All Of You : 3. Nothing

image

Part 3

Note : sebenarnya author bingung mau ngela jutin ini fanfiction atau engga mengingat lumayan banyak yang protes dan ngeri membaca Fanfiction genre psyco. Author udah punya pikiran untuk tidak melanjutkannya. Menurut kalian bagaimana hapus? Atau ganti dengan ff lainnya?

***

” Apa yang terjadi pada lehermu? Apakah kau di rampok. Luka dilehermu lumayan dalam” Ucap Sooyoung sambil membersihkan luka Jiyeon, Jiyeon menyerit sedikit.

” Aku tidak sengaja menabrak sesuatu membuatnya menggores leherku, apakah terlihat benar-benar parah”

” Ya, jika lebih dalam aku yakin akan mengenai saraf dilehermu dan kau harus mengucapkan selamat tinggal pada dunia. Seharusnya kau lebih hati-hati Jiyeon, kau bisa melukai dirimu sendiri dengan sikap yang ceroboh seperti itu.”

Jiyeon tersenyum kecil mendengar omelan sahabatnya itu, hanya sooyoung yang ia miliki. Mereka adalah tetangga, Jiyeon dtinggal didepan apartement Sooyoung dan mereka menjadi semakin dekat dan bahkan sudah seperti saudara. Sooyoung sangat baik padanya.

” Arraseo, aku tahu Sooyoung. Maafkan aku ya”

” Lain kali kau harus hati-hati awas saja jika aku menemukanmu tergeletak tak berdaya di apartement mu karena tidak sengaja tersangkut sesuatu mungkin” Canda Sooyoung dan Jiyeon tertawa mendengarnya.

***

Minho duduk didalam mobilnya sambil mengamati depan rumah sakit itu, setelah satu jam lebih seorang yeoja keluar dengan perban putih dilehernya. Yeoja itu terlihat tersenyum kemudian memanggil taksi, Minho tidak bisa percaya bagaimana bisa ia tersenyum saat ia hampir saja dibunuh? Yeoja aneh.

Minho mencengkram setir mobilnya dengan kencang tanpa ia sadari, hingga buku jarinya mulai memutih.

Apa yang ia lakukan? Mengapa ia malah berhenti dan malah membiarkan yeoja itu pergi? Seharunsya ia membunuh yeoja itu. Tidah seharusnya ia luluh dengan tatapan yeoja itu, ia seharusnya tidak seperti ini..

Semua yeoja itu sama, mereka hanya memikirkan kepentingan mereka sendiri. Mereka hanya ingin menyakitimu, mereka selalu meninggalkanmu. Mereka tidak pantas hidup, mereka tidak berguna, mereka hanya pantas untuk dipermainkan.

***

Jiyeon duduk dengan santai didalam taksi dan kemudian mengeluarkan ponselnya, terdapat foto seorang namja menghiasi wallpapernya. Foto yang ia ambil secara diam-diam, namja ini sangat tampan walaupun dalam keadaan candid.

Ia menyukainya

Walaupun harus disakiti, Jiyeon tahu namja itu membutuhkannya seperti ayahnya membutuhkan ibunya. Ibunya selalu mengatakan bahwa jika ada orang yang memiliki penyakit seperti ayahnya, ia harus membantu orang itu apalagi jika orang itu adalah orang yang ia sukai tidak ia rasa ia sudah jatuh cinta pada Minho, perasaan ini tidak pernah ia rasakan kepada siapun sebelumnya hanya pada namja itu.

‘ Aku akan membuatmu menyukai ku Minho, aku akan menyembuhkanmu. Aku akan bersamamu, seperti eomma bersama appa’

-All of you-

” Perkenalkan aku sekretaris baru disini. Namaku Rose” Jiyeon menatap yeoja didepannya dengan sedikit terkejut, sekretaris baru? Apakah ia dipecat, mengapa ia tidak diberikan surat pemecatan atau sejenisnya? Tetapi mengapa meja sekretaris ada dua?

Rose, ia cantik dengan tinggi tubuh yang Jiyeon yakini lebih dari 178 cm. Tubuhnya indah bagaikan model dan juga kulitnya seputih susu, Jiyeon yakin gadis ini keturunan Korea , tetapi ia tidak tahu yang lainnya. Mungkin ia blasteran jerman?

” Aku tidak menggantikanmu, aku sekretaris dua. Salam kenal”

” Aku Park Jiyeon, senang bertemu denganmu.” Gadis itu tersenyum. Jiyeon balas tersenyum dengan kaku.

***

” Siapkan berkas-berkas untuk rapat hari ini, kau sudah menyiapkan data yang ku minta?” Minho berbicara pada Rose, Rose mengangguk dengan bersemangat dan menyerahkan berkas yang diminta Minho. Minho kemudian menatap kearah Jiyeon yang sedang mengerjakan sesuatu.

” Jiyeon, kau ikut denganku untuk rapat kali ini”

” Baik, Sajangnim”

Jiyeon berdiri kemudian membawa tasnya dan mengambil berkas dari tangan Minho. Minho hanya menatapnya datar kemudian berjalan lebih dahulu menuju lift diikuti oleh Jiyeon yang sedikit berlari menyamakan langkah kaki Minho.

Mereka sampai diruang rapat, semua orang diruangan ini rata-rata pria berkepala 4 , tubuh mereka gemuk dan kepala mereka terlihat akan botak. Beberapa dari mereka ada beberapa yeoja cantik yang terlihat memakai pakaian mahal.

Mereka berdiri dan membungkuk kepada Minho, masing-masing orang ini adalah wakil Minho diperusahaannya diberbagai belahan dunia. Mereka memegang perusahaan itu saat Minho tidak disana. Tetapi tentu saja perusahaan itu tetap milik Minho.

Minho duduk disebuah kursi ditengah-tengah meja yang membentuk bulat itu, Jiyeon menatap kursi kosong disamping Minho dan dengan gugup duduk dikursi itu. Mengapa ia dibawa ke rapat kali ini? Tidak ada sekretaris disini, disini hanya ada para petinggi perusahaan dan mengapa ia harus ikut?

Semua mata melirikku dengan sembunyi-sembunyi dan aku balas menatap mereka dengan bingung. Tetapi aku hanya diam saja.

Rapat dimulai, mereka mulai mengajukkan saran-saran tentang proses kerja diperusahaan yang ada. Minho memberikan sarannya dan hampir semua yang ada diruangan itu menyetujuinya.

” Aku rasa akan lebih efektif jika kita menyiapkan meja siap pakai, kita akan melengkapinya dengan komputer canggih, printer, dan berbagai alat yang menunjang. Yang dimaksud dengan meja siap pakai disini adalah, para karyawan tidak memiliki meja tetap. Mereka akan duduk dimana pun mereka mau, seperti siapa duluan dia dapat. Aku rasa hal ini sangat simple dan juga banyak perusahaan yang muali menerapkan metode ini” Ucap Minho sambil menatap berkas ditangannya , para petinggi terlihat mengangguk setuju.

” Tetapi kau tidak bisa begitu, kau akan menghilangkan semangat kerja mereka” Jiyeon langsung menutup mulutnya dengan bodoh. Lagi-lagi ia mengucapkan kata-kata yang seharusnya tidak ia ucapkan, semua mata kini menatapnya dengan tatapan aneh dan tidak suka.

” Apakah kau tahu bahwa tidak sopan jika memotong perkataan CEO” Ucap salah seorang yeoja cantik sambil menatap Jiyeon dengan sinis.

” Mengapa kau tidak setuju? Apakah kami boleh mendengar pendapatmu?” Tanya Minho lalu duduk dan mempersilahkan Jiyeon untuk menjelaskan. Jiyeon menatap Minho dengan gugup dan namja itu hanya diam sambil menunggu. Aish!

” Jika kita menggunakan sistem meja siap pakai, itu hanya akan membuat para karyawan tidak bersemangat kerja. Apakah kalian tahu? Jika mereka lelah bekerja mereka akan menatap kearah foto dilayar komputer mereka, foto istri, anak, ataupun keluarga mereka. Mereka bisa lebih bersemangat saat menempelkan foto-foto itu ditempat duduk mereka, dan itu akan membuat mereka bertambah kreatif. Dan coba kita bayangkan jika mereka memakai meja siap pakai mereka tidak akan bersemangat, itu bukan meja mereka. Mereka menyukai meja mereka yang penuh dengan foto keluarga mereka. Alangkah lebih baik perusahaan menambahkan dekorasi, seperti menaruh bunga segar ditengah-tengah tempat bekerja dan juga menaruh beberapa dekorasi seperti akuarium. Itu bisa membuat mereka berpikir kreatif”

” Bukankah itu cara kerja yang ketinggalan jaman? Maaf , tetapi itu tidak efektif dan memakai banyak waktu. Perusahaan ini adalah perusahaan multiinternational dan …”

” Ayahku selalu mengatakan, bahwa dalam membangun sebuah perusahaan kau harus menghargai keinginan karyawanmu. Ayahku selalu mendengar keluh kesah dan meminta pendapat para karyawan dikantornya, jika kau ingin semua berhasil kau harus bisa bekerjasama dengan karyawanmu. Sebuah rencana tidak akan berjalan lancar jika salah satu merasa terbebani.” ucap Jiyeon dengan yakin sambil mengingat apa yang diucapkan oleh mendiang ayahnya dulu.

” Siapa kau? Bukan kau yang menentukan keputusan ini” Ucap perempuan itu dengan nada tidak suka sambil menatap Jiyeon dengan tidak suka dan sinis.

” Keputusan kali ini ada ditangannya, jadi aku akan mendengarkan pendapatnya. Bagaimana menurutmu Jiyeon? Apa kau setuju dengan meja siap pakai atau menambahkan dekorasi seperti yang kau katakan?” Semua ang diruangan itu saling menatap satu sama lain, Minho tidak pernah bertanya akan pendapat orang. Ia tidak pernah mendengar pendapat karena ia selalu menanganinya sendiri apalagi namja itu terlihat sangat melindungi jiyeon. Semua orang mengerutkan kening mereka sambil menatap satu sama lain.

” Lebih baik, kau menambahkan dekorasinya. Mungkin mengubah catnya menjadi abu-abu dicampur hitam biar terlihat lebih elegant dan juga tambahlah beberapa vas bunga, jangan lupa juga mungkin akuarium. Juga dengan jendela , ada lebih baiknya kau memasangkan tirai putih tembus pandang, itu akan terlihat lebih segar” Ucap Jiyeon dengan bersemangat, ia memang sudah memperhatikan kantor ini. Tempat ini memang berkelas tetapi begitu muram dan ia kadang melihat bagaimana para karyawan menatap bosan kearah ruangan mereka sendiri bahkan ada yang mengomentari bahwa cat berwarna hitam itu membosankan dan membuat mereka tidak bisa mendapatakan kreativitas.

” Baiklah, jika itu pendapatmu. Mr. Kim kau sudah mendengarnya, kau bisa mulai bekerja mengubah dekorasinya.”

” Baik Sajangnim”

Jiyeon tersenyum , setidaknya perusahaan ini tidak lagi terlalu suram.

***

Keesokan paginya, Jiyeon melihat para karyawan tersenyum dengan cerah sambil menatap akuarium ditengah-tengah kantor dengan senang dan wajah mereka terlihat lebih fresh. Akuarium dengan model membulat itu terlihat begitu besar dengan berbagai ikan didalamnya, bahkan ikan-ikan besar yang jiyeon yakin berhagra mahal.

Kemudian ada beberapa pas bunga yang ditaruh diatas meja para karyawan. Bunga mawar putih dan merah bahkan juga ada bunga anggrek? Benar-benar menyegarkan pikir Jiyeon senang.

Jiyeon masuk kedalam lift kembali dan naik menuju lantai eksekutif tempat lantai CEO.

Ia keluar dari dalam lift sambil bersenandung kecil dan menyapa Rose yang sudah datang lebih dulu darinya. Rose tersenyum padanya dan balas menyapa, Rose perempuan yang ramah dan baik tentunya.

Tiba-tiba telepon dimeja Jiyeon berbunyi.

” Ya Sajangnim?”

” hari ini kita akan berangkat ke Paris, ada Fashion Show yang harus aku hadiri disana. Siapkan barang-barangmu, aku akan meminta supirku menjemputmu sore ini. Kau boleh pulang sekarang untuk berkemas”

” Nde”

Jiyeon menutup sambungan telepon itu , dan menatap kearah Rose yang sedang serius mengerjakan sesuatu. Jiyeon memasukkan berkas-berkas kedalam tasnya kemudian berjalan kearah meja Rose.

” Rose aku akan pergi untuk beberapa hari ke Paris bersama Sajangnim, apakah kau bisa mengerjakan beebrapa profosalku? Sedikit lagi akan selesai.”

” Arraseo, kau bisa mengandalkanku. Selamat bersenang-senang”

” Aku tidak bersenang-senang disana Rose, aku hanya ikut sebagai sekretaris. Aku pergi dulu. Gomawo”

” Nde, berhati-hatilah Jiyeon” Rose tersenyum riang sambil melambaikan tangannya. Jiyeon balas melambai.

***

‘Wow’

Jiyeon menganga lebar saat melihat pesawat didepannya, pesawat Airbus A380 itu terlihat begitu elegan dan mahal. Jiyeon pernah membaca tentang pesawat ini, pesawat ini dilelang dengan harga mahal membuat para konglomerat dunia memperebutkannya dan pesawat ini jatuh ketangan Minho dengan harga lelang 500 juta US Dollar.

Pilot dan pramugari pesawat itu terlihat berdiri sejajar dan memberikan hormat kepada Minho. Minho hanya diam dan berjalan masuk, ia terlihat tampan dengan jas hitam nya yang terlihat mahal dan juga maskulin.

Jiyeon ikut masuk kedalam pesawat itu sambil menatap dalam pesawat itu dengan sedikit menganga ini pertama kalinya ia menaiki pesawat dengan dalam yang begitu mewah seakan dalam pesawat itu terbuat dari emas.

” Liur mu menetes” Ucap Minho dengan nada dingin seperti biasa. Jiyeon langsung menutup mulutnya dan mengusapnya tetapi kemudian ia menatap kearah Minho dengan kesal.

Namja itu terkekeh dan tersenyum. DIA TERSENYUM!

” Kau tersenyum” Jiyeon mendekatkan wajahnya kearah wajah Minho sambil menatap namja itu dengan terpesona. Mereka duduk berhadapan melihat Jiyeon yang semakin mendekatkan wajahnya , Minho mendorong kepala yeoja itu kembali membuat Jiyeon mendengus.

” Sering-seringlah tersenyum kau terlihat tampan, aku hampir saja mencium mu” Ucap Jiyeon dengan bodoh sambil tersenyum lebar dan memperlihatkan gigi putihnya. Jiyeon menatap kearah luar dan melihat seoul yang semkain mengecil, ia mendesah pelan dan bersandar dikursi empuknya. Tanpa ia sadari sejak tadi Minho terus menatapnya dengan tatapan gelapnya, Minho melihat mata Jiyeon mulai mengecil dan gadis itu tertidur dengan tenangnya seakan tidak menyadari bahwa ia sedang berada disatu ruagan yang sama dengan seorang Psikopat.

Aku tidak takut padamu

Minho kembali teringat ucapan Jiyeon, bahkan saat Minho melukai lehernya dengan pisau. Yeoja itu dengan berani menantangnya dan seakan Minho hanya bermain-main meletakkan pisau itu dilehernya. Seakan Minho tidak akan melakukannya. Ya dia tidak akan melakukannya.

Jiyeon perempuan pertama yang membuatnya tidak bisa membunuh. Ada sesuatu diantara mereka yang terasa mengikat dan itu membuat Minho merasa muak dan ia ingin membunuh yeoja itu, tetapi tidak bisa.

***

” Oh My God” Jiyeon menatap pemandangan luar dengan takjub. Minho hanya diam sambil berkonsentrasi pada berkas ditangannya. Jiyeon terlihat seperti anak kecil sambil menatap keluar jendela mobil dan sedikit berteriak karena kegirangan berada di paris.
Minho sudah terlalu sering kemari, jadi ia sudah biasa dengan ke romantisan Paris.

Tiba-tiba ponsel Minho berdering, ia mengangkatnya dan mendengar suara lembut diujung sana.

” Kau akan menghadiri acara fashion Show kan?”

” Ya, aku sudah berada di Paris”

” Aku sangat senang kau bersedia hadir. Hmm… Minho apakah malam ini?”
” Sepertinya tidak, ada beberapa urusan yang harus ku kerjakan Chloe. Aku akan bertemu denganmu besok”

” Padahal aku sudah merindukanmu, belakangan ini kau sibuk dan tidak pernah membalas pesanku walaupun singkat. Saat aku ke seoul seminggu yang lalu kau bahkan tidak mengunjungiku, aku merindukanmu Honey”

” Sudahlah, besok kita akan bertemu. Good Night”

Saat Minho menoleh kearah Jiyeon, gadis itu sudah tertidur. Sepertinya Jiyeon sangat menyukai tidur, bahkan ia tidak memilih tempat jika mengantuk. Ia langsung tidur disembarang tempat, Minho menggeleng pelan dan dengan geli menatap Jiyeon.

Minho melepaskan jas yang ia pakai kemudian menyelimuti tubuh Jiyeon. Gadis itu tersenyum didalam tidurnya.

***

” Apakah kita akan tidur dikamar yang sama” Jiyeon menatap ngeri depan pintu kamar VVIP itu. Minho hanya mendengus pelan kemudian membukanya, Jiyeon masih terlihat gugup di belakang Minho dengan wajah yang memerah seperti udang. Minho tidak mengerti dengan otak para wanita, mereka terlalu drama dan bahkan membayangkan hal yang tidak-tidak dan Jiyeon salah satunya.

” Waw. Kamar ini begitu besar, huaa! Ada 3 kamar disini, aku akan menempati salah satunya.” Jiyeon memasukki kamar-kamar itu dan keluar.

” kamar sebelah kanan tempatmu, itu kamar paling bagus walaupun yang lainnya tidak kalah memukau. ” Ucap Jiyeon dengan senang kemudian menarik kopernya masuk kedalam satu kamar. Minho hanya menggeleng pelan dan menarik koper miliknya, seharusnya Jiyeon yang membawakan koper untuknya tetapi yeoja itu dengan tidak tahu diri malah masuk duluan kedalam kamarnya . Minho hanya tersenyum dengan geli.

Jiyeon melepaskan semua pakaiannya kemudian dengan berteriak girang ia masuk kedalam air yang mengeluarkan bau bunga mawar itu dan ia tersenyum saat merasakan air hangat itu mengenai tubuhnya. Ia tersenyum kemudian bermain dengan buih-biuh sabun dan meniupnya sambil tersenyum dengan senang tanpa menyadari pintu kamar mandi terbuka kecil dan sepasang mata menatapnya tanpa berkedip.

***

Minho menghela nafas pelan dan berbalik, ia menyesal masuk ke kamar Jiyeon. Ia merasakan sesuatu yang panas mulai menjalar ditubuhnya dan sesuatu mulai menegak dibawah sana menginginkan sesuatu yang seharusnya tidak di inginkannya.

Minho memilih pergi ke Club yang biasa ia datangi, ia menekan beberapa nomor dan meletakkan ponsel itu ditelinganya. Beberapa saat kemudian terdengar suara merdu seorang yeoja.

” Chloe, sepertinya aku berubah pikiran. Aku akan tiba di Bar sekitar 30 menit lagi”

” Benarkah? Aku akan segera kesana” Terdengar nada suara girang dari Chloe. Seperti biasa, ia akan menghabiskan malam dengan Chloe dan menghabiskan beberapa besar uang untuk membelikan barang mahal untuk wanita itu. Chloe wanita dewasa dengan tubuh berbentuk dan memukau, ia pernah menghabiskan 2 malam bersama wanita itu dan wanita itu sangat berpengalaman. Tidak pernah ia habiskan malamnya di Paris sendirian, biasanya jika kemari ia akan menghubungi Chloe untuk menemaninya .

Seperti yang pernah ia katakan, ia tidak pernah menganggap yeoja lebih dari mainan. Mereka memang pantas dipermainkan, mereka memang diciptakan untuk memuaskan hasrat lelaki.

Minho keluar dari kamar hotelnya , ia meninggalkan 4 Bodyguardnya untuk berjaga didepan kamar hotel. Biar bagaimanapun, ia adalah pengusaha dan banyak yang mengincar nyawanya dan orang-orang disekitarnya. Ia membawa 3 Bodyguard untuk melindunginya.

***

” Minho, kau ada didalam? ” Jiyeon bertanya dengan pelan sambil mengetuk pintu didepannya. Karena tidak mendapatkan jawaban ia membukanya dan mendapati kamar itu kosong. Jiyeon menatap jam , sudah hampir lewat tengah malam dan Minho tidak ada didalam kamarnya.

Jiyeon memegangi perutnya yang terasa keram, bagaimana ini? Mengapa ia harus datang bulan disaat yang tidak tepat. Ia tidak mengenal paris dan ia tidak tahu harus membeli pembalut dimana? Jiyeon mengeluarkan ponselnya dan dompetnya , ada beberapa lembar uang didompetnya. Saat turun dari pesawat Minho memberikan beberapa lembar uang yang senilai dengan 200 US Dollar dan sebuah kredit card yang Jiyeon ketahui tidak mempunyai nilai limit. Buat apa namja itu memberikannya fasilitas seperti ini? Apakah sekretaris sebelumnya juga diberikan kartu bebas belanja ?

Dengan berbekal Maps diponselnya, ia berjalan keluar dengan baju tebalnya karena cuaca paris sangat dingin pada malam hari. Ia akan berjalan keluar dan memberhentikan taksi kemudian menunju supermarket terdekat dan pulang ke hotel kembali, minho tidak akan tahu jika ia pergi. Minho sudah mengatakan pada Jiyeon untuk tidak pergi kemanapun tanpa dirinya tetapi ini benar-benar masalah serius. Ia harus membeli pembalut!

Saat Jiyeon membuka pintu ia menemukan 4 pengawal Minho berdiri dengan tegap didepan pintu kamar. Jiyeon dengan polos berjalan melewati mereka hingga dua orang bodyguard menahannya.

” Tuan berpesan bahwa anda tidak boleh meninggalkan kamar hotel saat ia tidak ada.”

” Aku hanya akan ke Supermarket sebentar.” Ucap Jiyeon memberikan alasan

” tetapi anda tidak di ijinkan keluar , masuk kembali kedalam atau kami akan memakai cara kekerasan”

” Aku tidak mau” Jiyeon berlari , ia tidak mungkin membawa namja-namja itu untuk membeli pembalut. Minho kira ia siapa bisa melarang Jiyeon? Masa ia harus dikurung dan dimarahi hanya karena membeli kebutuhan mendasarnya. Jiyeon terengah-engah dan masuk kedalam lift dan mereka hampir saja menangkapnya hingga lift lebih dahulu tertutup membuat Jiyeon mendesah lega tetapi kemudian ia menyadari mereka bisa melewati tangga! Oh Sial!

Jiyeon dengan segera berlari saat pintu terbuka dan ia melihat anak buah Minho, ia dengan segera bersembunyi dibalik patung pancuran besar. Kemudian saat mereka berlari ke dalam , Jiyeon dengan segera berlari keluar dan memanggil taksi. Ia menghela nafas lega.

Dengan kemampuan bahasa inggris yang sedikit, Jiyeon akhirnya mengatakan dengan terpatah-patah bahwa ia ingin ke tempat perbelanjaan.

Jiyeon menatap kearah luar dengan ceria dan kemudian saat mereka sampai, jiyeon memberikan beberapa lembar uang dan turun. Ia masuk kedalam Super Market besar itu sambil menatap tempat itu dengan terpesona.

***

Saat bibir Chloe mulai menyelusuri pipi Minho, tiba-tiba ponsel Minho berdering. Membuat Chloe menggerutu, Minho menatap ponselnya dan melihat nama salah satu bodyguard nya disana. Minho berjalan keluar dari keramaian Bar itu diikuti oleh Chloe yang memeluknya dari belakang dan menyelusuri dada bidang Minho dengan tergila-gila.

Minho mengangkatnya dan mendengarkan apa yang dikatakan oleh anak buahnya, seketika rahangnya menegang dan mengeras. Ia mengutuk pelan kemudian melepaskan pelukan Chloe dari tubuhnya membuat yeoja itu hampir saja terjatuh, Minho menghela nafas pelan kemudian meronggoh kantong celananya dan mengambil sebuah Credit Card.

” belanja lah sesuka mu, aku harus pergi” Minho berjalan keluar dengan di ikuti bodyguardnya. Ia menekan beberapa nomor dan Jiyeon tidak mengangkat panggilannya.

Apakah yeoja itu tidak tahu bagaimana bahaya nya Paris jika pergi seorang diri?

Minho mulai menyebarkan para pengawalnya untuk mencari Jiyeon, sedangkan ia pergi kembali ke Hotel sambil terus berusaha menghubungi ponsel jiyeon. Keringat mulai membasahi keningnya, ia berjanji akan mengurung dan mengikat yeoja itu sampai ia berjanji tidak akan pergi sembarangan lagi.

***

Jiyeon memasukkan makanan-makanan kedalam trolli dorongnya, ia menatap tumpukan makanan itu dengan puas kemudian kembali mencari beberapa makanan yang tidak pernah ia makan dan tidak ada di Seoul. Tetapi ia tidak lupa untuk membeli pembalut.

Hingga sebuah tangan menahannya, ia menoleh dan terperangah.

” Bibi”

” Apa yang kau lakukan disini? Kami sudah mencarimu kemana-mana dan kau ternyata disini. Kau harus ikut dengan kami, kau tahu? Kau mempermalukan kami dengan kabur dari rumah saat pernikahanmu hanya beberapa hari lagi bersama putera kami” 

” Aku tidak sudi menikah dengan Woong Sik, dia bau dan menjijikkan. Apakah bibi tidak tahu? Ia pernah memakan upilnya sendiri” Jiyeon bergidik membayangkannya. Yeoja tua itu menariknya dan Jiyeon berhasil melepaskan diri dan tepat saat ia berbalik, Woong Sik si menjijikkan berdiri dengan senyum mengejek dan disampingnya pamannya berdiri dengan terkejut melihat kehadirannya disini.

” Aish! Mengapa aku harus bertemu kalian disaat yang tidak tepat” Kesal jiyeon sambil menghentakkan kakinya. Akhirnya ia melihat sebuah kesempatan, ia akan mendorong trollinya dengan cepat kemudian kabur dengan cepat.

Jiyeon berlari sambil mendorong trollinya dan ia mendengar suara tiga orang itu yang mulai mengejarnya membuat tatapan penasaran dari orang-orang disekitar. Ia berhenti mendorong saat melihat Hyemi, saudara di Woong Sik datang dari arah berlawanan dan sudah melihatnya. Ia sadar bahwa Minho benar, seharusnya ia tidak pergi sendiri.

Jiyeon berbelok dan berlari , hingga ia menemukan toilet. Ia bersembunyi dan mendengar gedoran keras, terdengar suara bibinya yang menendang pintu toilet membuat Jiyeon semakin ketakutan. Mereka akan membawanya dan mereka akan menikahkannya dengan si menjijikkan wong sik. Euh…

Jiyeon mengambil ponselnya dan ia hampir saja terlonjak kaget saat melihat

210 panggilan tak terjawab dan 100 pesan belum dibaca dan itu semua dari Minho.

Kemudian tidak lama ia melihat ponselnya berdering dan dengan cepat ia mengangkat, ia mendengar bentakkan dari ujung sana tetapi ia tidak memperdulikan kemarahan Minho. Namja itu harus segera menyelamatkannya jika tidak ia akan berakhir menjadi isteri Woong Sik. Euh.

” Aish! Jangan marah-marah disaat yang tidak tepat. Aku sedang dalam bahaya” Jiyeon mendengar suara Minho tertahan , ia berhenti meraung raung tidak jelas dan Jiyeon mendengar Minho bertanya dengan tidak sabar

” Apa yang terjadi padamu?”

” Aish! Jangan banyak bertanya, cepat kemari. Aku berada di Super Market Minnie Mie, mereka sudah menungguku dididepan toilet. Bisakah kau langsung kemari? Aku bisa dinikahkan , kau tidak mau bukan jika sekretarismu yang cantik ini menikah dengan orang lain”

” Apakah seseorang mencoba menyakitimu? Aku sudah berada didepan super market, dimana kau?”

” kau apa? Kau sudah berada didepan? Bagaimana bisa? Apakah kau manusia super?” Jiyeon bertanya dengan bingung.
” Jangan bercanda, katakan dimana kau sekarang Jiyeon.”

” Aku di Toilet, mereka sudah hampir membuka pintunya” Ucap Jiyeon dengan berbisik ngeri.

***

Pintu toilet terbuka, Jiyeon hampir saja menjerit saat wajah bibi dan pamannya muncul. Mereka menarik tangannya mencoba membawanya pergi, Jiyeon meronta sambil memeluk pintu toilet. Mereka membuat engsel toilet itu patah.

” Aku tidak mau menikah, lepaskan aku bibi”

” Tidak bisa, ayahmu sudah setuju kau akan menikah dengan puteraku” Ucap Bibinya membuat Jiyeon bergidik ngeri.

” Ayah ku bahkan memintaku untuk menjauhi Woong Sik, tidak mungkin ia malah menjodohkanku. Aku tidak akan membiarkan hartaku jatuh ketangan kalian, harta itu milik ku dan milik kedua orang tuaku. Lepaskan”

Tiba-tiba sebuah hantaman mengenai kepalanya, Jiyeon merasakan kepalanya pusing dan mulai berkunang-kunang. Terdengar kesiap kaget dan kemudian semua menjadi gelap.

” Hyemi mengapa kau memukulnya! Ia bisa meninggal”

” Aku hanya membuatnya pingsan eomma, jika kau menariknya dalam keadaan berontak kau akan membuat orang-orang curiga. Kita harus membawanya pergi dari sini” Ucap Hyemi berkacak pinggang dan menatap Jiyeon yang sudah terkapar pingsan. Kemudian beberapa namja berbadan kekar masuk membuat Hyemi dan orang tuanya saling menatap aneh.

Seorang namja tampan masuk, Hyemi menatap namja itu tanpa berkedip. Ini seperti Deja vu . Hyemi mendengar suara indah mulai mengalun saat tatapan namja itu bertemu dengannya, namja itu diam dan terlihat terfokus pada Jiyeon yang sudah terkapar dilantai.

Rahangnya mengeras.

” Siapa kalian? Apa yang kalian lakukan pada gadisku?” Minho membungkuk dan akan menggendong Jiyeon saat tiba-tiba yeoja berkepala 5 itu menahannya.

” Kau yang siapa. Kau akan membawa keponakanku pergi kemana? Gadismu? Dia akan menikah dengan puteraku Woong Sik”

” Jauhkan tanganmu dariku orang tua, atau aku akan menggunakan cara kasar” Suara Minho bergetar mengendalikan kemarahan. Perlahan Nyonya Park berjalan mundur dan menatap suaminya, kemudian menatap Minho dengan kesal.

Mata jiyeon bergerak dan Minho melihat Jiyeon mulai merintih kesakitan karena luka di ujung jidatnya yang terlihat memar. Minho menelan ludahnya dengan susah payah, sesuatu dari dalam dirinya mulai akan muncul dan kemudian ia merasakan tangan Jiyeon menepuk tangannya. Jiyeon membuka matanya dan menepuk pundak Minho dan menatap Minho seakan mencoba mengendalikan kemarah Minho. Minho menutup matanya sebentar.

” Siapa kalian sebenarnya” Tanya Minho sambil menatap 4 orang itu dengan tatapan mengintimidasi.

” Jiyeon adalah anak dari adikku. Jadi aku berhak membawanya, dan kau namja muda tidak tahu sopan santun. Sebaiknya kau menurunkannya dan memberikannya kepada kami, yeoja nakal ini sudah cukup membuat malu keluarga dengan kabur saat hari pernikahannya dengan puteraku. Jika kau tetap berusaha untuk melindunginya kami akan membuatmu menderita, kami bukan orang sembarangan. Kami bisa menghancurkan perusahaanmu” Ucap Nyonya Park dengan nada sombong, ya perusahaan peninggalan Yoochun memang benar-benar besar dan sekarang merekalah yang mengelolanya. Perusahaan itu benar-benar memberikan keuntungan besar bagi mereka, perusahaan terkaya kedua setelah miliki CHoi’s Group tentunya.

” Benarkah? Berapa harga perusahaanmu Nyonya? Aku akan membelinya”

” berani sekali kau!”

Minho kembali tersadar akan keadaan Jiyeon, ia harus segera membersihkan luka Jiyeon. Ia harus membawa Jiyeon kerumah sakit, yeoja itu nampak kesakitan dengan memar di dahinya.

” Tahan mereka, sementara aku akan membawa Jiyeon.”

Minho berjalan keluar, Nyonya Park terlihat berusaha keluar dan tiba-tiba saja Hyemi memegang tangannya dan menatap eommanya dengan tatapan takut. Sejak tadi Woong Sik dan Tuan Park juga terlihat diam dan menatap Minho dengan tatapan seperti melihat hantu.
” Dia Choi Minho, penyumbang dana terbesar diperusahaan.” Bisik Hyemi pelan

” Apa!”

***

” Aku tidak suka rumah sakit, aku mohon bawa aku kembali ke hotel” Jiyeon mengerang pelan dalam pelukan Minho, namja itu hanya diam sambil mempererat pelukannya pada tubuh Jiyeon. Jasnya sudah menyelimuti tubuh Jiyeon, ia merasakan kecemasan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

Hingga tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang basah dipangkuannya. Ia memegangnya dan terkejut saat melihat sairan berwarna merah kental berada ditangannya. Matanya menggelap dan Jiyeon sekarang sedang menatapnya menyadari bahwa kini tangan Minho sudah penuh dengan darah.

” M…Minho”

TBC

81 thoughts on “All Of You : 3. Nothing

  1. jangan di hapus thor, aku suka bgt sama ff ini. tiap hari nungguin kelanjutannya. pokoknya lanjut thor jgn diapus ff nya. jeballl..

  2. Eonnie!! Jangan dihapus:(
    Yang lain juga masih banyak yang mau membaca Ff eonnie yang ini:( kemarin kan Ff Minji udah dihapus eonnie:( jangan lagi dihapus dong eonnie:( selesaikan aja dulu eonnie:( pembaca yang lain masih ada yang suka kok eonnie jangan dihapus dong eonnie
    Ceritanya menarik jarang” dapat Ff Minji kayak begini
    Masih penasaran kapan minho mengakui bahwa Ia telah jatuh cinta sama jiyeon..
    Walaupun minho tidak menyadari bahwa sikap nya jelas sudah menunjukkan sikap bahwa jiyeon hanya miliknya:*
    Andwaeyoo jangan sampai jiyeon menikah dengan orang lain…jiyeon hanya menikah dengan minho
    Wah kira kira apa reaksi minho ya melihat cairan kental itu berada ditanganya:D dan bagaimana reaksi jiyeon:D eonnie pokoknya jangan dihapus dulu ya tolong pikirkan readers ya lain ya eonnie^-^
    Pokoknya ditunggu Next Chapter Fighting&Hwaiting!!

  3. jangan di hapus. walau sadis tapi ceritanya bagus. mending selesaikan aja. masih banyak yang baca ko.. benar ” lucu liat tingkah jiyeon, aww. minho mulai menyukai jiyeon namun lum sadar akan perasaan nya. ommo siapa itu yng terluka. jangan bilang minji luka Parah.. aiishh kenapa harus ketemu Bibi nya jiyeon sih. jadi ribetkan..

  4. Wakakaka… Si Minho kena darah apa yaa tuh :’v dohh jadi ngebayangin /plak

    Jangan dihapus Thor,lanjutt ajaa..
    Alurnya ceritanya udah keren kok..👍

  5. Jangan dihapus ya eon dan ttep dilanjut fanfic ini,,
    Biar kan mreka yg gak suka dan klo gk suka dg fanfic ini gak usah baca gitu aj kok pke protes sihh kan kasihan yg suka fanfic ini ,,,
    Tuh jiyeon ngapain pergi sendiri sih tpi ad untungnya krn minho gk jdi bermalan am chloe,,
    Tapi jiyo ktemu dg bibi nya ,,
    Enak aj mau nikahkan jiyi g anank nya,,
    APa itu darahhh ??? Oh ya kan jiyi lgi haid,,

  6. Ya jangan d hapus dong saeng ceritax seru ko’ aq mlahan suka banget ma ceritax emang sih agak menegangkan tapi itu yg buat eonnie suka ma nih ff malah tambah penasaran ,tapi di part ini lucu dengan semua kekonyolan “jiyi n dengan minho yg mulai lunak dengan menampilkan sedikit senyum mahalx jadi tambah seru, pokokx eonnie tunggu kelanjutanx jangan sampai d hapus please .

  7. Aahhhhh makin suka ceritanya ^^
    Aku bersyukur minho gagal main” sma tuh cwe bule ^^ ^u^
    Dan untungnya minho datang disaat yg tepat. Sebelum jiyeon dibawa sama keluarga bibi dan pamannya yang Gila Harta itu. . .
    Hahaha Darah apa itu. ..?^,~
    Jiyeon Eonni pasti malu ^^

  8. Omo omo omo
    Sumpah bikin dag dig dug nich eoooo
    Darah siapa itu yang
    Mmnuhi tangan minho
    Ampe menggelap mata minho…

  9. Haha apa itu darah datang bulan jiyeon ?? Haha gimana jadinya kalo minho tau. Penasaran nih, seru2 thor. Jangan kepikiran buat menghapusnya ya thor. Semangat nulisnya fighting !!

  10. Cuman jiyeon yg bisa mengontrol emosi minho. Aku suka banget sama karakter jiyeon disini cerewet tapi lucu hahaha,. Gimana reaksi minho yah pas liat darah kek gitu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s