjutnya.

Bunyi bell tanda kelas akan dimulai membuyarkan lamunanku, Minho menahan tanganku saat aku akan beranjak.

” Mau kemana kau?”

” Kelas”

” Kali ini kau membolos karena kau membangunkan sesuatu. Lagipula kita tidak pernah mencoba melakukannya disini.” Aku menatap Minho dengan terkejut, ia mulai membuka kancing depan seragamku. Aku mencoba menolaknya, akan sangat fatal jika seseorang masuk dan menemukan kami berbuat tidak senonoh.

” Mi..Minho…ehm…stop.” aku mendorong tubuhnya sedikit namun ia masih tetap sibuk menciumi leherku dan meninggalkan bekas liur. Aku menghela nafas pelan, ia tidak akan berhenti sampai ia mendapatkan apa yang ia inginkan.

***

[ Author Pov ]

Bibirnya bengkak dan bekas kissmark terlihat jelas dilehernya, sejak tadi ia berusaha memperbaiki rambutnya yang sudah tidak tertata rapi. Sedangkan namja itu berbaring menatap keatas langit UKS dengan baju yang terbuka sampai dada.

Jiyeon akhirnya menyerah dan berjalan kearah namja itu dengan langkah gontai.

” Aku tidak bisa merapikan rambutku.” Jiyeon menyerahkan ikat rambutnya pada Minho yang kini berbaring miring dan menatap kearah rambut Jiyeon yang terurai.

” Aku menyukai rambutmu.” Minho berbisik sedikit kemudian mengikat rambut Jiyeon menjadi kepang, Jiyeon tersenyum menyembunyikan rona merah yang ada dipipinya. Seperti yang kalian tahu, namja itu tidak pernah memuji atau mengatakan perasaan namja itu pada dirinya. Membuat Jiyeon kadang-kadang merasa tidak berarti dihidup namja itu, namun namja itu kadang-kadang membuatnya berarti lebih dari siapapun.

Setidaknya sekarang ia menikmati perlakuan Minho padanya, biarkan waktu menjawab semuanya. Jika mereka memang berjodoh, Tuhan akan menyatukan mereka dalam keadaan atau perbedaan level kehidupan sekalipun.

” Minho”

” mm?”

” Itu… hmm… Naeun, kau menyukainya?” Jiyeon mencengkram ujung roknya. Namja itu terdiam cukup lama, namun matanya masih menatap rambut cokelat Jiyeon.

” Tentu saja aku menyukainya, Naeun gadis impian semua namja. Tidak ada yang kurang darinya, ia baik, kaya , cantik, bisa memasak. Ia sempurna.” Minho mengucapkan hal itu dengan berbisik.

” Apakah ia typemu?”

” 100% ia adalah typeku. Hmm.. mengapa kau bertanya?”

” Anniyo, aku hanya bertanya. Tidak ada salahnya bukan?”

” Ah Nde.”

Jiyeon menatap kearah langit-langit sambil mencoba mengontrol perasaannya dan air matanya yang sialnya seperti akan keluar.

” Aku bersahabat dengannya sejak kecil, aku menyayanginya sangat. Saat eommanya meninggal ia begitu terpuruk dan saat itu hanya aku yang ia miliki, appanya adalah namja dengan banyak yeoja disekelilingnya. Bahkan belum seminggu setelah eomma dari Naeun meninggal, namja itu pergi berlibur bersama kekasih-kekasihnya.” Minho tersenyum miris.

” Sejak melihatnya menangis aku berjanji padanya, apapun yang terjadi aku akan tetap disisinya. Suatu hari nanti saat kami sama-sama dewasa aku akan menikahinya.” Minho mengucapkan hal itu dengan sedikit berbisik. Jiyeon tersenyum miris, apa yang ia harapkan? Namja itu menikahinya? Ia hanya seorang pelacur kecil bagi namja itu. Bukan berarti karena namja itu yang mengambil perawannya namja itu harus menikahinya, ia salah besar jika menganggap dirinya sama berartinya dengan Naeun.

” Kau pasti begitu serasi dengannya.”

” Ya tentu saja.”

” Dia gadis yang sempurna.”

” Ia terlalu sempurna.”

***

Jiyeon berdiri di Halte Busway sambil memandangi air hujan yang berjatuhan dengan begitu deras, hari sudah beranjak sore dan tidak ada satupun bus yang lewat. Jiyeon memutuskan duduk disalah satu kursi sambil menyandarkan kepalanya, ucapan Minho kembali terdengar dikepalanya.

‘Aku akan menikahinya.’

‘Aku akan menikahinya.’

‘Aku akan menikahinya.’

Seharusnya hari ini ia pulang bersama Minho, namun namja itu membatalkan janjinya karena Naeun membutuhkannya. Ya, selalu Naeun. Naeun adalah segalanya bagi namja itu, Naeun adalah gadis sempurna tidak seperti dirinya yang hanya seorang gadis miskin.

Di dalam hidupnya, ia ingin sekali saja merasakan posisi Naeun dengan banyak yang mencintai dan menyayanginya seperti Minho. Ia ingin merasa berharga dan di cintai oleh Minho, ia ingin sekali saja Minho menatapnya sebagai seorang yeoja yang mencintai Minho.

Jiyeon pernah bertemu Naeun, gadis itu selalu tersenyum ramah dan bersikap baik seperti puteri bangsawan. Tidak ada cacat sedikitpun.

” Melamun itu tidak baik, apalagi jika sendiri dengan cuaca begini.” Sebuah suara membuyarkan lamunannya. Myungsoo sang ketua osis disekolah berdiri dihadapannya dengan tersenyum geli, membuat Jiyeon bersemu malu.

” Myungsoo-sii.”

” aku bermaksud memberikanmu tumpangan. Aku tidak tega melihatmu duduk sendiri disini dengan wajah penuh kemirisan seperti itu.” Ledek Myungsoo sambil tertawa. Myungsoo adalah satu-satunya namja yang tidak memandangnya rendah, mungkin mereka bisa di kategorikan sebagai teman.

Jiyeon berdiri dan masuk kedalam mobil sport Myungsoo, namja itu sudah beberapa kali mengantarnya pulang karena kadang mereka pulang terlalu sore karena kegiatan eskul seni lukis disekolah. Ya selain pemain basket dan ketua osis, myungsoo mencintai lukisan sama seperti Jiyeon.

” Jiyeon.”

” Nde?”

” minggu depan aku akan pergi ke pameran lukisan, jika kau mau aku bisa mengajakmu.”

” kau mau mengajakku?”

” Ya, tentu saja. ”

” ehm..”

” Ayolah, kita bisa melihat lukisan-lukisan bagus disana. Kau tidak akan menyesal.”

” Baiklah.”

” Anak manis…aku akan menjemputmu minggu depan.” Myungsoo mengacak rambut Jiyeon dengan gemas membuat Jiyeon menampilkan wajah kesal , kemudian mereka tertawa.

***

” aku tidak bisa.” Minho menyerit saat Jiyeon menolak ajakannya, tidak biasanya yeoja itu menolaknya. Selama bertahun-tahun baru kali ini Jiyeon mengucapkan kata penolakan padanya, Minho bermaksud mengajak Jiyeon untuk menonton Film Civil War dibioskop besok dan yeoja itu dengan wajah sedikit takut menolaknya.

” mengapa?”

” besok aku mempunyai janji.” Jawab Jiyeon dengan agak takut, Minho menyerit.

” tumben sekali, bukankah kau tidak memiliki teman seorang pun.” Ucap Minho tanpa perasaan, Minho memang sering mengucapkan kata pedas tanpa dipikirkan dan Jiyeon memaklumi hal itu. Minho namja apa adanya, dan selalu mengeluarkan ucapan yang ada dikepalanya secara langsung tanpa disaring.

” eum..itu… Myungsoo mengajakku untuk pergi ke pameran lukisan, kebetulan eskul kami sedang mencari inspirasi untuk lomba minggu depan.”

” jadi temanmu adalah Myungsoo? Hah! Kau menolakku untuknya?” Minho menatap Jiyeon dengan kesal dan marah, namja itu tanpa sadar mencengkram bahu Jiyeon.

Saat ini mereka berada diapartement Minho, mereka duduk diatas kasur king size milik Minho dengan keadaan Jiyeon hanya ditutupi dengan selembar selimut. Tubuh mereka sama-sama naked setelah melakukan ‘itu’ setengah jam yang lalu, aroma seks masih tercium diruangan itu.

” Myungsoo temanku, dan aku tidak mau mengecewakannya.”

” dan dengan gantinya kau mengecewakan aku?!” Nada suara Minho seolah akan membentak.

“Batalkan!”perintahnya tidak mau dibantah, Jiyeon tertunduk.

Selalu seperti ini, Minho terlalu serakah dan terlalu mengatur dirinya. Setelah pernyataan Minho kemarin, bahwa namja itu akan menikahi Naeun sama mereka beranjak dewasa membangunkan sebuah perlawanan dan benteng dihati Jiyeon. Namja itu tidak berhak mengaturnya, dan seharusnya sekarang masa hukuman sebagai seorang pelacur Minho harusnya sudah berakhir. Ia tidak mungkin menjalani kehidupan seperti ini, ia sadar bahwa ia hanya sebuah alat pemuas untuk Minho dan tidak lebih. Cinta dihatinya hanya sampah untuk namja itu, namja itu tidak pernah memandanginya dengan wajah menghargai.

Ia seorang yeoja, dan ia ingin merasa spesial.

” Aku tidak mau.” Jiyeon menolak.

” aku bilang batalkan!” Minho membentak.

” Siapa kau? Siapa kau yang berhak mengatur dengan siapa aku berteman. Aku tidak akan mengecewakan Myungsoo namja yang jelas-jelas menghormatiku dibandingkan denganmu namja tidak punya hati. Kau boleh saja menjadikanku pelacurmu, namun kau tidak bisa membatasi pergaulanku. Tugasku hanya memuaskanmu dan terlepas dari hal itu semua kita adalah orang asing.” Jiyeon tidak tahu kata-katanya terlalu kasar atau bagaimana, wajah Minho berubah pias. Ada kebanggan tersendiri dihatinya, Minho pantas mendapatkannya. Kadang kau tidak harus selalu ditindas.

” aku ingin mengakhiri hubungan ini.” Jiyeon mengucapkan hal itu dengan suara bergetar, ia sudah memikirkannya sejak kemarin. Jika ia menunda lagi, ia malah akan menyakiti dirinya sendiri. Semakin cepat semakin baik, semakin lama akan semakin menyakitkan.

Ia mencintai Minho, ia mencintai namja itu dengan sepenuh hatinya. Namun, tidak selamanya cinta dapat menjamin dengan siapa kau berakhir. Ia akan menjadikan hubungan mereka sebagai kenangan masa lalu paling indah yang pernah ia ingat.

” Namja itu mempengaruhimu? Apa yang ia katakan hingga kau bersikap seperti ini?! Kau ingin melepaskan dirimu dariku untuk namja seperti Kim Myungsoo? Are you crazy?!” Minho berdiri sambil bersidekap.

” semua ini tidak ada hubungannya dengan Myungsoo, dan jangan menyalahkannya. Aku hanya sudah lelah dengan semua ini , aku ingin bersikap seperti remaja pada umumnya dan aku ingin menjadi yeoja baik-baik.” Jiyeon mengucapkan hal itu pelan. Dilubuk hatinya paling dalam ia berharap Minho menahannya, cukup namja itu berkata bahwa namja itu membutuhkannya Jiyeon akan bertahan disamping Minho bagaimanapun keadaannya. Namun, selama ini namja itu tidak pernah menunjukkan seperti benar-benar membutuhkan Jiyeon.

Hanya Naeun, Naeun dan Naeun.

” baiklah, kau boleh pergi. Setelah ini, anggap saja kita tidak pernah saling mengenal dan kau kira aku tidak bisa mencari yeoja sepertimu? Kau terlalu besar kepala?! Pergi kepelukan namjamu itu, dan aku tidak perduli. Aku juga sudah bosan denganmu, waktu bertahun-tahun merasakan satu tubuh saja membuatku bosan. Mungkin aku harus mencoba tubuh yeoja yang lebih berisi dan seksi dibandingkan dirimu.” Minho mengucapkan hal itu dengan tidak berperasaan, Jiyeon mencengkram selimut mencoba mengendalikan dirinya. Harapannya terlalu tinggi, namja itu memang tidak pernah menganggapnya.

” tetapi sebelum hal ini berakhir, untuk terakhir kalinya kau harus memuaskanku.” Selimut dari tubuh Jiyeon terlepas begitu saja dengan Minho yang sudah menggendong tubuhnya kearah kamar mandi.

***

Sudah hampir sebulan lamanya, Jiyeon menjalani hari tanpa ikatan dengan Minho. Disekolah atau dimanapun mereka seolah tidak mengenal satu sama lain, seolah tidak ada yang pernah terjadi apapun di antara mereka.

Sebuah rangkulan dibahunya mengejutkan Jiyeon, Myungsoo tersenyum kearahnya dan memeluk kepala Jiyeon dan mengacak rambutnya dengan gemas membuat Jiyeon pura-pura kesal dan memukul tangan Myungsoo dengan gemas. Selama sebulan ini pula Myungsoo menjadi seorang sahabat untuknya, Myungsoo namja yang baik dan selalu ada saat ia butuh dan namja itu adalah teman satu-satunya.

Mereka saling berbagi cerita dan sebuah rahasia dari Myungsoo membuat Jiyeon tidak berkedip selama 1 menit dengan mulut terbuka lebar,namja itu dengan tidak ada rasa malu mengatakan rahasia yang benar-benar akan membuat para yeoja yang mencintainya nangis berlutut. Dan Myungsoo mempercayakan rahasia itu hanya pada Jiyeon.

Myungsoo adalah seorang Gay.

It’s Crazy! Namja setampan Myungsoo adalah seorang Gay dan Myungsoo tidak malu mengungkapkannya pada Jiyeon. Myungsoo berbagi cerita bahwa ia telah lama menyukai seorang namja dari sekolah lain, namun namja itu sudah memiliki kekasih lain dan sialnya namja yang dicintai Myungsoo bukanlah seorang Gay.

” Myunggie, kau merusak rambutku.” Jiyeon merengek.

” Aigooooo…. kau menggemaskan, kelinci kelinci!” Myungsoo mencubit pipi Jiyeon dan membuat Jiyeon meringis kesakitan, namja itu memang suka mencubit pipinya dengan keras dan kadang meninggalkan bekas berwarna biru.

Myungsoo kembali merangkul Jiyeon, membuat para yeoja menatap Jiyeon dengan iri dan penuh kekesalan namun Jiyeon hanya dapat tersenyum geli. Apa yang terjadi jika mereka mengetahui bahwa Myungsoo tidak pernah bernafsu pada yeoja.

Dari arah berlawanan Minho berjalan dengan seorang yeoja disampingnya yang begitu Jiyeon kenali, yeoja itu Naeun. Sudah hampir seminggu Naeun bersekolah disini dan menempati kelas yang sama dengan Minho, mereka terlihat begitu serasi.

Hati Jiyeon agak tercubit, Minho terlihat lebih kurus dari sebelumnya dan beberapa memar diwajah dan sudut bibirnya. Naeun terlihat mengelus rambut Minho dan menatap prihatin kearah luka disudut bibir Minho, dan Minho terlihat tersenyum paksa pada Naeun. Jiyeon kemudian menatap kearah Myungsoo seolah-olah menyadari sesuatu.

” Kau berkelahi dengan Minho?”

” dari mana kau tahu?” Myungsoo bertanya dengan agak terkejut. ” Kalian sama-sama babak belur.” Ucap Jiyeon kemudian menghela nafas.

” Oh. ia yang lebih dahulu menamparku, kemarin malam aku pergi ke club untuk bertemu dengan seorang teman. Lalu aku melihatnya dan Naeun, saat itu Naeun terlihat mencoba memaksa Minho untuk pulang dan namja itu dengan tidak berperasaan malah mendorong Naeun dan membentaknya. Sebagai lelaki, walaupun agak tidak normal aku tidak terima seorang yeoja diperlakukan seperti itu.” Jiyeon agak sedikit terperangah, Minho tidak pernah berlaku kasar pada Naeun dan perkataan Myungsoo benar-benar membuatnya terkejut.

” Jadi aku menghampiri mereka dan mencoba membantu Naeun untuk membawa pulang Minho yang terlihat begitu mabuk. Namja itu bahkan berteriak seperti kesetanan dan saat melihatku ia langsung menghajarku tanpa ampun dan karena tidak rela aku balas menghajarnya. Ia menyalahkanku tentang putusnya hubungan kalian.” Jiyeon sudah menceritakan semuanya pada Myungsoo dan Myungsoo memberinya beberapa masukan dan semangat. Myungsoo namja yang tepat untuk menceritakan keluh kesahnya selama ini.

” sepertinya namja itu tergila-gila padamu.”

” tidak mungkin, kau tahu ia tidak pernah memperlakukanku dengan baik.”

” entahlah, hanya saja aku merasa ia perduli padamu.”

” haha, tidak mungkin. Ayo, sebentar lagi kelasku akan dimulai.”

***

Naeun menatap ponselnya, belakangan ini sikap Minho padanya berubah. Namja itu tidak lagi menjadi Minho yang selalu ada dan memperlakukannya layaknya seorang yang spesial, Minho menghabiskan waktunya setiap malam di club dan pulang dengan keadaan benar-benar tidak sadarkan diri. Appa Minho beberapa kali menghubungi Naeun untuk bertanya apa yang terjadi pada puteranya dan Naeun tidak tahu apa yang terjadi pada Minho, Minho berubah begitu saja.

Hari ini Naeun memaksa untuk ikut bersama Minho pergi ke Club, walaupun namja itu menolak keras keinginan Naeun namun akhirnya luluh karena melihat wajah Naeun yang hampir menangis. Mereka masuk kedalam Club malam yang paling terkenal dikota dan hanya orang-orang kalangan atas yang bisa masuk ketempat itu, Minho menuju sebuah ruangan VVIP yang telah dipesan oleh orang suruhannya. Beberapa Bodyguard berjalan dibelakang mereka.

Naeun duduk disamping Minho yang terlihat mulai menuangkan minuman kedalam gelasnya dan meneguknya dalam sekali tegukan dan sedikit menyerit saat cairan itu melewati tenggorokannya.

” Kau mau?” Minho bertanya padanya, Naeun sedikit terkejut. Sebelumnya Minho akan melarangnya dan bahkan namja yang paling menjaganya dari minuman keras, dan sekarang namja itu menawarkan minuman untuknya.

” Kau menawarkannya?”

” Ya, kau mau? Rasanya enak.”

Naeun tersenyum terpaksa dan menerima gelas dari Minho, kemudian meneguknya dengan wajah menyerit.

” mau menambah?” Minho bertanya dan dijawab dengan gelengan oleh Naeun. Minho hanya tersenyum kemudian kembali meneguk wine mahalnya sambil menatap beberapa penari telanjang dihadapan mereka, diruangan itu bukan hanya mereka berdua. Ada teman-teman Minho yang sekarang berteriak dan bersorak gembira saat yeoja-yeoja telanjang itu menari dan beberapa dari namja itu sudah menari dengan salah satu yeoja yang tidak malu meletakan tangan namja itu di payudaranya.

” apa yang sebenarnya terjadi padamu?” Naeun bertanya dengan suara bergetar, Minho hanya membalas pertanyaan itu dengan senyuman dingin.

” aku memang seperti ini.”

” Tidak! Kau tidak seperti ini. Aku kecewa padamu.” Naeun bangkit berdiri dan pergi secepat mungkin, ia mendengar suara panggilan Minho namun tidak mau berbalik. Sudah cukup beberapa minggu ini namja itu berperilaku seperti bukan dirinya.

Minho yang Naeun kenal adalah namja yang menjaga Naeun dengan sepenuh hati, mementingkan Naeun diatas kepentingannya sendiri, namja yang selalu tersenyum dan menjaga Naeun,namja yang mengucapkan janji akan menjaga Naeun sampai hari tua didepan mendiang eomma dari Naeun yang meninggal karena sakit kanker otak yang dideritanya.

Sebuah tangan menariknya , membuatnya berbalik dan menemukan Myungsoo berdiri dibelakangnya.

” Apa yang terjadi padamu? Mengapa kau menangis?” Myungsoo bertanya sambil menatap Naeun dengan pandangan khawatir, tanpa banyak bicara Naeun memeluk Myungsoo dan menangis dengan keras dipelukan Myungsoo. Myungsoo melirik kearah Jiyeon yang terlihat berdiri tak jauh darinya dengan wajah tidak enak, ia terpaksa membawa Jiyeon masuk karena jika ia meninggalkan Jiyeon diluar ia sama saja memberikan Jiyeon kepada para buaya lapar.

Jiyeon memaksa Myungsoo untuk membawanya kemari, yeoja itu perduli pada Minho. Jiyeon mengatakan tentang kekhawatirannya pada Minho, apalagi tubuh Minho yang semakin lama semakin mengurus dan posisinya sebagai Tim basket digantikan oleh Myungsoo karena Minho tidak pernah turun latihan dan biarpun ia turun ia tidak pernah fokus sedikitpun, belakangan ini Minho benar-benar berantakan. Myungsoo membawa Jiyeon dan Naeun kesalah satu meja, Naeun mulai menceritakan tentang keanehan Minho belakangan ini dan perilaku Minho yang berubah padanya.

Naeun juga menceritakan tentang apa yang terjadi didalam ruangan tadi, Myungsoo menggeram marah.

” Bagaimana bisa ia membawamu keruangan itu? Membawamu melihat yeoja-yeoja telanjang menari?! Dimana otaknya?!” Jiyeon menatap sekitarnya, rasa bersalah mulai merasukinya. Tidak mungkin minho berubah karena dirinya bukan? Bukankah namja itu mengatakan bahwa ia tidak membutuhkan Jiyeon lagi??

Gosip yang beredar disekolah membuat Jiyeon takut, gosip yang menyebar sekarang adalah Minho menjadi seorang pemakai. Namja itu tidak pernah berniat sedikitpun menyentuh narkoba , namun melihat tubuh dan kelakuan namja itu belakangan ini membuat Jiyeon sedikit percaya bahwa Minho sudah terjerumus.

Tanpa Myungsoo ketahui, Jiyeon bangkit berdiri untuk mencari Minho. Ia tidak akan rela jika Minho semakin jatuh ke barang merusak itu. Jiyeon membuka ruangan demi ruangan, beberapa kali ia masuk ruangan yang salah dan mendapatkan pelototan dari beberapa pasangan yang sedang melakukan seks. Ruangan terakhir membuat Jiyeon bergetar, ia ragu. Namun, tangannya memutar knop pintu dan namja itu ada disana dengan tangan memegang botol Wine sambil terus menatap yeoja-yeoja penari telanjang yang bergoyang dengan panas.

Berbeda dengan para namja diruangan itu yang menatap para yeoja telanjang dengan nafsu. Minho malah terlihat melamun, walaupun matanya tertuju pada yeoja-yeoja yang menari dengan panas di dua tiang.

Dengan agak ragu Jiyeon berjalan kearah Minho, tangannya bergerak untuk menarik tangan Minho. Namja itu terlihat tersentak dan menatapnya dengan diam dalam beberapa saat seolah-olah Jiyeon adalah hayalannya yang sering datang belakangan ini.

Kemudian raut wajah namja itu berubah merah padam.

” Apa yang kau lakukan disini!!” Bentaknya seolah tersadar akan sesuatu. Minho menarik tangan Jiyeon kasar dan membawanya keluar dari ruangan itu, tepat saat itu Myungsoo muncul dengan Naeun disampingnya.

” kau!” Minho langsung mendorong Myungsoo.

” Kau yang membawanya kemari?!! Kau tahu betapa bahayanya tempat ini untuknya!” Minho mencengkram kerah jaket Myungsoo kasar, Jiyeon menarik tubuh Myungsoo sedangkan Naeun menarik tubuh Minho. Myungsoo menatap Minho dengan wajah penuh kekesalan dan melirik kearah Naeun yang terlihat hampir menangis lagi.

” apa perdulimu pada Jiyeon? Sekarang kalian bukan siapa-siapa dan jangan pernah berbuat kasar pada Naeun karena kau sudah memilihnya.” Balas Myungsoo dengan senyum meremehkan dan menggenggam tangan Jiyeon.

” Ayo kita pulang, namja ini bukan pemakai. Ia tidak akan bisa bisa berdiri normal sekarang jika ia memakai narkoba, aku sudah mengatakan padamu menghawatirkannya adalah hal terbodoh.” Ucap Myungsoo dengan jijik. Minho menatap kepergian Myungsoo dan Jiyeon dengan wajah penuh kemarahan dan menyumpah, Naeun disamping Minho hanya dapat terdiam seolah-olah mulai menyadari sesuatu.

Namun, ia takut jika yang ia pikirkan benar.

Beberapa saat kemudian, Minho terlihat berjalan cepat keluar meninggalkan dirinya ditengah-tengah Club. Naeun menatap punggung namja itu dengan tatapan terluka, sepertinya dugaannya tepat.

***

Jiyeon menatap tangannya yang digenggam erat oleh Myungsoo, dan kemudian ia tidak dapat menahan tangisnya lagi. Walaupun ia lega melihat Minho bukan seorang pemakai “narkoba” namun namja itu jelas sudah berubah. Walaupun kaya raya, Minho tidak pernah sesering itu pergi ke club dan bergabung dengan para namja untuk menonton gadis-gadis telanjang, dan saat tangan Minho mencengkram tangannya. Jiyeon tahu namja itu sudah banyak mengalami penurunan berat badan, wajahnya terlihat lelah dan lesu.

Minho bukan namja pemabuk, namja itu selalu menjaga dirinya dari hal-hal seperti itu walaupun kadang ia ikut merasakan Wine dan Minho juga bukan perokok namun Jiyeon pernah tanpa sengaja bertemu namja itu diatap sekolah dan sedang merokok dengan posisi duduk. Saat itu tidak ada pembicaraan diantara mereka, Jiyeon memilih pergi.

Namja itu seolah-olah dalam proses merusak dirinya.

Myungsoo menyadari tangisan Jiyeon, menghentikan langkahnya. Tangannya bergerak untuk menangkup wajah Jiyeon dan menghapus air mata yeoja itu dengan lembut dan penuh kasih sayang.

” Aku tidak bisa melihatnya seperti ini.” Bisik Jiyeon lirih, apalagi masih terlihat beberapa luka lebam yang bertambah banyak diwajah Minho.

” kau sudah melakukan pilihan yang tepat dengan lepas darinya, kau terlalu baik untuk menjadi pelampiasan nafsunya. Sekarang jangan pernah perduli padanya lagi.” Myungsoo memeluk Jiyeon membiarkan yeoja itu menangis didalam pelukannya.

Dan beberapa saat kemudian pelukan itu terlepas dengan kasar, Minho berdiri ditengah mereka dengan tangan terkepal dan meninju wajah Myungsoo dengan beringas. Jiyeon berteriak mencoba melerai mereka.

” JANGAN PERNAH MENYENTUHNYA , BAJINGAN!!” Minho menghempas Myungsoo yang hanya bisa mengerang kesakitan. Jiyeon menatap pemandangan itu dengan ngeri, saat ia akan berlutut untuk memeriksa luka Myungsoo, Minho menarik tangannya pergi. Jiyeon ingin meronta , namun ia memilih tidak melawan saat ini.

Minho saat ini tidak dalam suasana hati yang baik.

***

JIYEON POV

Minho membawaku ke apartemen miliknya, saat turun dari mobil ia menggenggam tanganku kuat seolah-olah aku akan mencoba kabur darinya walaupun sebenarnya aku sudah memikirkan kemungkinan untuk kabur. Aku tahu apa yang akan terjadi , aku mengenal Minho cukup lama untuk tahu bahwa sekarang ia sedang bernafsu.

Entahlah, mungkin selama sebulan ini ia tidak menyentuh tubuh yeoja hingga hanya dengan menatapku ia langsung bernafsu. Padahal saat itu ia mengatakan sudah bosan denganku dan berniat mencari yeoja yang lebih dewasa, namun sekarang saat pintu apartement miliknya tertutup tanpa mengucapkan satu patah katapun ia menyerangku dengan ciuman buas.

Aku mencoba mendorongnya, namun tangannya dengan segera menahan tanganku dengan bibir yang mulai menjalar ke leherku. Akhirnya, aku menyerah dan mulai membalas ciumannya dengan sama buas. Aku merindukannya.

Minho meletakkan tubuhku diatas kasurnya dan menindih tubuhku dengan tangan yang mulai menjalar kemana-mana, dari dada sampai pusat tubuhku. Tanganku bergerak untuk memeluknya saat pusat tubuhnya menyatu dengan tubuhku, Minho menyatukan tubuh kami dengan beringas tanpa memikirkan apapun dan kembali mencium bibirku untuk menambah kenikmatan untuk kami berdua. Aku sudah terbiasa dengan kebuasannya yang kadang muncul karena nafsunya yang kadang membesar dengan tidak terkira, Minho namja dengan nafsu yang besar.

Tanganku bergerak untuk mengacak rambutnya, kemudian terdengar suara geraman dan cairan itu memenuhi rahimku. Aku menghela nafas, entah mengapa aku seolah mengetahui bahwa walaupun kami telah putus hubungan Minho tidak akan melepaskanku begitu saja. Jadi aku belum melepaskan alat pencegah kehamilan, karena setiap berhubungan Minho tidak pernah mau menggunakan kondom.

Tubuhnya ambruk diatas tubuhku dengan nafas terengah, aku menutup mata lelah dengan tangan masih memeluknya. Beberapa menit kemudian, tangannya kembali menjalan kemana-mana dan malam ini ia menjadi begitu buas hingga menyatukan tubuhnya denganku berkali-kali sampai pagi menjelang.

Namun, aku menikmatinya walaupun aku tahu bahwa aku bersikap seperti seorang pelacur sekarang. Hei?! Aku memang pelacur dari awal , aku melacurkan diriku untuknya demi menyelesaikan sekolahku.

***

Dipagi hari aku membuatkan segelas susu dan beberapa lembar roti bersama selainya, saat sedang membereskan dapur aku mendengar suara langkah cepat dari kamar Minho, ia keluar dengan keadaan telanjang dan terlihat menatapku kemudian menghela nafas lega.

Ia berjalan kearahku tanpa memperdulikan ketelanjangannya, aku menelan ludah dengan gugup. Aku hanya malu melihat hal itu berdiri tegak tanpa malu, walaupun kami sering berbuat hal intim namun rasa malu masih tersisa dalam diriku apalagi tubuh namja itu mulai berbentuk dengan sempurna.

Aku mencoba mengabaikannya, hingga sebuah tangan memeluk tubuhku dari arah belakang. Punggungku menyentuh dadanya dan hal ‘itu’ menyentuh belakangku dengan berani. membuatku menarik nafas berat dan mencoba fokus dengan pekerjaanku.

” Minho, kau harus sarapan.”

” Bagaimana kalau kita sarapan dimulai dengan saling bersentuhan.”

” Minho, aku serius.”

” aku lebih serius.”

Bibirnya tidak tinggal diam dan mengecupi tengkuk ku dengan ciuman berkali-kali membuatku tanpa sadar mulai mendesah, Minho tidak pernah seperti ini. Ia seperti seorang namja yang hyper seks.

” hentikan, aku lapar dan ingin makan.” Ucapku mendorong tubuhnya, Minho menampilkan wajah kesal dan mengangkat tangannya tanda menyerah. ” baiklah.”

Namun, belum sempat aku duduk dikursi meja makan, tangannya sudah menarikku dan mendudukanku diatas pangkuannya. Aku mencoba berdiri, namun ia menahan tubuhku dengan memeluk pinggangku erat.

” aku ingin makan dengan posisi seperti ini.” Aku terpaksa mengalah dan duduk dipangkuannya, tangannya tidak tinggal diam dan menjalar kemana-mana. Aku mencoba beberapa kali menahan tangannya, namun ia menghempaskannya dan kembali menggerayangi tubuhku.

” Minho, stop! Makan makananmu.”

” baiklah nyonya.”

” sss”

Setelah selesai menghabiskan sarapan pagi, kami duduk diruang tamu apartement Minho sambil berciuman mesra. Dering ponsel milikku memecahkan semuanya, masih dengan namja itu menindih tubuhku dan menciumi leherku, tanganku bergerak untuk menggapai ponselku yang berada tidak jauh dariku.

” siapa?” Aku mendengar Minho bertanya.

” Myungsoo.”

” kau menamakan kontaknya dengan Myunggie?”

” hmm ya, dia menggemaskan.” Jawabku tanpa rasa bersalah, Minho akan merebut ponselku namun aku dengan segera mengangkat telepon dari Myungsoo.

” Yoboseyo.”

“…….” Minho menatapku dengan tajam.

” aku… aku dirumah.”

” ……”

” aku tidak berbohong, semalam Minh-aww…ahh..” aku mencoba mendorong kepala Minho dari dalam pahaku, namun namja itu malah semakin bersemangat mencium dan menjilatnya.

“……”

” b..bu..bukan s..suara ap…apun” aku mencoba menahan desahanku.

” Jiyeon kau berbohong? Apakah namja itu…?” Myungsoo bertanya dengan suara menggantung. Minho mengangkat kepalanya dan merebut ponsel milikku.

” Ada baiknya kau tidak mengangguku dan Jiyeon, tidak sopan menganggu dua orang yang sedang bercinta.” Kemudian ponsel itu dibanting Minho dan menimbulkan bunyi retakan, aku terpekik pelan. Kemudian tanpa sempat melontarkan kekesalan, Minho menguasai tubuhku dan hari itu kami bercinta sampai malam tiba.

***

Jiyeon tahu ia sangat bodoh, lagi-lagi ia masuk kedalam kehidupan Minho. Namun, lebih baik dirinya yang menderita dibandingkan melihat Minho berperilaku seperti bukan dirinya sendiri. Cinta butuh pengorbanan dan ia mengorbankan kebahagiaannya demi Minho, dan menahan rasa sakit dihatinya saat Minho kembali bersikap mementingkan Naeun. Jiyeon tak tahu apa sebenarnya yang ada didalam kepala namja itu, namun kadang Jiyeon merasakan namja itu memendam sesuatu yang tidak Jiyeon ketahui.

Myungsoo mendengar penjelasan Jiyeon dengan sabar, beberapa kali ia mengeluarkan kekesalan pada sikap bodoh Jiyeon dan kini ia sadar bahwa cinta dapat melakukan segalanya termasuk membuat seorang yeoja rela mati dan tersakiti demi seorang namja yang melihatnya pun tidak.

Namun, Myungsoo memiliki sebuah firasat. Namja itu bukannya tidak mementingkan Jiyeon, jika dibilang Minho mengabaikan Jiyeon itu tidak sepenuhnya benar. Perkelahian Minho dengan Yon Ju dan Sang Gyu membuktikan bahwa namja itu perduli pada Jiyeon dan menutupinya.

Minho cukup perduli pada Jiyeon, namja itu bahkan seperti orang kesetanan saat Jiyeon pergi ke Club ,berbeda dengan cara ia memperlakukan Naeun, namja itu memang memperhatikan Naeun namun Minho tidak akan marah jika melihat Naeun pergi ke club ataupun berpakaian seksi, berbeda dengan Jiyeon.

Kadang, namja seperti Minho tidak bisa membedakan dimana hatinya sebenarnya terletak. Kesombongan, keangkuhan, dan harta kekayaan membutakan mata Minho. Ia terlalu mematokan masa depannya yang harus sempurna.

Orang Tua Myungsoo bersahabat dekat dengan orang tua Minho, keluarga Minho adalah keluarga yang tidak bisa menerima perbedaan, berbeda dengan keluarganya. Eommanya adalah yeoja yang terlahir dengan hidup sederhana berbeda dengan appanya yang adalah namja kaya raya dan mereka menikah tanpa memperdulikan ucapan dan cemohan para bangsawan lainnya.

Menikah tanpa cinta adalah neraka, menikah karena cinta adalah surga.

Jika suatu saat nanti Minho lebih memilih menikahi Naeun, Myungsoo siap menikahi Jiyeon. Myungsoo memang seorang Gay, namun saat bersama Jiyeon… ia tahu bahwa ia juga bisa menyukai seorang yeoja. Bahkan namja tidak normal sepertinya jatuh cinta pada Jiyeon, bagaimana Minho yang notabenya namja normal dapat bertahan dengan keangkuhannya dan menolak malaikat seperti Jiyeon.

Myungsoo mencoba tersenyum dan merangkul Jiyeon, hal yang dapat ia lakukan sekarang hanya memberikan semangat dan senyuman untuk Jiyeon.

” Jiyeon.”

” hmm..”

” Jika suatu saat nanti aku tidak mendapatkan seorang pasangan dan kau juga tidak, kita bisa menikah.” Jiyeon mengangkat sebelah alisnya.

” Ya, walaupun Gay aku juga butuh keturunan. Dan daripada kita menjadi seorang single seumur hidup lebih baik kita menikah. Hahaha”

” kau serius?”

” Of course.”

” hahaha, nde. Lagipula kau namja yang baik, aku pasti bahagia jika menjadi isterimu.” Ucap Jiyeon sambil tertawa dan memukul bahu Myungsoo yang tersenyum melihat tawa Jiyeon.

Walaupun Myungsoo tahu bahwa tawa itu adalah rasa sakit yang ia keluarkan dalam bentuk senyuman dan tawa. Jiyeon penuh misteri.

***

Naeun duduk disamping Minho disebuah meja berbentuk bundar dikantin sekolah, teman-teman Minho ikut bergabung dan mereka tertawa bersama. Beberapa kali Bora sang juara lelucon melontarkan kata vulgar namun membuat semua tertawa. Tangan Minho menggenggam tangannya, beberapa hari ini Minho kembali menjadi dirinya lagi setelah malam dimana namja itu pergi bersama Jiyeon.

Naeun tidak tahu hubungan apa yang dijalani Minho dengan Jiyeon yang notabenya adalah Nerd dan yeoja paling terbuly disekolah. Namun, Naeun tahu hubungan yang mereka jalani begitu kuat dan itu membuatnya takut. Ia tidak mau kehilangan Minho, Minho adalah miliknya dan tidak ada yang dapat merebut Minho dari Naeun.

Terdengar suara gelak tawa dibelakang mereka, disana Kim Myungsoo sang ketua osis terlihat merangkul akrab seorang yeoja yang tertawa keras tanpa memperdulikan tatapan menyelidik dari orang-orang disekitarnya, beberapa hari ini Jiyeon berubah dari yeoja pendiam menjadi yeoja periang dan hal itu hanya berlaku jika ia berada didekat Myungsoo.

Naeun melirik Minho yang kini menatap kearah dua orang itu dengan wajah yang berubah dingin dan ingin membunuh, genggaman tangan mereka terlepas begitu saja dan Naeun menghela nafas.

Minho bangkit berdiri dari tempat duduknya dan berjalan kearah meja Myungsoo dan Jiyeon, dan duduk didepan kedua manusia yang sedang asik melempar lelucon.

” Myungsoo.” Myungsoo menghentikan kegiatannya menjitak kepala Jiyeon dan menatap kearah asal suara. Mata tajam Minho bertemu dengan mata Jiyeon yang menatapnya dengan sedikit gugup.

” Choi Minho!”

” Kalian terlihat begitu senang hingga tertawa dan mengganggu para penghuni kantin. Aku jadi penasaran, obrolan apa yang membuat kalian tertawa sebegitu kerasnya.” Naeun menyusul dan duduk disamping Minho, tangannya mengalung ditangan Minho.

” Oh! Kami hanya saling melempar lelucon tentang masa depan kami. Aku mengatakan padanya jika ia masih terbuly dan terbuang serta tidak dianggap oleh namja manapun ia bisa datang padaku dan aku siap menikahinya.” Jawab Myungsoo disertai seringai dan candaan disetiap ucapannya. Jiyeon tidak tertawa kali itu, ia hanya diam.

” bukankah itu lucu? Hahaha. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika aku dan Jiyeon menikah, kami akan memiliki anak-anak yang lucu seperti Jiyeon dan aku harap jika kita punya anak kelak ia akan mempunyai rambutmu yang indah.” Rahang Minho mengeras, sedangkan Jiyeon hanya bisa tertawa mendengar ucapan Myungsoo. Entah mengapa Jiyeon merasa lucu dengan namja ini, Jiyeon tahu Myungsoo mencoba membuat Minho marah dan itu hanya percuma.

” Kau serius Myungsoo? Menikahi yeoja yang berbeda level darimu?” Jiyeon sedikit terkejut mendengar ucapan Naeun, gadis itu berubah sinis padanya.

” aku tidak masalah dengan hal itu, orang tuaku menerima perbedaan. Kau pernah mendengar sebuah peri bahasa?! Seperti ini ”

“Permata tetaplah permata walaupun kau meletakannya ditempat sampah sekalipun.”

” dia bukan permata.” Cibir Naeun secara langsung membuat Jiyeon tertunduk.

” dia permata, setidaknya ia berharga dibandingkan sampah plastik yang berpenampilan permata.” Myungsoo mengucapkan hal itu sambil tersenyum penuh candaan walaupun kini Naeun terdiam.

” Dan bodohnya , ada seorang namja idiot yang rela melepaskan permata demi sebuah sampah berpenampilan permata mahal. Dan seorang namja beruntung akan menemukan permata indah itu.” Myungsoo melemparkan bendera perang.

” Ia akan menjadi pemenangnya.”

Tbc~

88 thoughts on “Strong : 1. ILY

  1. Gk bosan bosan bca Ff kya gnii
    Ff rasa drama 😀
    Gk kbyang dgn kata kta yg keluar diluar ekpektasi gtu dan bagus malahan…
    Menunggu yang se lanjutnya

  2. Wessss Gk bosan bosan bca Ff kya gnii
    Ff rasa drama 😀
    Gk kbyang dgn kata kta yg keluar diluar ekpektasi gtu dan bagus malahan…
    Menunggu yang se lanjutnya

  3. speechless g bisa comment apa-apa,
    yg pasti aku suka baca ni ff
    aku suka ama myungsoo disini yg selalu ngebantuin jiyeon
    dan minho please deh? tar klu di tinggalin lg sama jiyi baru nyaho loeee

  4. anjrit dah minho masih sekolah menengah pertama dah punya pikiran gitu .benar” ..😐..nya minho benar” menyukai jiyeon .namun karna kluarga dan janji nya ma naeun .hingga iya bersikap begitu ma jiyeon .namun begitu suka sikap minho yng benar” ngejaga jiyeon .

  5. Ini bener2 kerennnnnn bgt ff nya
    Aku suka ceritanya
    Aku suka sama karakter2nya
    Aku suka alurnya
    Aku suka semua nya

    Minho dibalik sikap nya yg agak dingin dan kasar ke jiyeon tp dlm hati nya dy menyimpan rasa sayang dan cinta yg dlm buat jiyeon

    Next pleaseeeee

  6. hati minho lum sadar bnget siapa yg paling dia cintai,, hanya di bawah alam sadarnya reflek. Hahha..
    Sekarang muncul saingan (myungsoo),, kira2 apa yg akan minho lakukan yh,,
    Next..

  7. ngak tau mau komen apa, karena yang pasti fnficnya menakjubkan..
    sudah tak asing lagi kalo fanfic disini keren.
    jalan ceritanya sempurnaa. dan feelnya kerasa bangett
    memang tak diragukan lagi fanfic disini sungguh Deabakk!!!!
    selalu pengen baca fanfic yg karakter minho dan jiyeon kaya gituu.
    ngantungg bangett..
    lanjutt yaa..

  8. Ak suka kalo fanfic ny main cast ny minho sm jiyeon , cerita nya menarik banget , ak suka walaupun jiyeon dibully terus , semoga next cerita minho bisa negasin perasaan nya sama jiyeon , cepet dipost ya thor next ceritanya , ak ngga sabar nungguin cerita kelanjutannya

  9. Gila…ini ffnya keren bgt sumpahh,baca sambil bayangin gtu kek nonton drama,feelnya dapatttt bgttt >< ffnya bener bner kereeen bgt

  10. astaga minho masih sekolah menengah pertama udah punya pikiran gitu .benar”
    kasihan jiyeon harus melayani minho sejak belia astaga….demi keluarga jiyeon rela melakukan hal begituan… semoga minho cepat sadar kalau dia sebenernya suka ma jiyeon..
    myungsoo guy astaga……

    ditunggu kelanjutannya thor… fighting🙂

  11. Ff na keren eon^^
    Kehidupan jiyi berat juga,,, dia rela ngorbanin dirinya sendiri.
    Minho dulu konyol banget atau itu hanya akal²an minho buat dapetin jiyi.
    Minho php’in jiyi mulu😡
    What??? Myung apa? Oh no,,, myung itu sama aq eonnie😆
    Jiyi bisa ketawa lepas kalo udah sama myung,,,n minho cuman bisa jealous :p
    Minho harus nentuin pilihan.
    Lanjut kakak

  12. Boleh baja yah aku reader baru nih!!!
    Wahhh keren ceritanya…aku paling suka low ada jiyeonnya…
    Lanjut thor aku penasaran!!!

  13. ya emang kalo uda cinta kdg jd buta juga, tpi suka si karaktr jiyeon walau nerd n dibully tetap tegar dan ga nangis juga. Trus krkter myungny oh ga kebyg si tpi malah kren y. Aplg dy slalu ada buat jiyeon..
    Dan buat pangern choi tinggal nurunin ego dkt si buat ngakuin perasaan ny

  14. minho egois bangetz jiyi bodoh ya knpa mau aja d gituin sama minho please myung buat jiyi jatuh cinta sama kmu ya,naeun udah kluarin sfat jahatnya next

  15. Thor,bisa ga jiyeonnya dibikin hamil trs yang mau tanggung jawab si myungsoo :”) anggap aja myungso punya andil dalam kehamilan jiyeon/ga

  16. Untung nae baca ini malam” :v
    Jadi terhdar dari segala hal yg tdk diinginkan *apalah” :v
    Nae nggak nyangka jiyi akan melakukan itu sma minho demi biayai sekolahnya , yg sabar ya jiyi ngadapi sifat minho
    Minho, jngan trlalu labil ama perasaan sndri nnti jiyi diambil myungsoo

  17. keren jiyi adalah permata , sedangkan naeun adalah sampah plastik yang berpenampilan permata, semonga aja minho cepet nyadar sama perasaannya sama jiyi. autor debaek hwaiting.

  18. Sumpah ini cerita baru part 1 aja udah keren banget.. Gak sabar nunggu part” berikutnya.

    Omongan myungsoo di akhir cerita sumpah telak kali buat minho dan naeun haha kalau jiyeon gak jadi sama minho, sama myungsoo juga gpp.

  19. ITS THE CRAZIEZT FF EVER!! setelah sekian lama aku hiatus dari baca ff dan akhirnya takdir yang membawaku ke blog ini dan aku tertarik untuk baca ff berjudul “strong” and now i lose my mind. i in midle of the night. and so, why minho and jiyeon drive me crazy?!?! you minho you are j**k! but i love you. ilove the way you give jiyi attention, and jiyiiiii. you strong!! please be patien for choi fckg minho… i wait for these no matter what. i love this. i love the author. i’ll read next chapter… good job and god bless for you authornim

  20. Duh jahat banget minho cuma ngejadiin jiyeon ‘pemuas’ nya. Jiyeon lagi, bodoh banget masih aja cinta sama namja kaya gitu. Senyum-senyum sensiri baca moment Jiyeon sama Myungsoo. Seruuuu

  21. Appa na jiyeon jht bgt. Gk bertanggung jawab.
    Kshn jiyeon 😢 demi skolah hrs rela jd khlngn yg paling berharga.
    Horeeeeeee minho dh cemburu..
    Kshn bnr Myungie asyik kena bogem dr minho,,
    Ff ni bgs bgt kisah na

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s