All Of You : 12.Baby

image

Main Cast : Park Jiyeon, Choi Minho

Note : Bagi yang tidak menyukai tulisan saya silahkan angkat kaki dari blog saya, tidak perlu mengeluarkan komentar tidak berguna yang malah membuat mood author hancur dan berimbas pada readers yang setia menunggu ff ini.

***

Jiyeon Pov

Aku menatap pantulan diriku didepan cermin, gaun pengantin sederhana membalut tubuhku. Rose berdiri disampingku sambil tersenyum bahagia untukku, aku memeluk Rose dan mengucapkan terimakasih karena telah membantu diriku dan Minho. Sudah sebulan sejak kejadian itu, seluruh harta Minho berpindah tangan ke Luna . Aku dan Minho tinggal diapartement yang ku beli menggunakan gajihku beberapa saat lalu, biarpun apartement itu kecil Minho membiasakan dirinya menerima kehidupannya sekarang.
Hari ini adalah hari terindah didalam kehidupan kami, hari ini kami menikah dengan seapa adanya, pernikahan sederhana yang tidak pernah aku impikan. Aku tidak berbohong, aku sama seperti yeoja lainnya menginginkan pernikahan indah layaknya princess dinegeri dongeng.

Tetapi kini aku mengerti, bagaimanapun pernikahannya aku akan sangat bahagia asalkan aku menikah dengan Minho, namja yang aku cintai.

” Kau sangat cantik , Jiyeon-ah” Puji Rose padaku. Rose sudah tahu cerita sebenarnya, ia begitu terkejut saat mengetahui bahwa selama ini yeoja itu bukan diriku. Beberapa kali Rose menyumpahi Luna dan membagi keluh kesah selama ia bekerja bersama Luna. Beberapa minggu lalu Rose resmi mengundurkan diri, karena ia merasa Luna benar-benar begitu tidak enak dijadikan seorang bos. Yeoja itu tidak mengerti cara menjalankan perusahaan Minho, yeoja itu hanya bisa menghabiskan uang tanpa tahu cara mengelolanya.

Tentang eommaku?

Aku tidak tahu dimana ia sekarang, berdasarkan ucapan Luna. Ia mengatakan bahwa eomma melarikan diri dan entah dimana sekarang, aku harap tuhan selalu melindunginya. Aku begitu berharap dapat melihatnya hadir dipernikahanku hari ini.

***

Aku berdiri didepan gereja dengan gugup, didepanku kini ada Kim Jonghyun sahabat Minho yang akan mengantarku ke Minho diatas altar. Aku harap dari atas sana, Ayah melihatku dengan bahagia. Aku bahagia appa, aku berharap kau ada disini dan melihatku menikah. Aku merindukanmu Appa.

” Kau sudah siap?” Tanya Jonghyun Oppa
” Nde Oppa”

” Kajja”

Aku mengalungkan tanganku dilekukan lengan Jonghyun Oppa, Minho berdiri diujung altar dengan jas putih sederhananya. Aku tersenyum geli melihat namja yang dulu selalu memakai jas limited edition kini berdiri disana dengan penuh kesederhanaan. Aku tidak salah bukan menjadikan ini lelucon, aku tidak mau mengungkit kesedihan itu jadi setiap hari kami selalu menjadikan kehilangan semua harta Minho sebagai lelucon.

Sekarang Minho bekerja sebagai pegawai biasa diperusahaan temannya, bagaimanapun ia harus bekerja dari awal untuk memulihkan keuangan kami. Tetapi aku mencintainya terlepas dari siapapun dirinya, aku tidak memperdulikan tentang keuangannya. Minho adalah Minho, selamanya begitu.

Kami berjalan diatas altar dengan suara lonceng gereja dan musik yang mengalun lembut, dentingan piano dan biola. Betapa romantisnya pernikahanku.

Aku merasa seperti Isabella dan Minho adalah Edward.

Minho mengulurkan tangannya kepadaku, dan aku menggapainya. Ia membawaku kedepan pendeta dan kami bersama-sama mengucapkan janji pernikahan kami didepan tuhan kami. Dentingan lonceng terdengar menandakan kami sudah menjadi sepasang suami isteri, Minho memelukku dengan semangat, kemudian menangkup wajahku.

Cup

Ciuman ini adalah ciuman paling istimewa diantara ribuan ciuman kami yang lainnya. Ciuman penuh cinta ini akan aku ingat selalu sepanjang hidupku, ciuman dihari pernikahanku bersama namja psyco yang bisa kapan saja lepas kontrol dengan kehausan darahnya. Yang ku tahu, ia tidak akan pernah menyakitiku.

***

Aku meletakkan kepalaku diatas dada telanjangnya sambil mengatur nafasku dari percintaan panas kami. Beberapa kali aku mendengar ia menyebut namaku sambil mengucapkan kata-kata cinta yang membuat hatiku bahagia. Aku mencium rahang kokohnya dengan penuh cinta sambil menggenggam tangan besarnya yang melingar diperutku.

” Aku ada hadiah untukmu” Ia berbisik ditelingaku.

” Apa itu?”

Ia bergerak untuk membuka laci yang berada disamping tempat tidur kami, mengambil sebuah kotak merah yang mewah. Aku menatap kotak itu dengan tidak yakin, saat ia membuka kotak itu aku terkesiap saat melihat cincin berlian indah dengan bentuk seperti kupu-kupu. Berlian itu bersinar dengan indah dan membuat yeoja manapun akan menginginkannya,

” Dari mana kau mendapatkannya?”

” Aku membelinya”

” kau apa? Dari mana kau-”

” Jangan tanyakan dimana aku mendapatkannya sayang. Pakailah cincin ini, lihat betapa indahnya dia dijarimu.”

” Tapi Minho, apakah kau menggunakan uang tabunganmu?”

” Tidak, aku tidak mau kau memikirkannya. Yang pasti aku membelinya dengan uangku sendiri, jangan bertanya lagi” Minho mencium bahu telanjangku dengan lembut sambil memberikan kecupan disepanjang leherku. Aku tahu percintaan panas ini akan kembali berlanjut.

” Aku hanya ingin kau tahu Minho-ah, aku tidak perlu uang dan berlian. Cukup dengan dirimu berada disampingku, itu sudah membuatku begitu bahagia”

” Ini adalah malam pernikahan kita sayang, dan kau harus mendapatkan kebahagiaan dimalam ini. Jangan pikirkan harganya, pikirkan bagaimana bahagianya aku saat cincin indah ini melingkar dijarimu”

***

Sore itu aku bersama Minho berbelanja di super market menggunakan gaji pertama Minho, Minho dengan mata berkaca-kaca menatap amlop cokelat yang dipegangnya. Gaji yang ia dapatkan dengan susah payah, sekarang Minho menyadari bahwa mencari uang adalah hal yang sulit.

Ia terbiasa hidup dengan kemewahannya.

Kami mengelilingi Super Market dengan gembira, tetapi beberapa orang yang melewati kami terlihat berbisik. Sebagian besar mereka membicarakan tentang betapa berbedanya Minho sekarang dengan jaket cokelat miliknya yang tampak sedikit lusuh, dan tentang betapa jatuhnya level Minho saat ini.

Aku menatap sedih kearah Minho, tetapi Minho dengan santainya menutup telingaku dan membawaku berjalan kearah lain dengan senyum yang masih melekat dibibirnya. Aku ingin menangis sekarang, semua ini karena kesalahanku.

” Jangan dengarkan perkataan mereka, kita yang menjalaninya bukan mereka”

” Arraseo Minho-ah”

Akhirnya kami membeli beberapa sayur dan buah-buahan untuk melengkapi kebutuhan rumah tangga. Aku dengan bahagia berjalan disamping Minho sambil menyandarkan kepalaku dibahunya sedangkan ia mendorong troly kearah kasir.

” Kau bahagia, eum?”

” Ya tentu saja”

” Lebih bahagia memiliki uang atau sederhana”

” Jika memiliki uang malah membuatmu memiliki banyak musuh, lebih baik kehidupan kita seperti ini saja” Ucap ku dengan tersenyum.

Minho hanya mengangguk dan mulai mengeluarkan belanjaan kami untuk dihitung dimeja kasir. Aku berbalik dengan cepat saat merasakan aroma ini, aroma yang seakan mengusik ingatanku. Aku menutup mataku sambil kembali merasakan aroma ini, aroma ini seperti aroma…

‘ ayo Jiyeon, eomma akan menemanimu sampai kau tertidur’ tiba-tiba bayangan eomma beberapa tahun yang lalu melintas didalam ingatanku. Aku tidak mungkin salah mengenali aroma ini, aroma vanilla.

” Ada apa, Chagy?” Aku mendengar Minho bertanya khawatir padaku.

” Tunggu sebentar” Aku memegang tangan Minho dan mulai berjalan kearah rak-rak makanan. Mengikuti aroma ini, aroma yang semakin dekat hingga aku berdiri dibelakang seorang yeoja dan seorang namja yang tengah membelakangiku. Dengan perlahan aku berjalan kearah belakang mereka dan menepuk pundak mereka. Seorang wanita berbalik dan menatapku dengan bingung, aku menghela nafas dan meminta maaf.

Minho berdiri dibelakangku sambil tersenyum lembut, aku berjalan kearahnya dengan air mata yang hampir tumpah dari mataku.

” Aku mengira ia disini. Aku masih berharap eomma masih hidup, dengan begitu aku tidak sendiri.” Aku masuk kedalam pelukannya, tidak ada lagi Minho dengan parfum mahalnya tetapi tubuhnya tetap wangi dan aku menyukainya.

” Hei, masih ada aku ingat? Aku selalu disini untukmu dan aku mencintaimu.” Ia mengecup bibirku lembut dan mencium keningku

Kami kembali ke kasir dan membayar bahan-bahan makanan yang kami beli, Minho terlihat bersemangat saat mengulurkan lembar uang itu dan terlihat bahagia. Aku tahu rasanya, saat kau menerima gaji pertama yang kau dapatkan dengan susah payah.

Minho menggenggam tanganku saat keluar dari super market, kami berjalan kearah Halte Busway terdekat. Kami duduk bersebelahan dikursi tunggu sambil menunggu bus selanjutnya. Beberapa yeoja yang berdiri didekat kami mencuri pandang pada namjaku, aku akui Minho memang memiliki ketampanan luar biasa dan tidak ada yang dapat menandinginya. Gurat kekayaan masih tertinggal diwajahnya, Minho tidak cocok menjadi orang biasa karena aura yang ia keluarkan adalah pengusaha sukses. Dengan baju agak lusuh yang sekarang ia gunakan, aura itu tetap bertahan.

Minho meniup telapak tanganku yang terasa dingin karena cuaca dimusim salju, aku menyukai salju walaupun dingin mereka begitu indah. Aku bersenandung kecil sambil mengeratkan genggamanku pada Minho dengan tangan kanannya yang merangkul tubuhku dan beberapa kali mencium pundak kepalaku dengan penuh cinta.

” Minho-ah”

“Hmm” ia mencium pipiku.

” Kalau dipikir-pikir kita tidak pernah menghabiskan waktu seperti ini, biasanya kita akan pergi dengan mobil mewah tetapi tanpa kita sadari dengan cara sesederhana ini semua terasa romantis.” Aku berkata dengan senyuman. “Kau adalah yeoja paling sederhana yang pernah aku kenal, aku bahagia jika kau bahagia.” Minho mencium bibirku lembut dan melepaskannya.

” Kebahagiaan kita akan lengkap jika kita memiliki seseorang ditengah kita.”

“Siapa?”

” Seseorang yang akan aku cintai sama besar seperti aku mencintaimu.” Aku menampilkan wajah cemburu, sama besar? Tidak boleh ada yeoja yang lain, hanya aku!

” Jangan menampilkan wajah jelekmu, aku akan mencintainya sama besarnya dengan dirimu karena ia adalah bagian dari dirimu dan bagian dari diriku. Dia akan tumbuh dengan wajah sepertiku dan tinggi tubuh sepertiku. Atau ia akan lahir dengan wajah seperti diriku tetapi memiliki matamu atau dia akan tumbuh menjadi copy-an dirimu, aku akan sangat mencintainya.” Aku menatap Minho dengan terharu, aku tidak tahu ia akan berkata seperti itu. Ia memeluk tubuhku dan berbisik ditelingaku.

” Lepaskan alat itu, dan jadilah ibu dari anak-anakku.”

***

Aku membuka mataku saat mendengar pintu yang terbuka, aku mendengar bunyi nafas lelah. Belakangan ini Minho pulang larut, ia mengambil lembur ditempat ia bekerja karena ia ingin dapat membiayai anak kami dimasa depan. Beberapa hari yang lalu aku sudah melepaskan alat pencegah kehamilan dan berharap tuhan segera memberikan anak yang kami idamkan bagaimanapun rupanya.

Aku mendengar suara gemercik air dari kamar mandi dan memutuskan untuk beranjak dan menyiapkan pakaian tidur untuk Minho dan duduk dipinggir ranjang sambil menatap kearah namja yang keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit disekeliling pinggangnya.

” aku membangunkanmu?”

” Anni, aku memang menunggumu.”

Minho duduk disampingku dan mengecup bibirku sekilas dan kemudian memberikan kecupan lembut dileherku.

” belakangan ini bau yang keluar dari tubuhmu seperti bau seorang bayi.” Minho kembali mencium leherku membuatku tertawa geli.

” mungkin itu tandanya sebentar lagi kita akan memilikinya.”

” Aku harap ia segera hadir.” Minho mencium keningku dan melepaskan handuknya tanpa malu dan berjalan kearah pakaian tidur yang sudah aku siapkan. Tidak ada rasa malu saat melihatnya seperti sekarang, kami suami isteri dan aku terlalu sering melihatnya seperti itu.

Minho berbaring disampingku dan membawaku kedalam pelukannya.

” Aku bahagia.”

” Hmm?”

” Aku bahagia memilikimu Jiyeon, dari sekian banyak hal didalam hidupku kau adalah yang paling indah dan paling berarti dibandingkan dengan nyawaku sendiri. Aku rela mati untukmu karena cintaku padamu yang begitu tidak dapat ku bendung lagi, semakin hari rasa ini semakin besar.”

” Aku juga bahagia memilikimu. Tuhan benar-benar adil, kita sama-sama memiliki masa lalu menyakitkan dan kita dipertemukan untuk saling memiliki dan melindungi.” Aku mencium rahangnya dengan lembut sambil mengacak rambutnya yang setengah basah.

Mata hitamnya menatapku.

” oh! Aku begitu mencintaimu sampai aku akan mati.” Minho mengerang kemudian menanamkan kecupan dibibirku dengan lembut. Kecupan berubah menjadi lumatan dan lumatan berubah menjadi gairah yang semakin membesar dan berakhir dengan pergulatan panas.

***

Author Pov

Luna menatap pantulan tubuhnya didepan cermin sambil tersenyum penuh kebanggan dan kesombongan, ia memutar tubuhnya untuk menilai gaun yang sedang ia pakai. Sekarang ia adalah yeoja yang sangat kaya raya dengan harta berlimpah dan koneksi dimana-mana, semua orang menghormatinya dan takut padanya. Menjadi seorang Choi Minho adalah surga dunia dan sekarang ia merasakannya menjadi seorang pengusaha kaya raya.

Choi Minho? Luna terdiam sejenak dan menatap miris kearah pantulan dirinya. Ia tidak buta dan ia seorang yeoja, dan pesona Minho adalah hal paling berat untuk ditolak. Ya, ia jatuh cinta pada namja itu dan selalu merasa bahagia jika ia berada didekat Minho walaupun namja itu membencinya.

Ia tidak mengerti bagaimana jalan pikiran namja itu, ia lebih cantik dan lebih cerdas dibandingkan Jiyeon. Adiknya itu tidak lebih dari yeoja munafik yang merebut semua hal darinya, orang tuanya, Minho dan segalanya.

Luna tersenyum licik.

” Kalian kira aku akan diam saja? Tunggu tanggal mainnya , aku akan mengambil kembali apa yang telah kau rebut! Dan aku akan mengirimmu ke neraka segera Park Jiyeon adikku tersayang.” Luna berbicara pada pantulan dirinya.

Beribu niat jahat mulai memasuki otaknya.

Luna keluar dari ruang ganti dan mengambil ponselnya, ia mencari sebuah kontak dan menekan tombol hijau. Sebuah suara terdengar.

” Aku punya pekerjaan untukmu.” Ia tersenyum.

.
.
.

Jiyeon dengan tubuh bergetar memasuki toilet, peluh membasahi tubuhnya dan ia merasa tubuhnya mulai bergetar lemah. Ia mengambil sesuatu dibalik plastik yang ia bawa dan berdoa didalam hati.

Setelah beberapa menit , Jiyeon menarik nafas dalam dan menggerakan benda itu dengan pelan.

Jantungnya berdegub kencang, udara tiba-tiba menguap dan sebuah air mata jatuh dari matanya. Ia menutup mulutnya dengan tidak percaya berusaha menahan tangisnya dan seketika itu ia ambruk dilantai sambil memeluk perutnya, senyuman bahagia muncul diwajahnya.

Alat itu menunjukkan dua garis merah, dan itu tandanya. Ia positif Hamil.

Ia hamil.

Hamil.

Hamil.

Jiyeon mengulang kata-kata itu dipikirannya dan tertawa bahagia, Minho pasti akan sama bahagia dengan dirinya saat mendengar kabar ini. Semua cita-cita mereka akan segera terwujud dengan lahirnya buah cinta mereka kedunia.

” eomma menyayangimu.”

Jiyeon berbisik bahagia kearah perutnya yang masih terlihat rata.

Dengan segera ia bangkit dari duduknya dan berjalan keluar toilet dan meraih ponsel diatas meja, ia akan menghubungi Minho dan mengatakan kabar bahagia ini. Ia tidak sabar melihat ekspresi Minho mengetahui tentang kehamilannya.

” Yoboseyo?”

” Waeyo Chagi?”

” Oppa, bisakah kita makan siang bersama?”

” Tentu saja, aku akan menjemputmu.”

” Tidak perlu Oppa, kita bertemu di Restaurant yang berada didekat kantormu.”

” anni, aku akan menjemputmu. Aku akan sampai dalam waktu 15 menit.”

” arraseo.”

Jiyeon memegang jantungnya yang berdegup kencang. Ia menatap bahagia kearah foto pernikahan mereka yang terpajang dengan begitu indah.

***

Minho menggenggam tangan Jiyeon dengan hangat, namja itu terlihat tampan dengan pakaian kerjanya dan terlihat begitu bahagia. Minho selalu bahagia belakangan ini, tidak ada wajah sedih ataupun keluhan. Ia menikmati hidupnya sekarang dengan seorang anae dan sebuah pekerjaan yang membuatnya mampu membiayai isterinya dan calon anak mereka kelak.

Mereka memasuki sebuah restaurant , restaurant itu dipenuhi dengan pekerja kantoran yang terlihat ramai. Minho membawa Jiyeon duduk disalah satu meja dan memesankan makanan untuk mereka, Jiyeon menatap kearah Minho yang sekarang sedang menatapnya.

” Oppa.”

“Eum?”

” aku punya hadiah untukmu.”

” aku tidak berulang tahun hari ini.” Ucap Minho dengan geli. Jiyeon mengeluarkan kotak kecil berbentuk kotak membuat Minho mengangkat alisnya dengan bingung, kotak berwarna merah itu terlihat sederhana namun Jiyeon yakin isi dibalik kotak itu akan membuat seorang Choi Minho berlutut dihadapannya.

” Kotak ini akan membuatmu berlutut dihadapanku.” Jiyeon tersenyum penuh misteri.

” aku tidak akan berlutut dihadapanmu apapun isi kotak itu.” Jawab Minho dengan bercanda dan pongah membuat Jiyeon tersenyum.

” kau yakin?”

” tentu saja.”

Minho mengambil kotak itu dan menatap kotak ditangannya dengan penuh tanda tanya dan membolak balik kotak itu membuat Jiyeon tersenyum geli.

” Jangan dibuka sekarang.”

” Apa isi kotak ini?”

” Kau akan tahu nanti, tetapi jangan dibuka sekarang.”

Minho mengangkat alisnya dan mengangguk kemudian memasukan kotak itu kedalam kantong jasnya. Tepat saat itu makanan yang mereka pesanpun datang dan terlihat begitu lezat.

Jiyeon menyantap makanan didepannya dengan bersemangat.

” Belakangan ini kau terlihat semakin berisi.” Minho terkekeh dan mencubit pipi isterinya yang semakin terlihat chubby dan menggemaskan.

” benarkah?”

” Nde.”

” mungkin bawaan.”

” bawaan?”

” ehm… aniyo..”

” kau menyembunyikan sesuatu?” Minho menatap Jiyeon dengan curiga.

” anni, maksudku mungkin bawaan kebahagiaan hehehe.” Jiyeon tertawa tanpa rasa bersalah dan Minho mendengus kemudian menyarangkan kecupan dikening Jiyeon.

Setelah selesai menyantap makan siang mereka, Minho memutuskan untuk mengantar Jiyeon pulang menggunakan taxi padahal Jiyeon bersikeras untuk menggunakan bus karena biayai taxi yang lebih mahal. Tapi Minho adalah namja keras kepala dan ia tidak mendengarkan pendapat Jiyeon, ia mengatakan bahwa ia tidak ingin isterinya kepanasan. Haha ada-ada saja.

***

Jiyeon menatap jam dinding dan sekarang hari sudah beranjak malam namun tidak ada tanda-tanda kedatangan Minho dengan wajah bahagia. Berbagai pikiran bersarang dikepalanya, apa mungkin Minho menganggap kehamilannya adalah hal biasa? Atau namja itu lupa membukanya?

Jiyeon memutuskan untuk menghubungi Minho dan diangkat pada sambungan pertama.

” Minho.”

” Nde, Chagi.”

” Kau sedang dimana?”

” Kantor, aku sedang menuju keruang rapat. Kau baik-baik saja?”

” Kau sudah membuka kotak itu?”

” Kotak? Oh! Kotak yang tadi siang kau berikan? Aku lupa. Aku akan membukanya sekarang, wait.”

“memang apa didalam kotak ini sampai isteriku begitu ingin aku melihatnya?” Kemudian terdengar keheningan cukup lama. Terdengar suara orang lain disamping Minho.

‘Woah! Apa itu? Alat test kehamilan? Isteriku juga menggunakan alat ini saat ia mengandung, jika garisnya ada dua itu berarti isterimu mengandung’

Jiyeon menunggu reaksi Minho dengan harap-harap cemas.

” Aku akan pulang segera.” Minho menutup telepon dengan suara agak bergetar.

***

Minho berjalan kearah ruang rapat sambil menatap kearah berkas dihadapannya saat ponsel miliknya berbunyi ia mengangkatnya dan Jiyeon bertanya apakah ia sudah membuka kotak itu dan Minho menepuk jidatnya lupa.

Ia menjepit ponsel itu ditelinganya sambil berjalan dan mengambil kotak kecil dikantung jasnya. Ia kemudian membukanya dan terdiam cukup lama.

Benda apa ini?!

Saat ia akan bertanya pada Jiyeon, mengenai benda itu. Jong ki teman satu kantornya berdiri disampingnya dan ikut menatap benda itu.

“Woah! Apa itu? Alat test kehamilan? Isteriku juga menggunakan alat ini saat ia mengandung, jika garisnya ada dua itu berarti isterimu mengandung”

What the fuck?! Minho menatap Jong Ki dengan tidak percaya. Bagaimana bisa ia baru tahu sekarang? Astaga.

” Aku akan pulang segera.” Minho menutup sambungan dan berlari keluar dari ruang rapat tidak memperdulikan teriakan Jong Ki tentang rapat penting yang akan berlangsung, persetan dengan rapat sekarang ia harus pergi ke toko dan membeli pakaian bayi dan susu ibu hamil.

Minho pulang dengan banyak belanjaan ditangan kanan dan kirinya, ia menemukan yeoja yang ia cintai berdiri dihadapannya dan tanpa bicara Minho memeluk yeoja itu dengan erat.

” Kau hamil?”

Jiyeon menangis terharu dan hanya dapat mengangguk bahagia. Minho berlutut dihadapan Jiyeon dan mencium perut rata yeoja itu dengan penuh cinta.

” Cepatlah tumbuh dan lahir menjadi bayi kuat yang akan menjaga eommamu.” Minho berbisik dan bangkit kemudian menyarangkan ciuman dibibir Jiyeon dengan kebahagiaan.

Jiyeon menangis didalam pelukan Minho.

” Gomawo Jiyeon, Gomawo.” Tanpa Minho sadari ia juga ikut menangis, ia bukan namja lemah namun ia merasa begitu bahagia. Kini bertambah manusia yang akan begitu ia cintai selain isterinya tercinta tentu saja.

.
.
.

Tae Hee menatap hamparan bunga dihadapannya sambil melamun, ia menatap kearah kakinya dan tersenyum sedih. Ia tidak tahu kapan ia bisa berjalan lagi, ia hanya takut jika kecelakaan itu merenggut kakinya. Namun ia tidak mempermasalahkan itu, jika memang kakinya sudah tak dapat berfungsi lagi ia masih memiliki Yoochun suaminya. Yoochun akan menggantikan kakinya dan menopangnya karena namja itu mencintainya.

Sebuah selimut tersampir menyelimuti tubuhnya, Yoochun muncul dengan segelas cokelat hangat ditangannya dan memberikannya pada Tae Hee yang menerimanya dengan tersenyum.

” Sudah lama aku tidak meminum cokelat , aku merindukannya.” Tae Hee mendesah pelan sambil menyeruput cokelat itu dengan bahagia.

” Ceritakan apa yang terjadi padamu selama ini?”

” Kau ingin aku memulai dari mana?”

” Dari awal.”

” Baiklah.”

” Begini, kau ingat bukan saat aku mengandung? Dokter mengatakan ada dua bayi didalam kandunganku, tetapi saat mereka lahir kedunia hanya Jiyeon yang selamat. Tetapi ternyata kita salah…” Tae Hee menggantungkan ucapannya, Yoochun menahan nafas.

” Bayi kembar kita masih hidup dan Sooyoung yang merencanakan semuanya, ia mengatakan bahwa puteri kita meninggal dunia dan memanipulasi semuanya. Yeoja kecil itu tumbuh menjadi mesin balas dendam sooyoung. Park Luna, namanya Park Luna. Ia gadis yang cantik , namun ia dipupuk dengan dengki dan iri hati hingga tumbuh menjadi anak yang tidak akan kau kenali. Ia dan Jiyeon berbeda.” Yoochun terperangah, rahangnya menegang penuh kemarahan.

” Dan, Luna ikut adil dalam rencana kejahatan termasuk mengurungku dirumah sakit jiwa.” Tae hee mengatakan hal itu dengan menangis, tangannya menutup mulutnya. Hatinya perih tentu saja, Luna adalah putrinya namun begitu tidak berperasaan.

” Aku akan membunuh Sooyoung.” Ucap Yoochun penuh dendam. Tae hee menggeleng pelan dan menggenggam tangan Yoochun.

” tidak, aku tidak mau kau kembali seperti dirimu yang dulu. Sekarang, ceritakan tentang dirimu dimana kau selama ini?” Yoochun menghela nafas penuh kesedihan dan mulai menceritakan tentang kebohongan Sooyoung dan tentang ia yang pergi ke luar negeri karena menyangka Jiyeon telah meninggal.

” Aku bersalah, seharusnya aku memeriksa kebenaran itu. Maafkan aku tae hee, aku gagal menjadi seorang ayah untuknya dan untuk Luna.” Yoochun berlutut sambil menghapus air matanya yang berjatuhan.

” jiyeon tumbuh dengan penuh kesusahan dan penderitaan, aku takut ia membenciku.” Bisik Yoochun. Tae Hee tersenyum dan menggenggan tangan suaminya.

” Kau tahu? Jiyeon adalah Jiyeon, dia tidak akan membencimu. Kau appanya , selamanya begitu dan ia mencintaimu.”

Dan malam itu mereka habiskan dengan berpelukan dan saling menceritakan hal-hal yang telah mereka lewati selama ini dan semua hal yang dialami Yoochun.

***

Minho mendesah lega sambil menatap jam dinding dikantornya, ia mengambil tas kerjanya dan berjalan keluar ruangan sambil tersenyum. Setelah ini ia akan berhenti ditoko bunga dan membelikan bunga untuk Jiyeon. Mencintai itu indah.

” Minho.”

” William.” Minho membungkuk hormat pada sang CEO membuat William pria campuran korea jerman itu tertawa.

” Ayolah, jangan seperti itu padaku. Kau tahu siapa yang lebih tinggi disini.” Ucap William penuh misteri membuat Minho tertawa.

” Jangan membahasnya.”

” Aku hanya tidak mengerti cara pikirmu. Kau meminta bekerja diperusahaanku dengan posisi sebagai karyawan biasa, kau tahu aku bisa mengangkatmu menjadi dewan direksi. Dan ayolah, kau tidak perlu bekerja karena kau memiliki banyak…”

” Tidak, aku hanya ingin mencoba pengalaman baru. Kalau begitu aku harus pulang, isteriku sedang hamil dan aku ingin membelikan bunga untuknya.”

” Chukkae, isteriku baru melahirkan kemaren dan aku mendapatkan seorang bayi yeoja. Semoga saja isterimu melahirkan bayi namja, hingga kita bisa menjodohkan mereka.”

” Ada-ada saja kau, aku tidak menentukan jodoh anakku.” Tawa Minho geli.

” aku serius.”

” kau mau menjodohkan anakmu dengan anak dari orang miskin sepertiku? Kau seorang CEO.” Minho tersenyum penuh drama, membuat william hanya dapat tersenyum muram.

” kau tahu seberapa banyak hartamu Choi Minho.”

.
.
.

” Target didepan mata.”

Seorang namja berkacamata hitam menatap kearah namja yang berjalan keluar dari toko bunga dengan tersenyum licik. Namja itu terlihat memegang setangkau bunga ditangannya dan berjalan menyebrang saat lampu tanda pejalan mulai berwarna hijau.

” lakukan.” Ucap suara diseberang.

” Jika aku tidak bisa memilikinya, maka Jiyeon juga tidak bisa.” Lanjutnya. Mobil itu melaju dengan kecepatan diatas rata-rata, terdengar teriakan para pejalan kaki disekitar namja yang terlihat tidak menyadari maut sedang mendatanginya, namja itu sibuk menatap bunga ditangannya dan tersenyum.

Kemudian terdengar suara benturan keras disertai dengan teriakan dan pekikan dari pejalan kaki disekitarnya, namja itu tergeletak dengan darah berceceran dan mobil hitam yang menabraknya melaju kencang meninggalkan tempat kejadian.

Namja itu berbaring dengan posisi menghadap kearah langit, ditengah kesadarannya yang mulai menipis ia berbisik pelan.

” j…jiye..on”

***

Jiyeon terkejut saat mendengar pecahan kaca, ia berlari kearah ruang tamu dan menemukan foto pernikahannya terpecah menjadi dua bagian. Dengan tergesa-gesa ia memunguti beling itu dan tanpa sengaja ia melukai jarinya, namun yang membuat ia terdiam adalah darahnya menetes tepat mengenai foto Minho yang tersenyum tampan kearah kamera.

Dengan perasaan tidak enak, ia meraih ponselnya dan menghubungi ponsel Minho. Perasaannya semakin tidak enak saat namja itu sama sekali tidak mengangkat teleponnya.

” angkat teleponmu.”

Beberapa saat kemudian Jiyeon menghela nafas pelan saat mendengar seseorang mengangkat ponsel, namun ia langsung terdiam saat mendengar suara seorang yeoja.

” yoboseyo?”

” kau siapa? Apa yang kau lakukan dengan ponsel suamiku?” Jiyeon bertanya dengan nada cemburu.

” Mianhae , tetapi pemilik ponsel ini mengalami kecelakaan. Saya akan mengirimkan alamatnya.”

” m…mwo?”

Jiyeon menjatuhkan ponsel miliknya dan menatap sekitarnya dengan pandangan buram karena air matanya yang mulai betumpahan, sebuah pesan masuk yang menunjukan dimana alamat Minho dirawat dan ruangannya.

Ditengah tubuhnya yang bergetar hebat dan perasaan yang mencekam ia berlari keluar dari apartement masih dengan tangisannya, ia tidak memperdulikan tatapan orang-orang penasaran yang menatapnya kini.

Jiyeon memberhentikan sebuah taxi dan mengatakan alamat yang ia tuju. Jiyeon menghela nafas dan menutup wajahnya dengan frustasi, tangisnya semakin besar kala ia berpikir yang tidak-tidak. Bagaimana jika Minho meninggalkannya? Hanya minho yang ia miliki sekarang, baru saja mereka merasakan kebahagiaan sekarang cobaan kembali menerpa mereka.

Jiyeon memeluk perutnya dengan penuh perlindungan.

” Appamu akan bertahan demi kita, pasti.”

” jadilah anak yang kuat sayang.”

Beberapa menit kemudian mobil itu berhenti disebuah rumah sakit, Jiyeon memberikan beberapa lembar uang dan mengucapkan terimakasih ditengah isak tangisnya. Ia berjalan cepat kearah rumah sakit, ia tidak ingin berlari lagi malah akan membahayakan dirinya dan jabang bayinya.

Ia sampai disebuah ruangan, tangisnya meledak saat melihat tubuh namja yang ia cintai terbaring lemah diatas kasur rumah sakit. Ia memandang melalui jendela pembatas dengan tubuh yang mulai gemetar.

Ia menggeleng tidak percaya, tubuhnya ambruk dilantai dingin.

” Anda keluarga dari pasien?”

” Y..ya. saya isterinya.”

” Ada yang harus kita bicarakan Nyonya, kita bisa membicarakannya diruangan saya.” Dokter yeoja itu terlihat melepas kacamatanya dan berjalan menuju sebuah ruangan yang tidak terlalu jauh dari ruangan Minho. Masih dengan menangis jiyeon mengikuti yeoja itu.

.
.
.

” Suami anda mengalami kecelakaan yang cukup berat, kepalanya terbentur cukup keras hingga menimbulkan pendarahan didalam. Anda dapat melihatnya dilayar ini, disini terjadi pendarahan yang jika dibiarkan akan mengancam nyawa pasien.” Dokter itu menunjukkan hasil scan kepala Minho.

” apa yang harus dilakukan dokter? Selamatkan ia, hanya ia yang kupunya sekarang.”

” Operasi adalah jalan satu-satunya, semakin cepat semakin baik. Pasien tidak dapat bertahan terlalu lama.”

” Operasi? Bukankah itu membutuhkan biaya yang lumayan mahal?” Dokter yeoja itu terlihat menghela nafas berat dan menatap Jiyeon dengan tersenyum menguatkan. ” rumah sakit akan memberikan keringanan sampai besok sore, Mianhae Nyonya.”

Setelah berbicara tentang hal-hal menyangkut lainnya, Jiyeon keluar dari ruangan dokter itu dengan tubuh sempoyongan. Ia memijit pelipisnya dengan penuh frustasi, nominal angka yang harus ia siapkan dalam waktu 1 x 24 jam begitu tidak bisa ia pikirkan. Dimana ia bisa menemukan uang sebanyak itu? Tabungannya dan Minho bahkan tidak mencapai setengah dari biaya rumah sakit atau operasi Minho.

Jiyeon berdiri didepan kaca yang membatasinya dan Minho, rasa frustasi dan kesedihan mulai merasukinya. Rasa bersalah mulai menyerangnya membuat Jiyeon kembali menangis tersedu-sedu. Seandainya saja Minho tidak pernah memilihnya dan merelakan harta-harta itu mungkin Minho tidak akan menghadapi hal ini.

Jiyeon menatap jarinya dan menemukan cincin itu, cincin berlian yang melingkar manis dijari manisnya. Cincin itu bersinar seolah-olah mengatakan bahwa ia adalah jalan keluarnya, Jiyeon melepaskan cincin itu dan menatapnya dengan pandangan berharap.

Semoga saja tebakannya benar, jika cincin ini mahal ia dapat menjualnya dan membiayai pengobatan Minho. Dengan perlahan ia mencium cincin itu dan menatap kearah Minho yang terbaring.

” aku akan segera kembali, aku akan menyelamatkanmu Minho. Apapun yang terjadi.”

Jiyeon berjalan menjauhi ruang rawat Minho, sekarang ia tahu harus menjual cincin itu kemana.

.
.
.

” Semahal itu?” Jiyeon menganga lebar saat pelayan toko perhiasan itu menampilkan harga yang mereka tawarkan untuk membeli cincin milik Jiyeon. Harga itu bahkan tidak terpikirkan oleh jiyeon, harga cincin itu hampir menyamai harga 5 buah mobil lamborgini. Dan toko perhiasan yang ia kunjungi sekarang adalah toko perhiasan terbesar yang ada diseoul dan mereka tertarik untuk membelinya.

” cincin ini terbuat dari bukan sembarang bahan, cincin ini dibuat dari berlian murni dan logam murni. Mungkin hanya ada beberapa didunia ini, entah apa yang membuat Nyonya ingin menjualnya namun dari wajah Nyonya terlihat berat menjualnya. Nyonya bisa kembali untuk membelinya lagi jika Nyonya berminat.”

” Saya akan menjualnya.”

” silahkan ikut kami untuk melakukan transfer uang ke rekening bank anda.”

Jiyeon mengikuti yeoja itu, mereka tiba disalah satu mesin dan Jiyeon mengetikan beberapa dikit angka. Sebuah kertas muncul, Jiyeon menatap nominal yang tercetak disana dengan wajah masih tidak percaya. Jiyeon mengucapkan terimakasih dan segera kembali menuju rumah sakit , wajahnya mulai cerah dengan uang yang melebihi cukup sekarang.

Ia tidak tahu dari mana namja itu mendapatkan uang sebanyak itu, hanya saja ia akan menanyakan hal ini jika namja itu sadar dari tidurnya yang mengerikan. Sebentar lagi ia akan menyelamatkan Minho, sebentar lagi.

***

[ Keesokan harinya ]

Operasi dimulai setengah jam yang lalu, Jiyeon duduk dikursi tunggu dengan penuh kekhawatiran pada Minho. Dokter mengatakan bahwa Minho akan baik-baik saja setelah operasi ini, namun Jiyeon tahu seberapa parah luka dikepala Minho. Para tim medis pasti juga sedang berusaha menyelamatkan Minho didalam sana dan Jiyeon tidak berhenti memanjatkan doa, Rose duduk disampingnya dan memberikan semangat untuknya. Yeoja itu datang beberapa menit yang lalu dan kedatangan Rose lumayan meringankan rasa frustasinya.

” kau sudah makan?” Rose bertanya dan dijawab dengan gelengan oleh Jiyeon. Rose menggenggam tangan sahabatnya.

” Bayimu membutuhkan asupan nutrisi, kau memang sedang sangat terpukul sekarang namun kau harus memikirkannya. Ayo, kita pergi ke kantin rumah sakit! Operasi berjalan berjam-jam lamanya.”

” tapi Minho-”

” Sajangnim akan lebih marah jika tahu kau mengabaikan kesehatan bayi kalian, kau taju bagaimana ia menyayangi bayi itukan? Kau juga menyayangi anakmu kan? Kau harus sehat untuk bayimu dan Minho.”

Dengan berat hati akhirnya Jiyeon luluh dan menyetujui untuk mengikuti Rose ke kantin rumah sakit, dengan langkah agak gontai ia berjalan dengan Rose membantunya. Seharian ini ia tidak beristirahat sama sekali dan selalu menangis membuat tubuhnya terasa begitu lemah dan makananpun belum masuk ketubuhnya.

Mereka tiba dikantin rumah sakit, Rose membeli sebotol susu dan beberapa roti dan buah untuk Jiyeon. Yeoja itu butuh banyak asupan nutrisi apalagi sekarang Jiyeon sedang mengandung.

Jiyeon makan dalam diam, beberapa suap roti masuk kedalam perutnya. Untung saja rasa mual tidak menghampirinya, sepertinya bayinya dapat mengerti apa yang sedang dialami oleh eomma dan appanya. Jiyeon mengelus perutnya dengan perlahan dan tersenyum, bayinya akan tumbuh menjadi bayi yang kuat.

Setelah selesai menghabiskan makanannya, Jiyeon dan Rose kembali masuk kedalam rumah sakit. Sama seperti sebelumnya, Rose membantu Jiyeon yang masih terlihat begitu lemah dan Rose menyarankan agar yeoja itu sebaiknya memakai kursi roda saja. Namun Jiyeon bersikuku agar ia berjalan saja dan mengatakan bahwa ia masih kuat.

Langkah Jiyeon terhenti, jantungnya berdegup kencang, matanya terbelalak lebar. Ia tidak mungkin salah mengenali, namja itu berjalan menjauh dengan plastik ditangannya. Jiyeon melepaskan tangannya dari Rose yang berteriak panik saat melihat Jiyeon berlari menyusul namja yang sekarang berdiri didepan seorang yeoja berkursi roda.

Namja itu mengulurkan plastik ditangannya pada yeoja didepannya yang menerimanya dengan senyum. Saat mereka berbalik akan pergi, dengan langkah tertatih dan rasa shock Jiyeon menarik tangan namja itu membuat namja itu berputar.

Yeoja dikursi roda itu juga ikut menoleh saat merasakan suaminya tidak lagi mendorong kursi rodanya. Untuk beberapa saat mereka sama-sama terdiam, tidak ada yang bergerak atau mengeluarkan satu patah katapun. Jiyeon menatap kedua orang itu dengan tidak percaya, mereka sudah meninggal belasan tahun yang lalu karena kecelakaan dan sekarang mereka berada didepannya. Hal apa lagi ini?

Mereka bangkit dari kubur? Atau mereka memang tidak pernah meninggal?!

Jiyeon menutup mulutnya tidak percaya, tangisan keras mulai keluar dari mulutnya. Air matanya berjatuhan membuat mereka menjadi perhatian, Jiyeon berjalan mundur sambil berusaha meredam suara tangisnya yang semakin besar dan menatap kedua wajah yang ia cintai hampir seumur hidupnya.

Rose berdiri mematung didekat Jiyeon dan ikut menatap Yoochun dan Tae hee. Saat menatap yeoja dikursi roda itu, entah mengapa Rose tahu yeoja itu. Tidak sulit, yeoja dikursi roda itu memiliki kemiripan yang begitu sama dengan Jiyeon.

***

Yoochun mendorong kursi roda Tae Hee , hari ini mereka pergi kerumah sakit untuk melakukan terapi pada kedua kaki Tae Hee. Dokter mengatakan bahwa masih ada harapan untuk Tae Hee agar yeoja itu dapat berjalan lagi.

Yoochun menatap kearah ponselnya dan menerima pesan dari salah satu detektif yang ia sewa dan mereka berhasil melacak keberadaan Jiyeon. Yoochun menatap miris kearah ponselnya, dipesan itu terdapat banyak data yang ia ketahui dan salah satunya cukup menghantam dirinya.

Puterinya sudah menikah beberapa bulan lalu, dan keinginannya sejak dulu untuk menjadi pendamping puterinya buyar begitu saja. Yoochun tersenyum mencoba kuat pada Tae Hee yang kini menatapnya dari kasur diruangan dokter yang melakukan terapi pada kaki Tae Hee, Tae Hee menatap Yoochun seolah meminta penjelasan dan hanya dijawab dengan senyuman.

Kemudian Yoochun kembali membaca data itu dan menemukan hal mengejutkan lainnya, gadis kecilnya sekarang sudah mengandung. Baru kemarin rasanya ia bertemu Jiyeon dengan tubuh kecil dan boneka teddy bear ditangan kanannya dan bersikap begitu manja padanya. Dan selalu menganggapnya sebagai satu-satunya namja dan appa yang ia sayangi dihidupnya.

” Dia sudah menikah.” Hanya itu yang dapat keluar dari bibir Yoochun membuat Tae Hee menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. ” Dan sedang mengandung sekarang.” Hanya itu yang cukup membuat Tae Hee sekarang menangis, kedua orang itu saling menatap dan mencoba menahan tangis mereka. Mereka bahagia dengan kabar itu namun kesedihan tentu saja tidak dapat mereka bendung, mereka menyadari banyak waktu yang sudah terlewatkan oleh mereka.

” kapan kita akan menemuinya?”

” segera, aku sudah mendapatkan alamatnya. Kita akan menemuinya.” Jawab Yoochun yakin. Tae hee tersenyum.

” apakah ia akan menerima kita?” Tanya Yoochun.

” Mengapa kau berpikir begitu? Ia tentu saja menerima kita, ia adalah Jiyeon. Dia pasti akan menerima kita, Jiyeon selalu berpikir dengan kepala dingin dan tidak gampang terbawa emosi. Itulah puteriku.”

” kita akan menjelaskan semuanya , aku yakin ia dapat mengerti.” Ucap Tae Hee kembali meyakinkan dan dijawab dengan anggukan oleh Yoochun. Yoochun membuka sebuah foto yang ikut dikirimkan bersama data itu, disana seorang yeoja berdiri dengan wajah bahagia dengan seorang namja disampingnya. Namja itu choi Minho, namja yang menatap anaknya dengan tatapan penuh cinta.

Setelah selesai terapi, Yoochun menebus beberapa obat untuk Tae Hee berupa vitamin-vitamin untuk mengembalikan beberapa daya tahan tubuh yang hilang. Yoochun berjalan kearah Tae Hee yang menunggunya diatas kursi roda, Yoochun mengulurkan plastik obat ditangannya pada Tae Hee yang menerimanya dengan senyuman yang selalu hinggap dibibirnya.

Sebuah tarikan ditangannya membuatnya berbalik, seorang yeoja cantik berdiri dibelakangnya dengan wajah terkejut luar biasa. Yoochun merasa tubuhnya kaku tidak dapat bergerak, untuk pertama kali setelah sekian belas tahun ia melihat puterinya. Yeoja itu tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik persis seperti Tae hee.

Tae Hee ikut berbalik dan sama seperti dirinya, Tae hee ikut terdiam membisu melihat puterinya.

Jiyeon berjalan mundur sambil menutup mulutnya yang mengeluarkan suara tangis keras, yeoja itu menatap kedua orang tuanya dengan wajah tidak percaya. Yoochun merentangkan tangannya, menanti puterinya berlari kearahnya dan memeluknya seperti dulu saat Jiyeon kecil. Saat Jiyeon dengan baju pink kesukaannya menyambut Yoochun atau saat Tae Hee dan Jiyeon kecil berkunjung ke kantornya. Yoochun selalu merentangkan tangannya saat bertemu jiyeon dulu.

” ka..kalian?” Jiyeon menggeleng tidak percaya. Tae Hee ikut merentangkan tangannya seolah-olah memanggil anaknya untuk mendekat.

” kemari sayang, eomma merindukanmu.”

” ini..ini…tid..tidak mungkin..”

Jiyeon berlari kearah appanya dan menabrak tubuh yoochun dengan keras. Ia memeluk Yoochun dengan erat dan menumpahkan semua tangisnya, Tae hee menggenggam tangan Jiyeon. Jiyeon melepaskan pelukannya pada Yoochun dan bergantian memeluk eommanya yang duduk dikursi roda.

” kemana kalian selama ini?” Tanya Jiyeon dengan menangis.”aku melewati hidup dengan sangat berat.” Jiyeon menangis sambil melanjutkam ucapannya. ” mereka menyiksaku.” Jiyeon menumpahkan semua kekecewaannya.

” Maafkan kami Jiyeon, demi tuhan kami tidak pernah berniat meninggalkanmu. Kami akan menjelaskan semuanya.” Tae hee memeluk Jiyeon. ” oh! Anakku!”

” aku mengira kalian sudah meninggal, aku kira aku sudah tidak memiliki siapapun didunia ini.”

” maafkan kami karena kau harus melewati cobaan yang begitu berat.”

***

Luna menyaksikan pertemuan keluarga itu dengan senyum antara miris dan penuh kebencian, ia tidak menyangka bahwa pertemuan keluarga itu akan secepat ini dan bagaimana bisa tae hee bertemu dengan Yoochun? Beribu pertanyaan hinggap dikepalanya.

Sejak tadi ia mengikuti Jiyeon, rencananya hampir berhasil namun tak disangka yeoja itu memiliki uang yang lumayan banyak untuk membiayai Minho. Luna sebenarnya ingin menjebak Jiyeon, ia berpikir jika Jiyeon tidak memiliki uang sampai batas waktu yang ditentukan yeoja itu tidak akan bisa menolak uang dari Luna dengan imbalan Jiyeon harus merelakan Minho untuknya. Namun, rencana tetaplah rencana dan semua hancur dalam sekejab.

Ya, ia jatuh cinta pada Minho. Semua yeoja tahu betapa tampan dan mempesona namja itu, dengan otaknya yang cerdas dan tubuhnya yang tinggi tegap berotot. Semua yeoja pasti bermimpi memiliki namja setampan seorang Choi Minho.

Setelah pertemuan keluarga itu, Luna tahu bahwa jalannya untuk menghancurkan Jiyeon semakin tertutup. Dengan munculnya Yoochun, namja itu tidak akan membiarkan Luna menyakiti Jiyeon. Luna tersenyum kecut, ia membenci appa dan eommanya serta Jiyeon lebih dari apapun dan ia akan menghancurkan mereka.

Ia berjalan menjauh dengan dua bodyguard dibelakangnya.

Tbc

67 thoughts on “All Of You : 12.Baby

  1. antara seneng dan sedih.seneng nya minji dah nikah and jiyeon ketemu ortunya.sedih nya kenapa harus ada cobaan lagi . minho tar ga amnesia kan? kasihan jiyeon .tar luna yng ngambil kesempatan .huh jahat banget tuh unnienya.moga cepet dapat karma ..setidaknya sekarang ada eomma appanya yng kan ngejaga jiyeon ..

  2. Eonni jangan pernah berpikir membuat minho amnesia yg kyk d film2..jebal..kykx minho gk kehilangan harta x atau semacamx gitu,saya tahu minho dan gk mungkin kan dia dg mudahx dikalahkan.

    Ya ampun park luna jngn berpikir bisa menaklukan minho ya…jd emosi sendiri.next eon.

  3. akhirnyaa next jugaa , minho sabar bgt dehh untung aja ada cincin itu jd luna gk jd ma rencananya …
    wahh pertemuann nya bikin nyesek , seneng sekaligus sedihh
    luna apa.apaan melenceng bgt sih tu ckck
    ah aku next ya thor

  4. Chukkae jiyeon ^^)
    Krna udh mengandung bayi mu dengan bayi minho ^^)
    Nae turut bahagia krna neo udh brtemu dngab kedua orng tua mu ^^)
    Tpi sabar ya jiyi, pasti minho slamat dan snoga minho nggak lupa ingatan

  5. Hidup sederhana tp Bhgia ni bgs jg.. Sng bgt minho nikahi jiyi,
    Minho jd suami yg sgt hebat n slalu utama kn istri naa.
    What!!! Moga minho gk amnesia..
    Sedih n terharu.. Akhirnya ortu n anak berjumpa jg.. 😢 smpi nangis baca na

  6. psikony minho ud sembuh yaa…
    author… lanjutin dong
    a b c d e f g……… aku kecantol/? sm ff ini
    aku bacany smbil dgn john legend All of me
    hiksss jd baperr :”’
    lnjutin dong

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s